
Mawar menunggu kedatangan Gusti dengan sabar. Sampai dia akhirnya tak sengaja ketiduran.
Saat waktu hampir jam delapan malam, Gusti akhirnya datang. Lelaki itu datang dengan wajah sendu. Ia tidak langsung mencari Mawar dan malah duduk menghempas ke sofa.
"Edan! Edan! Edan!" Gusti merutuk berkali-kali sambil mengacak-acak rambut frustasi. Bagaimana tidak? Hasil tes pemeriksaan kehamilan Alena dipastikan positif. Gusti tadi bahkan melihat rekaman usg dari janin dalam kandungan Alena.
Gusti mengambil ponsel. Dia menghubungi Elang. Mungkin saja temannya itu pernah mengalami pengalaman yang sama sepertinya sekarang. Diceritakanlah oleh Gusti mengenai kehamilan Alena pada Elang.
"Apa kau pernah mengalami sesuatu sepertiku?" tanya Gusti.
Anehnya Elang tidak langsung menjawab. Ia terdiam cukup lama.
"El?" Gusti sampai harus memanggilnya karena tak sabar menunggu jawaban.
"Ti-tidak! Aku tak pernah mengalaminya. Makanya, kalau mau main pakai pengaman!" Elang justru memberikan wejangan.
"Aku selalu pakai kok! Cuman dalam kasus Alena, aku memang gak sempat pakai karena tuh cewek gatal banget!"
"Alena atau kau yang gatal?"
__ADS_1
"Edan! Malah ngejek kau. Bukannya kasih solusi juga."
"Sebenarnya kalau masalah begini solusinya ada dua sih. Pertama kau yang mengalah, dan kedua, Alena yang mengalah."
"Maksudnya?" Gusti tak mengerti.
"Kau mau bertanggung jawab atau menggugurkan kandungan Alena?" Elang menjelaskan lebih detail.
Kali ini Gusti yang terdiam. Baginya memilih salah satu dari dua pilihan itu sangat sulit.
"Lebih baik kau buat keputusan sebelum janin Alena membesar. Apalagi kalau pilihanmu adalah menggugurkan kandungannya. Itu akan berdampak buruk pada kesehatan Alena. Apalagi dia masih muda kan?" ujar Elang.
"Kau sudah datang?" Mawar muncul dari balik pintu. Ia langsung menghampiri Gusti.
Senyuman kecut mengembang di wajah Gusti. Dia semakin tertekan saat mengingat keberadaan Mawar. Entah bagaimana reaksi perempuan itu ketika mengetahui kehamilan Alena.
Di sisi lain, Elang sedang berdiri di depan jendela. Dia memikirkan sesuatu setelah mengetahui masalah Gusti.
Bel pintu berbunyi. Elang pun bergegas membuka pintu.
__ADS_1
"Hai cowok sialan!" Widy menyambut dengan makian. Dia langsung tumbang ke pelukan Elang karena tak bisa menopang tubuh. Kondisi cewek itu dalam keadaan mabuk berat.
"Widy!" Elang terpaksa membawa Widy masuk ke apartemen, lalu merebahkannya ke ranjang.
"Jangan tinggalkan aku, El... Aku nggak punya siapa-siapa lagi selain kamu..." Widy meracau sambil menggenggam tangan Elang.
"Kau menyedihkan sekali. Kau tidak seharusnya sampai begini karena lelaki sepertiku," komentar Elang sembari melepas genggaman Widy. Dia melakukannya dengan paksa karena cengkeraman cewek tersebut cukup kuat. Malam itu Elang membiarkan Widy tidur di tempatnya.
Kala pagi tiba, Widy terbangun. Dia baru menyadari dirinya berada di kamar Elang. Widy tidak kaget sama sekali. Ia malah bermalas-malasan di ranjang.
Pintu kamar terbuka. Sosok Elang muncul dari sana.
"Kau sudah bangun kan? Kalau begitu, makan dan cepatlah pergi," kata Elang.
Widy sudah mengangakan mulut karena ingin menjawab perkataan Elang. Namun lelaki itu terlanjur pergi.
Widy mendengus kasar. Ia segera keluar dari kamar. Di meja terlihat sudah ada bubur ayam dan teh panas. Melihat hal itu, Widy perlahan menatap kagum Elang.
"Jangan salah sangka. Aku melakukan ini karena kau temanku," ucap Elang. "Nikmatilah! Aku mau mandi," lanjutnya seraya beranjak ke kamar mandi.
__ADS_1
Widy termangu menatap makanan dan minuman yang sudah disiapkan Elang. Tetapi keinginan untuk menyusul lelaki itu ke kamar mandi terasa lebih kuat.