
Gusti sengaja memakan waktu lama untuk melepas pakaian. Luna yang mengetahuinya sontak mendesak.
"Bisakah kau cepat?!" geram Luna. Dia mendorong Gusti hingga duduk ke kursi. Menampar wajah lelaki itu dengan keras.
"Ugh!" Gusti merintih sejenak. Saat itulah Luna mengikatnya dengan tali.
"Hei! Apa yang kau lakukan!" protes Gusti.
Seperti sudah berpengalaman, Luna dengan cepat bisa menjerat badan Gusti. Lelaki itu sekarang tak bisa bergerak.
"Tolong! Seseorang kumohon!" pekik Gusti yang merasa tak bisa melakukan apapun lagi.
"Haha! Berteriak saja sesukamu. Tidak akan ada yang mendengar!" ujar Luna kesenangan. Dia perlahan memegangi pundak Gusti. "Kau sebaiknya tenang, Sayang... Bagaimana kalau aku bisa membuatmu bergairah?" ucapnya lagi.
"Menjauhlah dariku!" tegas Gusti seraya berusaha melepas tali yang menjeratnya dengan kursi. Namun dia sama sekali tak bergeming.
Luna tak menanggapi perkataan Gusti. Dia malah berjongkok di depan lelaki itu. Luna berniat ingin melakukan oral untuk Gusti.
"Tidak! Jangan coba-coba!" kata Gusti.
Tepat sebelum Luna bertindak, terdengar suara kaca pecah dari luar. Hal itu membuat Luna sontak beranjak dan memeriksa keluar.
Gusti yang sekarang tinggal sendiri, merasa frustasi. Tubuhnya gemetar karena ketakutan. Mengingat itu adalah pengalaman pertamanya berhadapan dengan orang seperti Luna.
__ADS_1
"Gusti!" Elang muncul dari balik pintu. Dia bergegas melepas ikatan Gusti.
"Elang! Bagaimana kau tahu aku di sini?" tanya Gusti.
"Aku akan menjawabnya nanti. Yang terpenting sekarang kita pergi dari sini!" ujar Elang.
Setelah ikatan tali terlepas, Gusti langsung mengenakan pakaian. Dia dan Elang buru-buru pergi dari villa.
Saat berlari menuju pintu, Gusti bisa melihat Luna tak sadarkan diri di lantai. Dia yakin, Elang lah yang sudah membuat Luna tak berdaya seperti itu.
"Apa kita perlu lapor polisi?" tanya Gusti seraya masuk ke mobil bersama Elang.
"Apa kau gila? Lapor polisi sama saja dengan bunuh diri!" jawab Elang. Dia segera menjalankan mobil.
"Apa yang mereka lakukan?" gumam Widy penasaran. Dia kembali menjalankan mobil saat mobil Elang sudah berjalan.
...***...
Hening menyelimuti suasana. Elang sengaja diam agar Gusti bisa tenang.
"Minumlah!" Elang mengambil air mineral untuk diberikan pada Gusti.
"Makasih." Gusti menerima minuman pemberian Elang. Air putih memang bisa membuat dirinya lebih tenang.
__ADS_1
"Luna tidak sempat melakukan apapun kepadamu kan?" tanya Elang.
"Kami hanya sempat berciuman. Beruntungnya kau datang di waktu yang tepat. Jika tidak, Luna pasti akan menyentuhku," tanggap Gusti sembari menyandarkan punggung.
"Kau harus berhati-hati mulai sekarang, Gus. Banyak orang yang memiliki kedok seperti Luna," ungkap Elang.
"Apa kau mengenalnya? Mengingat kau tahu kalau aku ada di villa itu?" Gusti menyelidik.
"Ya, aku juga pernah sepertimu. Tapi bedanya, saat itu tidak ada orang yang menolongku," jelas Elang.
Mata Gusti sontak membulat. "Kalau begitu, apa kau dan Luna melakukan..." Gusti tak kuasa meneruskan perkataannya.
"Aku tidak akan menceritakannya. Tebaklah sesuka hatimu," sahut Elang ambigu.
"Ayolah, El. Kau membuatku berpikiran kotor," timpal Gusti kecewa.
Elang tergelak. "Btw, punyamu ternyata gede juga," sindirinya seraya melirik ke bagian bawah perut Gusti. Mengingat tadi Elang sempat melihat lelaki tersebut tanpa busana.
"Edan kau!" geram Gusti sambil mengarahkan tinju. Wajahnya memerah padam.
Tak lama kemudian, mereka tiba di depan sebuah klub malam.
"Kita dimana?" tanya Gusti.
__ADS_1
"Aku ada janji. Kebetulan wanita yang akan kutemui ini menyarankanku membawa teman," ucap Elang sembari keluar mobil lebih dulu.