Menjadi Gigolo & Dikelilingi Wanita Cantik

Menjadi Gigolo & Dikelilingi Wanita Cantik
Chapter 78 - Tak Ada Yang Berubah


__ADS_3

Gusti pergi ke kampus seperti biasa. Namun kali ini perasaannya tidak enak saat bertemu dengan Elang dan Widy. Dia bingung harus bersikap bagaimana dengan ikatan pertemanan yang berubah hanya karena kesalahan satu malam.


Orang pertama yang ditemui Gusti adalah Widy. Dia mencoba menyapa cewek itu. Akan tetapi Widy hanya tersenyum tipis dan memilih pergi bersama teman ceweknya. Suasana di antara mereka berubah menjadi canggung.


Berbeda saat Gusti berpapasan dengan Elang, temannya itu menyapanya seperti biasa. Elang masih bersikap seolah tidak ada yang terjadi.


"Uangnya sudah masuk nggak, Gus? Aku baru aja transfer," ujar Elang.


Gusti lantas memeriksa ponselnya. Dia menemukan kalau Elang telah mentransfer uang sesuai janjinya.


"Kau benar-benar menepati janjimu," ungkap Gusti.


"Itu karena kau sudah bersikap berani. Ya... Meski keberanian itu berujung sama kesalahan," tanggap Elang.


Mendengar itu, Gusti merasa memiliki kesempatan untuk membahas semuanya.


"Mengenai kesalahan yang kulakukan, apa kau benar-benar tidak masalah? Hubunganmu dan Widy baik-baik saja kan?" cecar Gusti dengan semerawut wajah tidak enak.


"Iya. Aku dan Widy baik-baik saja. Hanya saja kami akan berteman mulai sekarang," sahut Elang sembari melangkah maju.


Gusti membulatkan mata. Dia buru-buru mengejar Elang. "Teman? Maksudnya kalian putus?" tanyanya.


"Sudahlah, Gus. Lagi pula sejak awal aku memang sudah tidak yakin dengan Widy." Elang berucap sambil merangkul pundak Gusti.

__ADS_1


"El! Aku benar-benar minta maaf dengan kesalahan yang sudah terjadi. Aku harap kau dan Widy tetap bersama, lalu melupakan semuanya!" Gusti menatap penuh harap.


"Gus! Keputusan kami sekarang adalah yang terbaik. Lagi pula aku dan Widy yang menjalani. Kau tidak perlu merasa cemas!" ucap Elang. "Apa kau mau tahu rahasia yang tidak pernah kukatakan pada siapapun?" lanjutnya.


"Apa?" Gusti menuntut jawaban.


Elang tersenyum dan berbisik, "Aku tidak pernah benar-benar menyukai wanita yang dekat denganku. Termasuk Widy..."


"Edan! Apa kau tertarik pada lelaki?" Gusti mengambil kesimpulan yang salah. Hal tersebut sontak membuat Elang tergelak.


"Bukan begitu, bego! Maksudnya di setiap menjalani hubungan, aku akan berusaha membatasi perasaanku agar tidak terbawa perasaan. Ya bisa dibilang menjaga diri agar nggak bucin. Karena kalau kejadian gila kayak kemarin malam terjadi, mungkin aku akan langsung mengamuk." Elang memberi penjelasan panjang lebar.


"Jadi kau benar-benar tidak--"


Gusti akhirnya tersenyum. Sikap Elang yang tak berubah, membuat rasa bersalahnya perlahan mengikis.


"Mau ke kantin? Ayo kita makan!" ajak Elang santai. Dia dan Gusti makan siang bersama.


Meski tetap berteman, hubungan Gusti dan Elang sudah berubah dengan Widy. Mereka dan cewek itu tidak seakrab dulu.


Gusti sebenarnya heran sekali. Apalagi ketika melihat Elang yang tampak menjalani semuanya seperti biasa. Sementara Widy, terlihat sekali kalau cewek itu lebih murung dari biasanya.


Beberapa hari berlalu. Sikap Widy tidak berubah. Dia bahkan terkadang menghabiskan waktu sendiri. Itu membuat Gusti semakin cemas.

__ADS_1


Pernah Gusti mencoba mengajak Widy bicara. Namun cewek itu selalu menghindar.


"El, Widy jadi lebih murung dan pendiam sekarang. Apa itu tidak mengganggumu?" Gusti bertanya pada Elang saat jadwal kuliah selesai.


Elang awalnya tidak menanggapi. Tatapannya hanya langsung tertuju ke arah Widy yang sudah berlalu keluar kelas.


"Mungkin dia sedang ada masalah. Yang jelas nggak ada hubungannya dengan kita. Udah! Jangan berlebihan," sahut Elang yang segera beranjak.


Gusti berusaha melupakan masalah pertemanannya di kampus. Terutama saat pulang ke apartemen. Kebetulan hari itu dia ingin mengajak Mawar jalan-jalan. Gusti bahkan membeli motor baru untuk momen spesial tersebut. Tidak tanggung-tanggung, kali ini dia membeli motor sport mahal.


Saat turun dari motor, Gusti ingin bergegas ke apartemen. Tetapi langkahnya terhenti tatkala sosok Alena muncul.


"Kak!" panggil Alena. Entah kenapa dia selalu mengenakan seragam sekolahnya.


Gusti tercengang menyaksikan kehadiran Alena. "Bukankah aku sudah bilang jangan temui aku lagi?" timpalnya.


"Aku tahu. Tapi ada sesuatu yang harus kau tahu!" sahut Alena. Membuat dahi Gusti berkerut dalam.


"Sepertinya aku hamil," ungkap Alena sembari memegangi perut.


...____...


*Siap2 ya guys. Pintu konflik akhir sudah dibuka... 😗

__ADS_1


__ADS_2