
"Sial! Polisi itu masih mengejar!" keluh Widy.
Gusti tidak menjawab. Atensinya justru fokus pada kereta yang lewat. Dia terpikir untuk menjadikan kereta tersebut sebagai pelariannya sekarang.
"Ayo kita naik ke kereta!" Gusti menarik tangan Widy. Cewek itu lantas bergerak mengikutinya.
"Bagaimana dengan Elang?" seru Widy.
"Dia akan mengikuti kita!" sahut Gusti. Dia melompat naik ke gerbong kereta. Selanjutnya Gusti membawa Widy naik bersamanya. Sekarang hanya perlu membantu Elang agar bisa bergabung.
"El!" teriak Gusti.
Elang sontak melajukan larinya. Dengan kekuatan maksimal, perlahan dia mampu menggapai posisi Gusti dan Widy.
Gusti mengulurkan tangan kepada Elang. Awalnya Elang kesulitan menggapainya. Namun karena desakan dan kegigihan, lelaki itu berhasil.
Kini Gusti dan kawan-kawan sudah masuk ke kereta. Mereka sukses lari dari kejaran polisi. Ketiganya sekarang tumbang ke lantai kereta. Telentang bersama karena kelelahan.
"Akhirnya kita bebas juga," ungkap Elang.
__ADS_1
Hening mendominasi suasana sejenak. Tiba-tiba Gusti tergelak. Tak lama kemudian Widy ikut tertawa bersamanya. Elang bahkan juga ketularan untuk ikut tertawa. Mereka merasa lucu dengan apa yang sudah terjadi.
"Kau tahu? Kalau di ingat-ingat, Elang sangat lucu saat memakai topeng plastik sampah," imbuh Gusti.
"Kau benar! Itu semakin lucu saat melihatnya bertelanjang dada," sahut Widy.
"Tega ya kalian! Harusnya aku dapat ucapan terima kasih loh!" timpal Elang tak terima. Dia, Gusti, dan Widy kembali tergelak bersama.
"Lagian bajumu kemana sih, El?" tanya Gusti.
Mendengar pertanyaan itu, Elang dan Widy reflek bertukar pandang. Kali ini keduanya memutuskan tidak akan menyembunyikan hubungan mereka lagi pada Gusti.
"Sebenarnya yang hilang itu baju Widy. Bajuku dipakai sama dia," jelas Elang.
"Kami balikan lagi, Gus!" ungkap Widy. Kebetulan posisinya ada di tengah. Di apit oleh Elang dan Gusti.
"Balikan? Kapan kalian putus?" Gusti sontak heran karena Elang dan Widy tidak memberitahu kalau beberapa hari yang lalu mereka putus.
"Sudah! Jangan dipikirkan! Kita sebaiknya turun dari kereta ini di lokasi yang tepat. Nanti gawat kalau kita terbawa sampai keluar kota." Elang sengaja merubah topik pembicaraan. Dia merubah posisi menjadi duduk. Hal serupa lantas dilakukan Gusti dan Widy.
__ADS_1
Atensi Gusti tertuju ke badan Elang yang atletis. Dia merasa penasaran sekaligus iri dengan hal itu.
"Ini kereta pengangkut barang kan?" tanya Widy seraya mengamati ke sekitar. Dia baru menyadari banyaknya barang yang ada di kereta.
"Sepertinya begitu," jawab Elang. Dia berhasil memergoki Gusti yang sibuk menatapnya.
"Kenapa?" tukas Elang.
"Apa kau berolahraga untuk mendapatkan tubuh seperti itu?" tanya Gusti.
Elang tersenyum sambil memperhatikan badannya. "Bisa dibilang begitu. Tapi bagiku ini adalah bukti kalau aku sudah melalui banyak hal berat," ucapnya.
"Kau bicara seperti orang tua," komentar Widy.
"Begitulah Elang, Wid. Dia selalu bicara seperti senior kita," tanggap Gusti.
Elang memutar bola mata jengah. "Kalian pasti mengakuinya kalau aku menceritakan biografiku sejak kecil!"
"Kalau begitu ceritakan pada kami!" pinta Widy. Dia duduk menghadap Elang sambil memeluk lutut. Siap mendengarkan cerita lelaki tersebut.
__ADS_1
"Iya. Ceritakan pada kami." Gusti ikut bergabung bersama Widy. Dia duduk bersila menghadap Elang.
Sementara Elang terdiam seribu bahasa. Dia terlihat seolah sedang berpikir.