
Salat 3 rakaat telah selesai disambung dengan ceramah yang Mega sendiri tidak tahu siapa yang mengisinya.
Mega duduk di paling sudut ujung, tak ada yang menyapa dirinya karena semua khusyuk mendengar ceramah. Sedangkan ia malah melihat ke kanan dan kiri serta bimbang.
'Tadi, salat gue bener apa enggak, ya? Hahahaha, mana terakhir salat pas SD lagi. Pen nangis gue woy! Bawa gue dari sini!' batin Mega menutup mulut agar tidak keluar suara tawanya.
'Bapak-bapak di depan juga bahas apaan, sih? Mana gue kagak paham lagi, ya, Allah. Pen pulang, laper bener gue,' batin Mega kembali yang sudah mulai gelisah.
"Baik, kalian semua sudah boleh makan malam atau kembali menghafal," titah orang yang ada di depan.
Semua orang masih duduk di tempat masing-masing, Mega melihat ke arah jendela terlihat laki-laki dengan sarung dan sorpan tak tinggal peci berjalan ke luar.
Setelah itu, semua santri akhirnya berhamburan keluar dan santriwati juga bersiap-siap ingin keluar dari musala bagian wanita.
"Eh, ada Ning!" pekik salah satu dari mereka saat melihat Mega yang baru bangkit dan ingin ikut keluar juga.
'Eh-eh, pada ngapa lagi nih semua orang. Kocak bener, dah! Pen pulang aja gue, ih!' batin Mega menggerutu dengan kehidupan barunya ini.
Semua santriwati tadi memberi jalan dan menunduk ke arahnya, bahkan ada yang mencium tangannya sedangkan ia kembali mencium tangan orang tersebut.
"Lah, kalian kenapa gak keluar?" tanya Mega saat sudah keluar dari musala tapi mereka tak kunjung keluar juga.
"Ning saja yang duluan keluar, kami akan berjalan di belakang Ning nanti," jawab salah satu di antara mereka dengan kepala yang tetap menunduk.
"Yaudah, deh. Saya duluan, ya. Assalamualaikum, bye!" pamitku melambaikan tangan ke arah mereka.
Menuju rumah, aku bersenandung dan juga sedikit berlari kecil.
"Eh, rumahnya tadi yang mana, ya?" gumam Mega menggaruk kepala yang dirasa gatal.
"Mbak ...!" pekik salah seorang dan memeluk kaki Mega.
Ia langsung menatap dengan heran ke arah anak laki-laki yang mungkin berusia 7 tahun, Mega hanya menampilkan cengiran karena tak tahu juga harus berbicara apa.
"K-kita pulang, yuk!" ajak Mega.
"Ayo! Mbak tadi tumben banget salat di musala, biasanya juga di rumah karena Mbak gak suka berbaur dengan yang lainnya.
Mbak selalu bilang malu dan malu, padahal gak ada yang perlu dimalukan. Sampai-sampai, nih, ya.
__ADS_1
Abah ngancem Mbak mau dimasukkan ke sekolah umum agar Mbak itu mau berbaur dan gak cuma minta tugas dari ustadz atau ustadzah yang ada," jelas anak kecil itu dengan memegang tangan Mega.
Sedangkan Mega, menyimak dengan seksama bagaimana sebenarnya karakter orang yang sedang masuki ini.
"Mbak? Kok Mbak diam saja dari tadi?" tanya anak kecil itu karena tak mendapat respon apa-apa dari Mega.
"Eh? Hehe, M-mbak kayaknya laper. Jadi, gini deh. Hehehe," jawab Mega dengan cengengesan.
'Udah kayak orang t*lol gak, sih, gue? Ya, ampun. Begitu jiwa yang punya tubuh nih balik lagi, auto malu dah dia,' batin Mega menutup mata.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh, Abah, Umi!" salam anak kecil itu mengetuk pintu sekali lalu salam.
"Kenapa gak masuk aja?" tanya Mega menatap ke arahnya, "kan, ini rumah orang tua kita."
"Mbak. Kan, Mbak yang ngasih tau Akbar kalau adab itu harus tetap dijaga meskipun ini adalah rumah orang tua kita sekalipun.
Kita tetap harus salam dan menunggu Abah dan Umi membuka pintu agar Abah dan Umi tahu bahwa kita yang masuk ke dalam rumah," ungkap anak kecil yang ternyata namanya Akbar--adik Afifah yang sekarang ditempati oleh jiwa Mega.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarokatuh. Maa Syaa Allah, anak-anak sholeh dan shalihah Umi dah pada pulang salat?" tanya Umi dengan senyum yang mengembang membuka pintu.
