Menjadi Gigolo & Dikelilingi Wanita Cantik

Menjadi Gigolo & Dikelilingi Wanita Cantik
Chapter 76 - Bersikap Biasa Saja


__ADS_3

Elang memejamkan matanya dengan rapat. Dia tentu merasa terkhianati terhadap apa yang sudah dilakukan Gusti dan Widy. Meskipun begitu, Elang memilih meredam amarah. Apalagi saat mengingat sakit hati yang dirinya rasakan sekarang tidak sebanding dengan pengalamannya dulu.


Alhasil Elang kembali duduk ke sofa sambil memegangi kepala. Dia bermain ponsel selagi menunggu Gusti dan Widy siuman.


Ketika dua jam berlalu, Gusti terbangun. Dia kaget sekali saat melihat keadaannya dan Widy.


"Sial!" Gusti meringiskan wajah sembari mencengkeram rambut dengan kuat. Merasa miris pada apa yang terjadi tadi malam.


"Cepat pakai baju dan celana! Kita harus cepat-cepat pergi dari sini!" cetus Elang.


Mata Gusti membulat sempurna saat mendengar suara Elang. Dia yakin temannya itu pasti akan marah.


"El! Aku bisa jelaskan!" Gusti berdiri dan bergegas mengenakan pakaian.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Semuanya sudah terjadi," sahut Elang.


"Tapi--"


"Ugh... Kepalaku pusing..." gumaman Widy memotong ucapan Gusti. Lelaki itu dan Elang segera menoleh ke arahnya. Widy tampak perlahan merubah posisi menjadi duduk.

__ADS_1


Pupil mata Gusti membesar saat bisa melihat badan polos Widy dari balik baju yang tak terkancing. Buru-buru Gusti mengambilkan pakaian cewek tersebut.


"Cepat pakai bajumu! Kata Elang kita harus segera pergi!" ujar Gusti seraya menyodorkan pakaian kepada Widy.


Mata Widy terbuka lebih lebar. Dia langsung ingat apa yang dilakukannya tadi malam kala melihat wajah Gusti. Ekspresi syok Widy terlihat jelas. Ia pun bergegas mengenakan pakaian.


"Sial! Sial!" maki Widy. Dia semakin panik ketika melihat Elang duduk santai di sofa. Lelaki itu terlihat menghisap sebatang rokok.


Setelah mengenakan pakaian lengkap, Widy langsung menghampiri Elang. "Aku akan jelaskan apa yang telah terjadi. Aku dan Gusti tak terkendali tadi malam. Semua itu hanya kesalahan!" jelasnya sambil memegangi salah satu tangan Elang.


"Aku tahu." Elang menjawab singkat. Ekspresi yang ditunjukkannya bahkan sangat ambigu. Dia terkesan biasa saja.


"Jadi kau tidak masalah dengan itu?" tanya Widy, menatap penuh harap. Hal serupa juga dilakukan Gusti. Lelaki itu sengaja diam karena ingin membiarkan Widy yang menjelaskan semuanya.


"Anjir! Bagus baru saja mengirimkan bayaran kita!" ungkap Elang. "Dan dia benar-benar membayar kita 3 milyar!" tambahnya.


"Benarkah?" Widy ikut senang mendengarnya. Dia juga merasa lega karena sepertinya Elang tak mempermasalahkan kesalahan yang dirinya lakukan bersama Gusti tadi malam.


Gusti pun tersenyum. Dia berharap Elang memang tidak marah kepadanya.

__ADS_1


Setelah berbenah, Gusti dan kawan-kawan pergi meninggalkan hotel. Dalam perjalanan, hanya ada keheningan. Hanya ada suara siulan Elang yang sibuk menyetir.


Gusti dan Widy terdiam karena merasa bersalah. Keduanya sejak tadi berusaha menemukan waktu yang tepat untuk bicara.


"El, apa kau benar-benar tidak masalah dengan--"


"Aku akan menepati janjiku, Gus. Aku akan memberikanmu 1 milyar karena kau sudah berani mencoba obat itu," pangkas Elang yang sepertinya disengaja. Dia seolah enggan membicarakan perihal kesalahan Gusti dan Widy tadi malam.


"Oke. Aku akan menunggu," sahut Gusti tergagap. "Tapi, El. Aku masih--"


"Kita sudah sampai di apartemenmu. Mawar pasti mencarimu, Gus." Sekali lagi Elang memotong perkataan Gusti. Hingga Gusti mengurungkan niat untuk membicarakan tentang tadi malam.


Gusti segera keluar dari mobil. Sungguh, dia sangat bingung dengan sikap Elang.


Kini tinggal Elang dan Widy berduaan di mobil. Widy menatap Elang dengan sudut matanya. "El..." panggilnya.


"Sebaiknya mulai sekarang kita berteman saja. Kau bisa terus melanjutkan pekerjaan sugar babymu. Carilah lelaki lain untuk dijadikan suami," kata Elang.


"El! Apa yang aku dan Gusti lakukan tadi malam hanya kesalahan. Lagi pula kami berdua dalam pengaruh obat! Kau juga! Justru kaulah orang yang membuat kami meminumnya!" Widy tidak terima hubungannya dan Elang berakhir.

__ADS_1


"Keputusanku sudah bulat," tanggap Elang tak acuh.


"Kita berdua bisa melupakannya. Aku mohon maafkan aku..." Widy memegangi lengan Elang. Air matanya seketika bercucuran.


__ADS_2