Menjadi Gigolo & Dikelilingi Wanita Cantik

Menjadi Gigolo & Dikelilingi Wanita Cantik
Chapter 43 - Menemani Mawar


__ADS_3

Kini Gusti sedang menemani Mawar untuk melihat kost-kostan khusus perempuan. Kebetulan Gusti menemukan tempat itu melalui internet.


"Bagaimana? Kau suka?" tanya Gusti.


"Iya. Ini bagus banget, Gus. Luas lagi," jawab Mawar sembari melihat-lihat kamar kosong yang akan ditempatinya. Dia mengagumi kostan yang terbilang bagus itu.


Saat itulah Gusti diam-diam mengajak pemilik kost untuk bicara empat mata. Dia berniat akan membayarkan uang sewa milik Mawar. Mengingat harga kost-kostan yang akan ditinggali gadis itu cukup mahal. Gusti takut Mawar akan kesulitan membayarnya. Terlebih dirinya sekarang sudah punya banyak uang.


"Biarkan Mawar membayar kostnya 250 ribu per bulan. Aku akan membayar 500 ribu," ujar Gusti dengan nada pelan.


"Baiklah." Yuni tersenyum seraya menatap kagum Gusti. "Kau baik sekali sama pacarmu. Mawar sangat beruntung," komentarnya.


"Aku bukan pacarnya." Gusti memegangi tengkuk tanpa alasan.


"Lalu apa dong? Masa teman mau bayarin uang sewa temannya? Kalau saudara baru bisa," tanggap Yuni sambil menepuk pundak Gusti. "Duh, udah baik tampan lagi. Sayang sekali sudah punya pacar," sambungnya yang sekarang mencubit pipi Gusti.


Gusti sedikit kaget dengan perlakuan Yuni. Namun dia sudah maklum terhadap sikap emak-emak kolot seperti itu.


"Jangan lupa juga. Rahasiakan semua ini dari Mawar," pinta Gusti yang langsung dijawab Yuni dengan anggukan kepala.

__ADS_1


Setelah bicara dengan Yuni, Gusti kembali menemui Mawar. Dia berdiri ke sebelah gadis itu. Mawar sedang berdiri di depan jendela.


"Kapan kau akan mulai bekerja?" tanya Gusti.


"Lusa nanti. Aku sudah tidak sabar." Mawar menyatukan dua tangannya dengan perasaan antusias.


"Kau mau saran dariku?" ujar Gusti.


"Apa?" tanggap Mawar.


"Jangan berekspetasi terlalu tinggi agar nanti kau tidak terlalu kecewa," saran Gusti.


"Memangnya kenapa?" Mawar jadi khawatir.


"Dih! Bukannya kau juga lelaki kota sekarang? Aku harus berhati-hati juga dong sama kamu." Mawar menatap Gusti.


Senyuman mengembang di wajah tampan Gusti. "Iya. Bisa dibilang begitu," ucapnya seraya membalas tatapan Mawar. Mereka lantas saling bertukar pandang.


Gusti terpaku menatap Mawar. Tanpa sadar, atensinya tertuju ke bibir gadis tersebut. Perlahan Gusti mulai mendekat.

__ADS_1


Jujur saja, baru kali ini Gusti memiliki keberanian begitu kepada Mawar. Selama di kampung, dia bahkan merasa enggan menggenggam tangan gadis tersebut. Hanya terakhir kali saja Gusti berani memeluk Mawar. Itu pun karena alasan berpamitan.


Menjadi pemuda kota, sudah membuat pandangan dan keberanian Gusti berubah.


Deg!


Deg!


Deg!


Jantung Mawar berdegup kencang sekali. Wajahnya memerah padam. Dia merasa bersemangat sekaligus takut.


"Lihatlah! Sejak tadi macetnya tidak kunjung berhenti!" Buru-buru Mawar membuang muka. Terlihat sekali kalau dia tampak tegang.


Gusti lantas mundur. Dia menggelengkan kepala karena sadar kalau dirinya hampir melakukan hal gila.


"Ah iya. Di sini memang selalu macet. Apalagi pas pagi dan sore." Gusti menanggapi ucapan Mawar. Dia juga segera melepas rangkulannya. "Ayo! Kita sebaiknya pulang. Kau bisa pindahan besok saja," ajaknya.


Gusti berjalan lebih dulu keluar kamar. Dia bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi.

__ADS_1


Sementara Mawar, langsung ambruk menyandar ke dinding. Dia memegangi wajahnya. Sungguh, debaran jantung Mawar masih tak terbendung.


"Apa-apaan itu? Apa tadi Gusti ingin menciumku?" gumam Mawar.


__ADS_2