
Suara tepukan daging yang menyatu terdengar. Di iringi dengan suara erangan Alena yang mendayu-dayu. Cewek itu dalam keadaan setengah telanjang. Hanya roknya yang tampak masih bertengger di pinggang.
Ya, Gusti sudah memberikan hujaman surga dunia untuk Alena. Dia sebenarnya juga menikmati gairah yang dirinya rasakan.
"Bagaimana? Ini yang kau mau kan?" desis Gusti sambil terus memaju mundurkan pinggulnya. Dia bernafas di telinga Alena. Gusti sesekali akan menggigit kuping cewek tersebut. Lelaki tersebut masih mengenakan kemeja, tetapi semua kancingnya dibiarkan terbuka. Sementara celananya melorot sampai lutut.
"Iya, Kak! Terus begitu, akh! Akh..." Alena mencengkeram erat punggung Gusti. Dia sangat senang keinginannya sudah terpenuhi.
Alena tak bisa mengalihkan perhatiannya dari ketampanan Gusti. Wajah rupawan itu membuat dia semakin terangsang. Alena sampai bisa mencapai puncak lebih dari sekali, dan hal tersebut adalah sesuatu yang dirinya suka dari Gusti.
Semuanya berakhir saat Gusti sukses mencapai klimakss. Dia melenguh panjang karena merasa keenakan. Hal serupa juga dilakukan Alena. Cewek itu langsung membekap mulut Gusti dengan ciuman. Alena benar-benar merasa puas dengan pelayanan Gusti.
"Jadilah pacarku, Kak. Aku akan berikan apapun," ungkap Alena dengan nafas terengah-engah. Dia berusaha mengatur nafas sebisa mungkin.
__ADS_1
"Kau sebaiknya pulang!" tukas Gusti, tak menjawab tawaran Alena. Ia bergegas memperbaiki pakaian. Begitu pun Alena.
Alena menunduk sambil memungut pakaian yang berjatuhan di lantai. Dia segera mengenakannya kembali. Tak lupa juga Alena mengambil uang dari tasnya untuk diberikan pada Gusti.
"Ini pelayanan terakhir yang kulakukan untukmu! Fokuslah belajar, Al. Jangan membuang-buang uang ayahmu terus! Seburuk apapun ayahmu, dia tetap ayahmu. Jangan pernah datang padaku jika kau belum dewasa dan bisa cari duit sendiri!" omel Gusti serius. Dia seperti kakak yang menasehati adiknya. Selanjutnya, Gusti langsung pergi meninggalkan Alena. Ia bahkan tidak menerima bayaran dari cewek tersebut.
Di waktu yang sama, Mawar menceritakan semuanya pada Aman. Lelaki itu malah terkekeh mendengar kenyataan tentang Gusti.
"Kenapa kau malah tertawa?" tanya Mawar dengan kening yang mengernyit.
"War, hal begituan udah biasa di sini. Jadi kau harus bisa memakluminya," jelas Aman.
"Biasa? Itu jelas bukan hal biasa! Bagaimana kalau wanitanya hamil?" balas Mawar.
__ADS_1
"Menurutku itulah resikonya. Tapi itu bisa dicegah sama pengaman dan alat kontrasepsi lain."
"Apa kau juga melakukannya?"
"Iya. Kau lihat wanita yang ada di kamarku? Dia pacarku. Kami sudah sering melakukannya," ungkap Aman dengan santainya. Dia merangkul Mawar dan meneruskan, "War! Kau harus menerima kenyataan tentang Gusti. Dia begitu karena harus beradaptasi dengan budaya kota. Kau juga harus begitu kalau memilih menetap di sini."
"Itu gila! Kalian menjijikan!" Mawar menghempaskan tangan Aman. Dengan wajah cemberut, dia bergegas pergi.
Mawar berlari tak tentu arah. Air matanya berlinang di wajah. Dia berjongkok sambil terus menangis di pinggir jalan.
Tanpa diduga, sebuah tangan menyentuh pundak Mawar. Karena itu, Mawar kaget dan berdiri. Ia melihat ada tiga pria yang menghampirinya.
"Hai, cantik! Kenapa menangis di sini? Mau hiburan dari Abang?" ujar salah satu lelaki. Dia dan dua temannya tampak sempoyongan. Kemungkinan besar mereka dalam pengaruh mabuk.
__ADS_1
Mawar buru-buru pergi. Namun jalannya dihalangi oleh dua lelaki lainnya.
"Jangan ganggu aku..." ujar Mawar dalam kondisi bibir yang bergetar karena takut. Dia semakin panik saat salah satu lelaki itu mencolek dagunya.