Menjadi Gigolo & Dikelilingi Wanita Cantik

Menjadi Gigolo & Dikelilingi Wanita Cantik
Chapter 73 - Tawaran Menggiurkan


__ADS_3

Masuklah Gusti dan kawan-kawan ke tempat pesta dilakukan. Di sana terdapat kolam renang besar. Orang-orang yang ada di sana bahkan hanya mengenakan pakaian renang. Mereka tampak bersenang-senang tanpa malu.


"Tempat apaan ini? Semuanya hampir telanjang," gumam Gusti yang tak pernah melihat pemandangan begitu.


"Dunia lebih kotor dari yang kau kira, Gus. Ini hanya bagian luarnya saja. Kau belum melihat apa yang terjadi di ruangan," sahut Elang. Ia menuntun Gusti pergi ke sebuah ruangan.


"Tunggu! Kalian tidak bisa masuk begitu saja!!" Seorang bodyguard yang berjaga di depan pintu, menghalangi gerak Gusti dan kawan-kawan.


"Tapi kami membawa barang yang di inginkan Tuan Bagas," kata Elang.


"Aku tahu. Petugas keamanan sudah memberitahuku. Tapi kalian harus menunggu. Bosku sedang sibuk di dalam," sahut bodyguard tersebut.


"Berapa lama kami harus menunggu?" tanya Gusti. Dia hanya ingin cepat-cepat pergi dari tempat hina itu.


"Sampai bosku selesai dengan urusannya," jawab sang bodyguard.


Gusti, Elang, dan Widy terpaksa menunggu. Elang menyuruh Gusti untuk meletakkan kardus ke lantai. Mereka akan penat jika terlalu lama mengangkat kardus tersebut.


Beberapa menit kemudian, bodyguard yang berjaga akhirnya menyuruh Gusti dan kawan-kawan masuk. Ketiganya pun langsung bergerak.

__ADS_1


Sebuah ruangan dengan hanya bersinarkan lampu merah menyambut. Gusti mengerutkan dahi. Dia melihat ada banyak wanita di sana. Sementara pria tampak hanya sekitar tiga orang saja. Mereka terlihat acak-acakan dan berkeringat, seperti baru saja melakukan aktifitas melelahkan.


Atensi Gusti tertuju pada sosok Bagas yang duduk di sofa. Dari gaya dan sikap arogannya, jelas dia adalah bos yang disebutkan oleh bodyguard tadi.


"Akhirnya datang juga," komentar Bagas.


Elang menyuruh Gusti meletakkan kardus ke meja. Saat sudah tergeletak di sana, Elang segera membukanya.


Pupil mata Gusti membesar tatkala menyaksikan benda yang ada dalam kardus. Dia langsung mempelototi Elang. Sungguh, Gusti rasanya ingin sekali memarahi Elang. Namun harus ditahan karena keadaan yang tidak memungkinkan.


Bagas tersenyum lebar saat melihat barang yang ditunjukkan Elang. Meskipun begitu, sebagai pembeli dia tidak mau percaya begitu saja. Terlebih barang ilegal yang dibawa Elang mahal.


Elang menatap Gusti dan Widy sejenak. Dia mendapat tatapan perlawanan dari dua orang tersebut.


"Kami tidak bisa. Kami--"


"Ayolah! Aku ingin mengenal kalian," potong Bagas. "Atau aku tidak jadi membeli barang ini," ancamnya.


Elang mendengus kasar. Tanpa pikir panjang, dia buka topi dan maskernya.

__ADS_1


"El!" protes Gusti yang tak terima. Tetapi dia terdiam saat Widy melakukan hal yang sama seperti Elang. Kini hanya tinggal Gusti saja yang belum memperlihatkan wajahnya.


"Apa temanmu yang satu ini sangat pemalu? Atau berwajah jelek?" timpal Bagas sambil menunjuk Gusti.


"Ayolah, Gus. Percayalah padaku. Tidak akan terjadi apa-apa. Kau bisa memarahiku sepuasnya setelah ini selesai," bisik Elang.


Sambil mendelikkan mata ke Elang, Gusti lepas masker dan topinya. Paras tampannya sekarang terpampang nyata.


"Sial! Ternyata aku salah," ucap Bagas saat melihat wajah Gusti. Dia terkekeh. Sementara para wanita di sana kegirangan menyaksikan Gusti.


"Sekarang aku ingin kalian buktikan padaku kalau barang ini asli," ujar Bagas.


"Apa?! Aku rasa itu tidak perlu. Aku jamin, barang ini semua asli!" tegas Elang.


"Kalau begitu buktikan padaku. Lagi pula jika kalian memakainya, kalian bisa bergabung dengan pesta ini," sahut Bagas sembari menyeringai.


"Kami tidak berminat bergabung dengan pestamu!" Gusti akhirnya angkat suara.


"Harga barang ini 850 juta kan? Aku akan menaikkannya jadi 3 milyar kalau kalian mencobanya." Bagas memberikan tawaran menggiurkan.

__ADS_1


__ADS_2