
Alena mengubah posisi menjadi menghadap Gusti. Dia menyentuh tubuh lelaki tersebut.
"Simpanlah uangmu. Kalau kau mau menghabiskan uang Papamu, kenapa kau tidak berikan saja semuanya ke panti asuhan? Itu lebih baik dan bermanfaat," kata Gusti seraya menjauhkan tangan Alena. Dia beranjak dari ranjang.
"Tapi aku ingin membuat Papaku kesal. Karena itulah aku menggunakan uangnya untuk hal tidak baik," sahut Alena yang merubah posisi menjadi duduk. Dia memperbaiki pakaiannya.
"Sampai jumpa." Gusti sudah malas menanggapi Alena. Dia segera melangkah menuju pintu.
Alena membulatkan mata. Dia tidak sudi Gusti meninggalkannya begitu saja. Alhasil Alena berlari dan berdiri di depan pintu, tepat sebelum Gusti belum keluar.
"Kau ternyata gadis yang sangat nakal," tukas Gusti.
"Aku ingin Kakak bercinta denganku sekarang. Sepertinya kau sudah membuatku jatuh cinta dalam waktu singkat!" ungkap Alena. Jujur saja, kenikmatan yang diberikan Gusti tadi berhasil membuat dia kecanduan, dan dirinya ingin merasakan lebih dari itu.
Pupil mata Gusti membesar. Dia tidak menyangka Alena memberikan pernyataan itu di pertemuan pertama mereka.
"Kau benar-benar gila!" cibir Gusti.
"Kakak tidak akan bisa pergi sebelum melakukan apa yang kumau!" Usai mengatakan pernyataan mengejutkan, Alena melepas pakaian satu per satu.
"Hentikan!" Gusti mencoba menghentikan. Dia bahkan berusaha mengambil kesempatan untuk membuka pintu. Namun Alena terus menghalangi. Gadis tersebut melakukan dorongan keras. Hingga Gusti sontak mundur satu langkah.
__ADS_1
Saat itulah Alena selesai menelanjangi dirinya dengan cepat. Gusti tercengang menyaksikan penampilan Alena sekarang. Lelaki itu mematung dalam sesaat.
"Kau harusnya merasa beruntung karena menjadi orang pertama yang melihatnya!" ujar Alena. Dia sebenarnya merasa sedikit malu. Terlihat dari wajahnya yang memerah.
"Apa kau akan diam--" Ucapan Alena terhenti ketika Gusti membekap bibirnya dengan ciuman. Lelaki mana yang tahan saat melihat gadis cantik bugil di depan mata.
Seperti binatang buas yang mengganas, Gusti mencumbu Alena. Dia melepas pakaiannya dengan tergesa-gesa, lalu membimbing Alena kembali ke ranjang.
Gusti mendorong Alena sampai jatuh ke ranjang. Gadis itu menggeliatkan tubuhnya sambil menggigit bibir bawah. Hal tersebut menjelaskan kalau Alena sudah terangsang dengan baik.
Gusti melepas seluruh celana. Ia juga tak lupa menggunakan pengaman terlebih dahulu. Itu adalah hal yang wajib dilakukannya saat bekerja.
"Ah..." Alena menyukai semua sentuhan Gusti. "Cepat lakukan, Kak..." lirihnya.
Gusti menuruti permintaan Alena. Dia melakukan penyatuan dengan perlahan.
"Akhhh!" Alena meringiskan wajah karena merasakan sakit luar biasa di bawah sana. Gusti sontak cemas.
"Kau tidak apa-apa? Kau ingin aku berhenti atau--"
"Tidak, Kak! Aku tahu ini resikonya. Teruskan saja," potong Alena. Dahinya berkerut dalam karena menahan sakit.
__ADS_1
Gusti lantas melanjutkan pergerakannya. Dia memulai dengan cara memajukan pinggulnya pelan-pelan.
Lama-kelamaan rasa sakit yang dirasakan Alena semakin berkurang. Kini dia melenguh nikmat. Sesekali Gusti menenggelamkan wajah ke ceruk lehernya. Membuat Alena kian merasa nyaman dengan kegiatan intim yang terjadi. Segalanya berakhir ketika mereka saling terpuaskan satu sama lain.
Gusti segera membersihkan diri ke kamar mandi. Sedangkan Alena masih terkulai lemah di ranjang karena masih merasa lemas.
Di kamar mandi, Gusti menenangkan diri. Dia tidak menyangka akan melayani seorang anak remaja.
"Aku harus terbiasa dengan ini. Aku akan segera mengakhirinya jika uangku sudah terkumpul banyak," gumam Gusti. Ia yakin dirinya akan menemui wanita aneh lain jika terus bekerja sebagai gigolo.
Hari demi hari berlalu. Gusti semakin terbiasa bekerja menjadi gigolo. Berbagai macam wanita dia temui. Sambil melakukan itu, Gusti bekerja sebagai ojek online. Tidak jarang juga dirinya menemukan klien sendiri saat menjadi ojol.
Uang Gusti semakin bertambah. Dia bahkan bisa menggunakan uang itu untuk membeli apartemen. Gusti sekarang sibuk berkemas di kostan. Ia sedang pindahan.
Kebetulan kostan saat itu sepi. Kebanyakan penghuninya pergi bekerja dan kuliah. Gusti sengaja pindahan di waktu begitu agar tidak mengganggu orang lain.
Dari pintu gerbang, seorang gadis sederhana melangkah masuk sambil membawa tas besar. Dia berhenti saat menyaksikan Gusti.
"Gusti!" panggil gadis itu.
Gusti sontak menoleh. Betapa kagetnya Gusti ketika melihat gadis tersebut. Dia tidak lain adalah Mawar. Teman masa kecil Gusti dari kampung.
__ADS_1