Menjadi Gigolo & Dikelilingi Wanita Cantik

Menjadi Gigolo & Dikelilingi Wanita Cantik
Chapter 52 - Kabur Bersama


__ADS_3

Gusti ingin cepat-cepat meninggalkan klub malam. Saat berlari menuju pintu keluar, dia berpapasan dengan Elang dan Widy. Dua sejoli itu juga tampak panik.


Elang terlihat bertelanjang dada dan mengenakan celana jeans. Dia merelakan Widy untuk memakai kemejanya. Mengingat terakhir kali Widy tidak sempat mengambil bajunya. Tubuh Elang yang atletis itu terpampang nyata.


"Anjir! Kau kenapa nggak pakai baju?" timpal Gusti tatkala melihat Elang.


"Kita nggak punya waktu untuk bicara!" sahut Elang. Dia memegang tangan Widy dengan erat. Menyeret cewek itu bersamanya.


"Ayo, Gus! Ikuti kami!" seru Widy saat melewati Gusti.


Karena tidak tahu harus kemana, Gusti mengikuti Elang dan Widy. Mereka akan keluar dari pintu belakang. Namun itu tidak bisa dilakukan ketika terdengar suara keributan di sana.


"Sial!" Elang terpaksa membimbing kedua temannya mencari jalan keluar lain.


"Kenapa kembali?" tanya Gusti sembari mengikuti Elang dan Widy.


"Sepertinya polisi juga ada di pintu belakang! Satu-satunya jalan untuk kita sekarang hanya jendela!" Elang memasuki sebuah ruangan. Dia membuka jendela yang ada di ruangan tersebut.


"Kita ada di lantai dua!" ujar Widy, saat melihat keluar jendela. Sebagai perempuan, dia tentu tidak lihai masalah manjat memanjat.


"Aku dan Gusti akan membantu!" ujar Elang. Dia menjadi orang yang keluar dari jendela lebih dulu.


"Tapi..." Widy merasa ragu.

__ADS_1


Dengan cepat Elang menapaki dinding sampai kakinya menyentuh tanah.


"Wid! Sekarang giliranmu!" kata Elang.


Widy tidak bisa bergerak. Dia terlalu takut mengikuti jejak Elang.


"Gus! Kau harus turun setelah Widy agar dia bisa berpegangan padamu!" imbuh Elang.


"Baiklah!" Gusti mengangguk.


"Aku takut, Gus!" ungkap Widy sambil menggeleng.


"Percaya saja padaku dan Elang, Wid. Kami tidak akan membiarkanmu jatuh!" Gusti berusaha meyakinkan Widy.


Widy akhirnya keluar dari jendela. Selanjutnya, barulah Gusti yang menyusul.


Widy menginjakkan kaki dengan hati-hati. Awalnya berjalan lancar, sampai Widy menengok ke bawah. Cewek itu jadi takut untuk terus bergerak.


"Ayo, Wid! Kau pasti bisa!" seru Elang.


Sementara Gusti tidak bisa turun jika Widy belum bergerak. Dia tak punya pilihan selain menunggu cewek tersebut.


"Aku tidak bisa, El! Jangan memaksaku!" kata Widy. Tubuhnya gemetar ketakutan. "Aku harusnya tidak menuruti katamu! Sialan!" keluhnya.

__ADS_1


Dari kejauhan terdengar suara langkah kaki yang kian mendekat. Itu membuat Widy terpaksa bergerak. Takut kalau yang datang adalah polisi.


Sayangnya kaki Widy tergelincir, dia reflek berpegangan ke kaki Gusti. Lelaki tersebut sontak harus menahan berat dan berpegangan lebih kuat.


"Aaarkhh!" Widy berteriak. Posisinya sekarang bergelantungan di udara. Air mata cewek itu mulai menetes.


"Hei! Berhenti kalian!" Seorang polisi muncul dari kejauhan.


"Sial!" Elang mencoba fokus pada Widy. Ia menyuruh kekasihnya itu melepas pegangannya.


"Apa kau gila? Aku akan mati jika melepas peganganku!" geram Widy.


"Percayalah padaku! Aku akan menangkapmu!" kata Elang yang sudah siaga untuk menangkap Widy. "Ayo! Gusti juga tidak bisa terus menahanmu!" tambahnya.


Widy tak punya waktu untuk berpikir. Dia memutuskan percaya pada Elang dan melepas pegangannya. Saat itulah Gusti bisa turun dengan lancar.


Sambil memejamkan mata, Widy menjatuhkan dirinya. Benar saja, Elang bisa menangkapnya dengan baik. Meski lelaki itu harus terhuyung sejenak.


Widy terpesona sejenak untuk menatap Elang. Dia semakin mengagumi cowok itu.


"Ayo! Kita pergi!" ajak Elang seraya menurunkan Widy. Memudarkan keterpakuan Widy.


Gusti yang baru turun, bergegas mengikuti Elang dan Widy. Ketiganya berlari tak tentu arah, yang terpenting mereka bisa lari dari kejaran polisi.

__ADS_1


__ADS_2