
Mata Gusti mendelik ke arah Alena. Dia tak suka ucapan cewek itu. "Bisakah kau diam?" timpalnya.
Alena cemberut dan duduk sambil menyilang tangan ke depan dada. Membiarkan Gusti mengurus Mawar yang tampak menangis.
"Sudah. Aku nggak apa-apa, Gus. Aku akan pergi sekarang..." ujar Mawar seraya mencoba berhenti menangis.
"Katakan yang terjadi sampai kau kembali dan menangis begini," bujuk Gusti.
Mawar menggeleng. Dia tak tahu harus menjawab apa. Dirinya mendorong Gusti menjauh dan segera pergi.
"Mawar!" Gusti hendak mengikuti.
"Tidak! Jangan ikut! Aku ingin sendiri!" tegas Mawar, tepat sebelum membuka pintu.
Gusti sontak membeku di tempat, membiarkan Mawar beranjak dari hadapannya. Padahal dia sangat ingin mengikuti Mawar. Dirinya berharap gadis itu tidak mengadukan apa yang dilihatnya pada orang-orang di kampung.
"Dia siapa sih, Kak? Kayaknya penting banget?" cetus Alena yang bisa melihat gurat kegelisahan di wajah Gusti.
"Kau sebaiknya pulang!" ujar Gusti yang tak sama sekali menjawab pertanyaan Alena.
"Tapi yang tadi belum selesai. Kita baru saja mulai. Aku akan telanjang lagi," kata Alena. Dia segera membuka bajunya.
Melihat itu, Gusti menghampiri dan langsung menghentikan Alena. "Cukup! Aku sudah tidak mood. Kau sebaiknya pergi selagi aku masih tenang," ucapnya.
__ADS_1
Alena mendengus kasar. Meskipun begitu, dia mau menuruti permintaan Gusti. Cewek tersebut mengambil tasnya dan pulang.
Sementara itu, Gusti duduk sambil memegangi kepala. Dia berusaha tenang.
"Semuanya benar-benar kacau!" keluh Gusti.
Puas meratapi masalah, Gusti pergi ke kampus. Dia menjalani kuliah seperti biasa. Kebetulan juga hari itu ada ujian tertulis yang harus dijalani.
Gusti meminum air yang banyak setelah menjawab soal ujian. Dia merasa tak bisa menjawab soal ujian dengan baik hari itu. Apalagi saat Mawar tak kunjung mengangkat telepon atau membalas pesannya.
"Kau nggak apa-apa, Gus?" tegur Widy.
"Aku lagi terganggu banget sama sesuatu, Wid. Itu juga yang bikin aku nggak fokus jawab soal ujian." Gusti mengusap kasar wajahnya.
Bersamaan dengan itu, Elang datang. Ia merangkul Widy dan Gusti sekaligus. "Kalian ceritain apa?" tanyanya.
"Ini Gusti. Kayaknya lagi ada masalah," ungkap Widy.
Pupil mata Elang membesar. Dia langsung menatap Gusti. "Masalah apa lagi kali ini, Gus? Kau tidak ditipu oleh wanita jadi-jadian lagi kan?" tebaknya.
"Hush! Jaga mulutmu, El!" Gusti menepuk pundak Elang. Ia tentu malu jika Widy mengetahui pekerjaan rahasianya.
"Wanita jadi-jadian? Banci maksudnya?" imbuh Widy.
__ADS_1
"Tenang aja, Gus. Widy udah tahu semuanya," kata Elang.
"Benarkah?" Mata Gusti terbelalak. Dia menatap Widy dengan intens. Cewek itu lantas tersenyum.
"Iya." Widy mengangguk. Dia segera mendekatkan mulutnya ke telinga Gusti dan berbisik, "Elang juga cerita tentang apa yang kau lakukan bersama tiga wanta malam itu di klub."
Wajah Gusti seketika memerah. Dia melotot dan kembali memukul Elang. "Dasar! Bisa-bisanya kau menceritakan itu pada Widy tanpa sepengetahuanku. Teman edan!"
"Sorry, Gus. Mending kita ngobrol di taman deh. Kau juga harus tahu siapa Widy," kata Elang.
Mendengar Elang berucap begitu, Widy membulatkan mata. Kini dia yang memukul pundak Elang.
"Apaan sih, El. Kenapa aku juga kena?" protes Widy.
"Maksudmu?" Gusti lantas penasaran.
"Udah, Gus. Ayo kita pergi ke tempat yang tenang terlebih dahulu," ajak Elang. Dia, Gusti dan Widy pergi ke taman. Mereka saling bercerita di sana.
Sungguh, Gusti kaget sekali saat mengetahui kalau Widy juga memiliki pekerjaan serupa dengannya dan Elang. Sekarang tidak ada rahasia lagi di antara tiga sahabat itu. Gusti juga tak lupa memberitahukan kegelisahannya tentang Mawar.
"Kak Gusti!" Suara imut seorang cewek membuat percakapan Gusti dan kawan-kawan terhenti. Atensi mereka semua teralih pada cewek yang muncul.
"Sial!" Gusti langsung mengumpat. Bagaimana tidak? Cewek itu tidak lain adalah Alena.
__ADS_1