
"Mawar!" Gusti merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Mawar sejak tadi terpana. Mengingat penampilan Gusti menjadi lebih tampan dibanding biasanya. Gadis itu mematung karena tenggelam dengan pesona ketampanan teman masa kecilnya. Ia baru sadar ketika Gusti berjalan mendekat.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Gusti tak percaya.
"A-aku kebetulan diterima bekerja di sebuah perusahaan," jawab Mawar tergagap. Wajahnya memerah malu karena berada sangat dekat dengan Gusti. Jantung Mawar berdegup kencang sekali.
"Benarkah? Berarti kau akan tinggal di kota sekarang?" Gusti memastikan.
Mawar mengangguk penuh semangat. "Kita juga bisa lebih sering bertemu!" ucapnya.
Gusti menatap Mawar dengan perasaan cemas. Jika lelaki sepertinya menjadi kacau saat tinggal di kota, bagaimana Mawar yang perempuan? Gadis itu lebih polos darinya.
"Duduklah. Kau pasti lelah. Aku akan mengambilkan minuman untukmu." Gusti menyuruh Mawar duduk di kamarnya. Untuk sementara, dia membiarkan gadis tersebut beristirahat terlebih dahulu.
Gusti membeli minuman segar dari toko sebelah. Dia kembali dan memberikannya pada Mawar.
__ADS_1
"Kau terlihat sangat berbeda, Gus. Kau pasti menjalani kehidupan yang baik di sini," komentar Mawar seraya memperhatikan kamar Gusti. Dia heran kenapa keadaan di kamar itu berantakan. Apalagi ketika melihat beberapa barang yang sudah dikemas. "Apa kau akan pindah?" tanyanya.
"Iya. Aku akan pindah ke tempat yang lebih baik. Lalu kau akan tinggal dimana?" tanggap Gusti.
"Entahlah. Kedatanganku ke sini sebenarnya karena ingin meminta bantuanmu dan Aman. Tapi kalian tidak pernah membalas pesan atau menelepon balik aku." Mawar mengerutkan dahinya.
"Maaf. Aku sangat sibuk. Soalnya harus kuliah sambil kerja." Gusti memberikan alasan logis.
"Aku juga berpikir begitu." Mawar memilih memaklumi. "Ngomong-ngomong, berapa harga sewa di sini? Kalau kau pindah, berarti aku bisa mengambil kamar ini," sambungnya.
"Kenapa?" Mawar menuntut penjelasan.
"Tempat ini tidak akan cocok untukmu. Kau lihat kan? Aku saja pindah dari sini!" jelas Gusti.
"Kalau Aman? Dia masih di sini kan?" tanya Mawar.
"Dia sudah berubah sekarang!" jawab Gusti.
__ADS_1
"Sepertinya kau juga. Kau tampak tidak senang melihat kedatanganku." Mawar sadar kalau sejak tadi Gusti tidak tersenyum sedikit pun. Mengingat lelaki itu sedang mencemaskannya.
"Kenapa kau berpikir begitu. Aku hanya mengkhawatirkanmu. Untuk sementara, bagaimana kau tinggal denganku dulu? Besok aku akan carikan tempat kost yang bagus," usul Gusti. Akhirnya dia mengembangkan senyum.
"Ti-tinggal bersamamu?" mata Mawar membola. Memikirkannya saja dia sudah gugup.
"Iya. Kenapa kau kaget begitu? Kau mengenal aku sejak kecil. Jangan berpikir yang tidak-tidak," tukas Gusti yang terkekeh.
"Enak saja? Memangnya kau pikir aku memikirkan apa?" Mawar langsung membantah dengan wajah bersemu merah. "Baiklah kalau begitu. Aku setuju dengan saranmu," sambungnya. Dia memilih mempercayai Gusti.
"Ya sudah. Kau istirahat saja dulu. Aku mau ke depan untuk mengurus truck angkutan," kata Gusti sembari beranjak keluar.
Mawar mendengus lega. Dia menepuk-nepuk dadanya berulang kali karena heran dengan diri sendiri. Sungguh, dirinya merasa kesulitan menghadapi Gusti. Mengingat Mawar sudah menyimpan perasaan pada lelaki tersebut sejak SMP.
"Bersikaplah normal, Mawar! Jangan sampai dia tahu kalau kau salah tingkah!" Mawar bicara pada dirinya sendiri. Dia kali ini menangkup wajahnya.
Mawar membantu Gusti berkemas setelah puas beristirahat. Keduanya pergi ke kediaman baru Gusti bersama-sama.
__ADS_1