Menjadi Gigolo & Dikelilingi Wanita Cantik

Menjadi Gigolo & Dikelilingi Wanita Cantik
Chapter 46 - Menyusul Gusti


__ADS_3

Gusti berlari sesuai instingnya. Dia juga tak lupa mencoba membuka jendela. Namun semua jendela juga terkunci. Gusti bahkan kaget saat melihat jendela-jendela itu menggunakan kunci gembok. Ia menduga, bukan dirinya saja yang pernah diperlakukan Luna begini.


Saat menoleh ke belakang, Luna terlihat sudah sangat dekat. Gusti yang merasa terdesak, memilih mengunci dirinya ke dalam ruangan terdekat.


"Haha... Pola pikiranmu ternyata sama saja seperti yang lain. Ruangan itu tidak memiliki jalan keluar selain pintu," ujar Luna dari luar. Tertawa penuh kemenangan.


"Pergilah! Aku akan menelepon polisi!" ancam Gusti. Ia merogoh saku celana untuk mengambil ponsel. Akan tetapi dirinya tidak menemukan apa yang dicari.


"Kasihan sekali. Kau pasti tadi sangat bergairah saat menciumku. Kau sama sekali tidak sadar kalau ponselmu aku ambil," kata Luna.


"Edan!!!" umpat Gusti sambil mencengkeram kepala. Dia sekarang terjebak.


"Sekarang kau tak punya pilihan lain. Ayo! Bercintalah denganku," seru Luna.


Gusti meraup wajahnya berulang kali. Keadaan sekarang tentu membuat dia takut. Bisa juga dibilang sebagai pengalaman paling mengerikan.


"Tenang... Aku harus tenang..." gumam Gusti sembari duduk ke kursi. Dia mencoba mencari jalan keluar dengan cara menenangkan diri terlebih dahulu.


Setelah berpikir beberapa menit, Gusti akhirnya menemukan ide. Dia akan berpura-pura setuju bercinta dengan Luna. Jika berhasil, Gusti akan memanfaatkan waktu untuk melarikan diri.

__ADS_1


"Baiklah! Sepertinya aku tak punya pilihan," imbuh Gusti. Dia perlahan membuka pintu.


Gusti kaget saat Luna menyambutnya dengan todongan pistol. Gusti sontak mengangkat dua tangan ke udara sambil mundur.


"Baguslah kalau begitu. Sekarang aku ingin kau menuruti perintahku," ucap Luna. "Lepaskan semua pakaianmu dan duduk!" titahnya.


Gusti menenggak salivanya sendiri. "Tapi bisakah kau jauhkan pistol itu dulu?" pintanya.


"Kau tenang saja. Aku ahli menggunakannya. Aku tidak akan menembak kalau kau tidak melawan," tanggap Luna seraya tersenyum miring.


'Apes! Apes! Apes!' Gusti hanya bisa merutuk dalam hati.


"Aku dengar kau benar-benar sudah berhenti. Tapi ada yang bilang kau masih melakukannya dengan menggunakan koneksi sendiri," cetus Rilly setelah mengeluarkan kepulan asap rokok dari mulut.


"Akhirnya kau tahu juga," sahut Elang.


"Dasar pengkhianat," cibir Rilly.


"Aku tidak berkhianat. Aku hanya semakin dewasa. Aku bisa mencari pelanggan sendiri tanpa bantuanmu." Elang menjelaskan panjang lebar. "Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Gusti?" tanyanya.

__ADS_1


"Dia lebih baik dari yang kuduga. Sekarang sepertinya dia sedang bertemu dengan wanita yang mau membayarnya seharga 300 juta. Luar biasa bukan?"


"Benarkah? Siapa wanita itu?" Elang mengerutkan dahi.


"Namanya Luna," jawab Rilly.


Mata Elang membulat. Karena berpengalaman menjadi gigolo, dia mengetahui ada sesuatu yang aneh dengan Luna.


"Apa kau punya fotonya?" tanya Elang.


"Apa dia kenalanmu?" tanggap Rilly.


"Perlihatkan saja aku fotonya!" Elang mendesak. Rilly lantas memperlihatkan foto Luna pada Elang.


"Sial!" umpat Elang saat melihat foto Luna. "Dimana mereka bertemu?" tanyanya seraya mengembalikan ponsel.


"Katanya di villa. Aku punya--" ucapan Rilly terhenti ketika Elang pergi begitu saja. Lelaki itu tampak tergesa-gesa.


Elang ternyata mengenal siapa Luna. Dia juga pernah ditawari bayaran mahal oleh Luna. Karena tahu bagaimana Luna, Elang bergegas pergi ke villa. Ia sangat ingat lokasi tempat tersebut.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Elang, Widy sejak tadi diam-diam mengikuti. Cewek itu menggunakan mobilnya sendiri.


__ADS_2