
Elang memasang tatapan tajam. Bukan kepada Widy, melainkan kepada dua lelaki yang sedang bergumul di badan cewek itu.
Dengan cepat Elang menjauhkan dua lelaki yang menyentuh Widy secara bergantian. Kedua lelaki tersebut terlempar dan jatuh ke lantai panggung.
Mata Widy membulat. Dia menatap dua lelaki yang mendapat serangan Elang. Dahinya sontak berkerut dalam.
"Apa yang kau--" belum sempat Widy menyelesaikan ucapannya, Elang membekap bibirnya dengan ciuman.
Widy terbuai, dia pun membalas ciuman Elang. Namun dirinya langsung berhenti mencium cowok itu saat mendengar suara sorakan banyak orang. Widy lupa kalau sekarang dia dan Elang sedang menjadi tontonan orang di klub malam.
Meskipun begitu, Widy memilih tidak peduli. Dia fokus menghadapi Elang.
"Setidaknya katakan sesuatu! Kau pikir aku akan berhenti berulah setelah ciuman murahanmu itu?" tukas Widy seraya berdecak sinis.
"Ikut aku!" Elang mencoba membawa Widy pergi dari panggung. Namun cewek tersebut menolak.
"Lepaskan! Kalau kau mau aku ikut bersamamu, harusnya kau katakan alasan kepedulianmu ini padaku sekarang!" tegas Widy.
"Apa yang kau mau?!" balas Elang.
__ADS_1
"Dasar tidak peka!" cibir Widy. Dia kembali beraksi. Widy kali ini memegangi resleting celana jeansnya. Elang bisa menebak apa yang akan dilakukan cewek itu selanjutnya.
"Wid!" Elang memegang kuat tangan Widy.
"Oke! Aku tahu apa yang ingin kau dengar dariku!" imbuh Elang. Widy lantas menatapnya.
"Aku peduli padamu karena sepertinya aku menyukaimu! Aku tidak suka melihat para lelaki itu menyentuhmu! Kau puas?" ungkap Elang dengan nafas tersengal-sengal.
"Kau harus bilang mantra utamanya, El. Kalau kau menyukai seseorang, bukankah kau harus menyatakan cinta padanya?" Widy mendekati Elang. Dia menyentuh dada lelaki itu sambil tersenyum nakal.
"Aku mencintaimu!" Elang segera menyebutkan kalimat yang diharapkan Widy.
"Kau tidak bohong kan? Kau tidak mengatakannya karena hanya ingin menghentikanku kan?" Widy memastikan.
"Kalau aku bohong, aku tidak akan naik ke sini dan menghentikanmu sekarang!" sahut Elang. Dia mendekatkan dirinya menjadi sangat dekat dengan Widy.
Widy yang mengira Elang akan mencium lagi, sedikit memajukan bibir. Tetapi sayangnya kali ini Elang tak bermaksud menciumnya. Lelaki tersebut berbisik, "Sebaiknya kau ikut denganku..."
Karena mempercayai pernyataan Elang, Widy tak menolak lagi. Dia dan lelaki itu turun dari panggung.
__ADS_1
Elang menyeret Widy dengan langkah laju. Menyusuri kerumunan orang banyak.
"El! Kemajaku! Aku belum mengambilnya!" seru Widy. Namun Elang tak acuh. Lelaki tersebut terus melangkah dan membawanya ke sebuah lorong. Di sana Elang mendorong Widy hingga tersandar ke dinding.
"Kau tidak butuh kemeja sekarang..." desis Elang. Dia segera mencumbu Widy dengan penuh gairah. Perlahan keduanya masuk ke ruangan terdekat.
...***...
Gusti membuka mata. Dia merasakan kepalanya pusing sekali. Gusti bahkan sampai merintih beberapa kali.
"Ugh... Dimana aku..." Gusti mengucek matanya sambil berusaha mengumpulkan kesadaran. Penglihatannya yang samar, perlahan menjadi jelas. Saat itulah dia kaget setengah mati tatkala menyaksikan dirinya berada dalam pelukan dua wanita. Gusti semakin kaget ketika ada satu wanita lagi yang tidur memeluk kakinya. Apalagi keadaan mereka semua sedang tidak mengenakan busana.
"Edan!" Gusti buru-buru berdiri. Dia mengenakan pakaian dengan tergesa-gesa. Gusti duduk sejenak dan mencoba mengingat apa yang terjadi tadi malam.
Mata Gusti terbelalak saat bisa mengingat apa yang terjadi. Dia merasa syok sekali. Gusti meraup wajahnya berulang kali.
"Aku menjadi orang yang sangat buruk sekarang!" imbuh Gusti. Dia segera pergi meninggalkan klub. Namun saat hendak membuka pintu, ada lelaki yang menerobos masuk.
"Cepat! Kau harus pergi! Polisi datang!" seru lelaki itu. Dia langsung pergi setelah memberitahu.
__ADS_1