
Mawar terperangah saat melihat gedung apartemen Gusti. Dia dan Gusti kini berdiri di halaman gedung.
"Parah! Kau akan tinggal di gedung sebesar ini? Edan! Berapa biaya sewa gedung sebesar ini?" tanya Mawar. Mengira kalau Gusti menyewa gedung apartemen.
Gusti memecahkan tawa. Apalagi saat melihat wajah Mawar yang tampak serius sekali.
"Kau lucu sekali. Mana mungkin aku bisa menyewa gedung. Aku menyewa salah satu unit di gedung ini. Ayo kita masuk!" ajak Gusti sembari menarik tangan Mawar.
Gusti mengajak Mawar memasuki lift. Mawar kembali berdecak kagum saat melihat lift.
"Wah! Ini seperti di film-film!" seru Mawar. Dia benar-benar gadis kampung yang polos.
Gusti memejamkan mata. Mencoba menahan malu atas sikap Mawar. Apalagi ketika ada orang lain yang juga menunggu lift bersama mereka.
"Ini tidak berbahaya kan? Aku takut..." ungkap Mawar.
"Kau tenang saja. Aku bersamamu." Gusti menggenggam tangan Mawar. Gadis itu lantas mengangguk dan mempercayai sahabatnya.
Lift terdengar berdenting. Pintunya perlahan terbuka. Orang-orang yang menunggu segera masuk. Termasuk Gusti dan juga Mawar.
__ADS_1
Mawar yang sebenarnya takut, berusaha memberanikan diri. Dia menggenggam tangan Gusti erat sekali.
"Tidak apa-apa," ujar Gusti. Dia tahu Mawar takut karena tangan gadis itu berkeringat.
Mawar mengangguk. Membiarkan pintu lift menutup.
"Aaarkhh!" Mawar reflek berteriak saat lift berjalan. Dia memeluk Gusti sangat erat. Dalam sekejap gadis tersebut menjadi pusat perhatian semua orang di dalam lift.
"Maaf. Ini pertama kalinya dia naik lift." Gusti meminta maaf mewakili Mawar. Tersenyum pada orang lain yang ada di lift. Mereka semua tampak tersenyum dan mengangguk. Memaklumi tingkah Mawar.
Tak lama kemudian, lift berhenti. Orang-orang sudah keluar. Kecuali Mawar yang tak bergerak. Pelukannya juga menahan Gusti untuk bergerak.
"Maafkan aku, Gus. Aku belum terbiasa dengan itu." Mawar menundukkan kepala karena merasa malu.
"Sudah. Nanti kau pasti terbiasa. Ayo kita pergi ke unitku!" Gusti tak mempermasalahkan perbuatan Mawar. Keduanya segera mendatangi unit apartemen yang sudah dibeli Gusti.
Untuk yang kesekian kalinya Mawar berdecak kagum dengan tempat yang akan ditinggali Gusti.
"Kau akan tinggal di sini?" Mawar merasa tak percaya.
__ADS_1
"Iya. Bagus kan?" tanggap Gusti dengan senyuman bangga.
"Parah. Ini pasti mahal. Kau kerja apa sampai bisa beli tempat bagus begini?" tanya Mawar.
Wajah Gusti langsung memucat. Dia tentu tidak akan bilang bahwa uang yang dirinya dapat dari hasil menjadi gigolo.
"Aku kerja jadi ojek online. Ternyata kalau kerja keras, bisa dapat uang yang banyak." Gusti memberi alasan. Padahal gaji menjadi ojek online tidak sebanyak itu. Yang pastinya tidak akan cukup untuk membeli sebuah unit apartemen.
"Benarkah? Kau hebat sekali. Aku harap nanti juga bisa seperti kau!" balas Mawar.
Gusti tersenyum kecut. Dalam hati, dia berharap Mawar tidak akan menjadi seperti dirinya. Gusti berharap Mawar tidak terjerumus dalam lubang gelap sepertinya.
Setelah mengobrol banyak, Gusti menyuruh Mawar menempati kamar kedua. Kebetulan di apartemennya terdapat dua kamar dengan ukuran yang hampir sama.
Kini Mawar baru selesai berganti pakaian. Dia keluar karena ingin buang air kecil.
Langkah kaki Mawar harus terhenti saat pintu kamar mandi terbuka lebih dulu. Gusti muncul dalam keadaan hanya mengenakan handuk yang terlilit di pinggul.
"Aaarkhh!!!" Mawar yang polos itu berteriak. Dia juga reflek menutupi matanya dengan dua tangan.
__ADS_1