
Gusti tertawa geli menyaksikan reaksi Mawar. Dia bersikap seperti itu karena dirinya sudah berubah menjadi pemuda kota. Yaitu pemuda yang berpikiran terbuka.
"Kau kenapa berteriak, War? Apa karena melihatku begini?" tebak Gusti.
"Iya! Tentu saja. Memangnya kau nggak malu?" sahut Mawar yang masih menutupi wajahnya.
"Nggak lah. Kau kan temanku. Lagian yang terpenting aku nggak bugil kan?"
"Tapi itu setengah bugil! Cepat pakai bajumu sana!"
Mendengar itu, Gusti tersenyum nakal. "Aku sudah pakai baju," imbuhnya berdusta.
Mawar percaya saja. Dia menjauhkan tangan dari wajah dan membuka matanya. Akan tetapi dia masih melihat Gusti dalam keadaan telanjang dada.
"Aaarkhh! Kau berbohong!" Mawar lantas berteriak kembali.
Gusti yang merasa gemas, sigap memegangi tangannya. Hingga kini Mawar hanya bisa menutup mata.
"Sudah... Tidak apa-apa. Kau kenapa takut sekali. Aku gemas tahu nggak!" ujar Gusti sambil tergelak. Perasaan sukanya timbul lagi untuk Mawar. Gadis itu memang memiliki sesuatu hal yang istimewa untuk membuat lelaki jatuh cinta.
"Gusti! Lepasin aku!" pinta Mawar. "Aku mau pipis tahu nggak!" tambahnya. Wajah Mawar merah sekali bak kepiting rebus.
"Kenapa nggak bilang dari tadi. Ya sudah. Pipis sana." Gusti akhirnya melepaskan Mawar. Dia beranjak masuk ke kamar.
__ADS_1
Mawar sekarang mendengus lega. Dia buru-buru masuk ke kamar mandi.
Di kamar, Gusti berpakaian sambil senyum-senyum sendiri. Kelucuan Mawar tadi masih terbayang. Namun itu tidak berlangsung lama, karena Rilly tiba-tiba menelepon.
"Iya, Kak?" Gusti mengangkat panggilan Rilly.
"Kau semakin populer. Aku baru saja dihubungi seorang wanita cantik yang ingin membayarmu 300 juta!" ungkap Rilly dari seberang telepon.
"Apa?! 300 juta kau bilang?" Gusti kaget mendengar jumlah uang sebanyak itu. Mengingat bayaran termahalnya selama bekerja sebagai gigolo adalah 50 juta.
"Iya. Itu gila kan! Namanya adalah Luna. Dia ingin kau melayaninya besok malam di villa miliknya."
"Villa? Apa itu berarti tempatnya jauh?"
"Terima kasih." Gusti tersenyum puas. Pembicaraannya segera berakhir di sana.
...***...
Sebuah pintu terbuka. Elang dan Widy masuk sembari berciuman panas. Keduanya menutup pintu setelah masuk ke apartemen Elang.
Widy dan Elang memang sudah tidak berpacaran. Namun keduanya masih sama-sama memiliki keinginan untuk bercinta. Sepertinya Widy sudah tak peduli kalau dirinya hanya dijadikan teman ranjang.
Suara kecup-mengecup itu terdengar membara. Elang dan Widy saling bergulat lidah dengan lihai. Sambil melakukannya, mereka meraba tubuh satu sama lain.
__ADS_1
Elang mengangkat Widy. Sampai kedua kaki cewek itu melingkar erat ke pinggulnya. Saat itulah Elang menjatuhkan Widy ke ranjang.
"Keparat!" Widy tak terima. Dia menarik kerah baju Elang hingga lelaki tersebut ikut mendarat ke ranjang.
Dengan cepat, Widy membuka kancing baju Elang. Lalu diteruskan dengan dirinya sendiri. Usai melepas pakaian, mereka segera bercinta. Memperdengarkan suara lenguhan yang berhenti di saat merasa saling terpuaskan.
Ketika sudah selesai, Elang dan Widy telentang lemas di ranjang. Keduanya sama-sama mengatur nafas.
Perlahan Elang menatap Widy dengan sudut matanya. Tanpa diduga, cewek itu juga melakukan hal yang sama. Pandangan mereka bersibobrok. Elang pun langsung membuang muka.
"Apa kau tahu? Awalnya aku menerima cintamu hanya karena main-main. Itu semua karena semua orang bilang kau adalah mahasiswa terkaya di jurusan Arsitektur," cetus Widy.
Elang hanya diam. Membiarkan Widy terus bicara.
"Tapi aku terkejut saat bercinta denganmu untuk pertama kalinya. Kau berhasil membuatku merasakan yang namanya kepuasan. Itu adalah sesuatu yang tidak pernah aku rasakan saat melayani para lelaki hidung belang," jelas Widy bercerita panjang lebar.
"Apa kebanyakan mereka eja**kulasi dini?" tebak Elang. Dia duduk dan segera menyalakan sebatang rokok.
Pupil mata Widy membesar. "Bagaimana kau tahu?" tanyanya.
"Sebagian besar lelaki yang sudah berumur mengalami masalah itu," terang Elang. Dia sebenarnya tahu banyak hal dari klien-klien wanitanya. Para wanita itu seringkali curhat pada Elang kalau suami mereka tak bisa memuaskan hasrat akibat mengalami masalah durasi.
Widy mengerutkan dahi. Menatap Elang penuh curiga dan penasaran. Dia baru terpikirkan betapa misteriusnya sosok lelaki itu. Widy jadi ingin mencari tahu seluk beluk tentang Elang.
__ADS_1