"Alhamdulillah, Umi," sahut Akbar tersenyum dan mengecup tangan Umi disusul oleh Mega yang ikut-ikutan.
"Ayo, masuk! Kita makan, Abah udah nunggu di dalam. Afifah, tutup kembali pintunya nanti, ya," titah Umi ketika mereka sudah masuk ke dalam rumah.
"Ingat, nama lu Afifah dan itu adik lu namanya Akbar Mega. Jangan sampe lupa," gumam Mega sembari menutup pintu kemudian melangkah masuk ke dalam dapur.
Sesampainya Mega di dalam dapur sudah ada Abah-nya yang duduk menatap ke arahnya. Mega berjalan mendekat dan menyalim terlebih dulu tangan laki-laki itu.
Berjalan ke arah bangku yang kosong dan menatap ke arah Umi dengan senyumannya yang terpancar.
''Yuk-yuk, ayo kita langsung makan aja,'' timpal Umi dan membagikan piring ke masing-masing orang yang ada.
Ia juga mengambilkan nasi dan lauk pauk ke setiap orang yang ada di meja makan ini.
''Tumben kamu keluar rumah, ada apa?'' tanya Abah menatap Mega sedangkan Mega sibuk sendiri dengan makan malamnya ini.
''Ehem!'' sambung Abah dengan berdehem menengur Afifa.
Mega langsung mengalihkan pandangan dan melihat ke arah Abah yang duduk di depan, ''Abah, bicara sama Afifah?'' tanya Mega dengan cengengesan dan mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya dengan susah payah.
__ADS_1
"Kenapa kamu keluar dari kamar kamu itu? Apa sekarang ada laki-laki yang kamu sukai mangkanya kamu keluar dan ingin melihat dia?" tebak Abah dengan wajah tengah.
"Haha, ya, enggaklah Bah. Ngapain juga suka sama santri sendiri, eh, tapi kalo spek-nya kayak di novel-novel gitu, sih, Bah. Afifah mau," jawab Mega dengan tertawa.
Melihat tak ada yang ikut tertawa dengannya, ia terdiam dan melihat ke arah Umi serta Akbar sedangkan Abah sudah menautkan alis.
"Hehe ... maaf, Bah," sambung Mega menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kamu kenapa? Apa ada yang sakit dibagian kepala?" tanya Abah kembali merasa heran dengan sikap anaknya.
"Enggak, kok, Bah. Gak kenapa-kenapa," kata Mega sembari menggelengkan kepala.
Ia mendorong kerudung ke belakang seperti yang dilakukan Mega ketika sekolah, "Mana anak jilbab kamu?"
"Ha?"
"Iya, ciput anak jilbab yang biasa dipakai biar gak keliatan rambut kamu itu."
"Eh ... anu, itu tadi Bah. Gak keliatan di mana."
"Maksudnya?"
"Karena mau buru-buru, jadi Afifa tadi gak pake deh. Kelupaan."
"Udah Bah ... sekarang kita makan saja, jangan introgasi Afifa seperti itunya," celetuk Umi yang setidaknya membantu Mega dan membuat ia bernapas lega.
Mereka akhirnya makan bersama sebelum azan Isya berkumandang nantinya, setelah selesai makan Afifa mengangkat piring dan disuruh untuk mencucinya langsung.
Meskipun nantinya ada santriwati yang membantu di rumah ini, tapi tetap saja tidak etis jika mereka yang harus mencuci piring dan memang biasanya Afifa melakukan hal rumah sendirian tanpa memberi izin santri masuk ke rumah ini.
"Cara cuci piring gimana, woy?" gumam Mega menatap tumpukan piring di wastafel.
"Nih orang pasti gak punya hp, gimana caranya gue liat tutor di youtube? Tv aja gak punya apalagi handphone," sambungku.
"Afifa, Sayang? Ada apa Nak?" tanya Umi yang datang ke dapur membuat Mega terlonjak kaget.
"Hehe, itu, anu Umi. Caranya nyuci piring gimana, ya?"
Pertanyaan dari Mega tentu saja membuat Umi-nya menatap dengan heran dan kaget, Mega lupa bahwa ia berada di tubuh seorang Ning Afifa yang hampir sempurna.
__ADS_1
Dapat melakukan apa pun itu kecuali keluar dari rumah dan berbaur dengan santri yang ada di ponpes Abah-nya.
Semua itu bukan tanpa sebab, tapi ada suatu hal yang membuat Afifah enggan kembali ke luar dari rumah dan berbaur dengan para santri.