
Mereka masuk ke dalam bioskop karena sebentar lagi film-nya akan tayang, Megi dan Wendi sempat berdebat memilih ingin menonton apa.
Hingga akhirnya Wendi mengalah, mereka semua menonton film mermaid. Leon dan Wendi menggelengkan kepala saat melihat pilihan wanita itu.
Sedangkan Afifa hanya bisa diam saja sebab ia tak tahu itu film apa dan bagaimana, mereka berjalan menaiki tangga mencari nomor bangku.
"Sini tiket lu, biar gue cariin," pinta Leon menadahkan tangannya sebab melihat Afifa tampak tak paham cara mencari bangku.
"Eh, ini Kak. Makasih, ya," kata Afifa menyerahkan.
Sedangkan ketiga teman lainnya sudah mendapatkan bangku mereka masing-masing, Afifa mendekat ke arah mereka.
"Bukannya kita seharusnya sama-sama, ya? Kenapa malah mencar?"
"Bangkunya gak cukup berlima," ungkap Megi sebagai pembeli tiket berbohong. Wendi langsung menatap ke wajah wanita itu dengan menautkan alis.
"Iya, emang Wendi?" tanya Afifa menaikkan sebelah alisnya.
Megi menatap Wendi memberi isyarat agar dirinya bisa diajak kerja sama, "I-iya," gelagap Wendi dengan cengengesan.
"Yaudah, deh, kalau gitu," pasrah Afifa dan melihat ke arah Leon.
Leon memanggil Afifa agar datang ke tempatnya, sebab dirinya sudah menemukan bangku mereka berdua.
"Aku ke situ dulu, ya," ujar Afifa menunjuk ke arah Leon.
"Iya-iya, aman. Sana deh lu," usir Megi mengibas-ngibaskan tangannya.
Afifa memanyunkan mulutnya dan melangkah mendekat ke arah Leon sedangkan Megi yang melihatnya malah gembira.
"Kenapa lu malah deketin mereka?" bisik Wendi yang tak terima.
"Lah, kenapa? Kak Leon itu cocok sama Mega, mereka pas apalagi tadi Kak Leon sampe belain Mega dan paling penting nih, ya. Lu gak liat pandangan Mega ke Kak Leon tuh kek apa? Kek ada bening-bening cinta gitu," cakap Megi dengan dramatis.
Wendi menempelkan punggung tangannya ke kening Megi, "Pantasan, panas. Rada gila jadinya," desisnya melepaskan tangan dan menatap lurus ke depan.
Afifa mulai duduk dan melihat ke arah sekitar di mana para pasangan yang saling berdampingan bahkan mereka sampai menyandarkan kepala serta foto-foto bersama.
Tentu saja hal tersebut membuat Afifa risih apalagi dengan kamera-kamera yang ada, dirinya tak ingin masuk ke dalam galeri orang lain.
Akan tetapi, ia mencoba untuk tetap tenang. Bagaimana pun ini moment pertama kali masuk ke dalam yang namanya bioskop.
'Tenang Afifa, kamu gak akan lama di sini, kok. Nikmati aja dulu, lagian hal begini tidak akan bisa keulang lagi, mungkin,' batin Afifa menghela napas dan menyandarkan punggung ke kursi.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Leon tiba-tiba dengan menatap ke arahnya.
"Apanya Kak?"
"Lu keliatan gak nyaman, apa karena deket sama gue?"
"Enggak, biasa aja kok Kak."
Leon hanya ber'oh' ria dan kembali menatap ke arah depan, ia mengambil handphone dan memakai earphon.
"Gue gak suka film beginian," jelasnya saat mata Afifa melirik ke arah handphone lalu kepalanya mendongak dan menatap ke arah Afifa.
"Lu suka?" sambungnya bertanya membuat Afifa hanya bisa terdiam.
'Mana aku tau suka atau enggak, aku, 'kan gak pernah liatnya,' batin Afifa andai bisa dia ungkapkan.
"Hehe, belum tau Kak. Mungkin suka, mungkin juga enggak."
Leon kembali mengangguk dan menatap ke arah handphone-nya sedangkan Afifa fokus ke depan sebab film akan segera dimulai.
Durasi film tak sampai satu jam, Afifa meletakkan pop corn di tengah-tengah mereka agar Leon bisa mengambil juga.
"Sayang, cantik banget, 'kan putri duyungnya?" tanya penonton di samping Afifa.
"Tapi, dia bisa berenang dan punya kekuatan. Lah, aku? Cuma jadi beban kamu."
"Kamu bukan beban Sayang, kamu itu anugerah buat aku."
"Aaa ... Sayang."
"Astaghfirullah," gumam Afifa yang malah mendengar kalimat-kalimat menggelikan seperti itu.
"Hahaha." Pandangan Afifa yang tadinya lurus ke depan melirik ke arah sumber tawa.
"Ya, emang begitu kalau yang pacaran adalah anak puber," celetuk Leon ternyata mendengar kalimat-kalimat itu.
"Jadi, kalau Kak Leon pacaran gak kayak gitu?" tanya Afifa yang penasaran.
"Enggak dong."
"Emangnya, Kak Leon punya pacar?" tanya Afifa menaikkan sebelah alisnya.
Leon terdiam mendengar pertanyaan dari Afifa dan menatap wajah wanita di sampingnya, ia mendekat ke arah wajahnya membuat Afifa sontak langsung menjauh.
__ADS_1
"Emangnya, lu mau jadi pacar gue?" tanya Leon dengan nada serius menatap setiap inc wajah Afifa.
Hal itu membuat Afifa kalang kabut dan jantungnya berdegub kencang akibat ulah dari Leon.
"Hahaha, wajah lu aneh banget kalo ketakutan. Gue becanda kali, gue juga ogah sama cewek kek lu," papar Leon menjauhkan kembali wajahnya dari Afifa.
Afifa menghela napas pelan dan menutup matanya sebentar agar tersadar bahwa Leon memang laki-laki jahil.
Beberapa kali Afifa tersenyum melihat setiap adegan yang diputar di hadapannya, Leon tak sengaja melihat senyuman itu.
Dibuka kamera handphone dan dengan diam-diam mem-foto Afifa yang sedang fokus melihat film.
"Cantik," gumamnya sembari menatap foto Afifa di galerinya.
Dimasukkan kembali handphone dan mencoba untuk melihat film yang ada di depan mereka saat ini.
"Seru emang?" tanya Leon dekat dengan telinga Afifa agar terdengar olehnya.
"Seru, Kak! Liat aja, nih, pop corn," kata Afifa tak mengalihkan pandangan dan langsung memberikan pop corn begitu saja pada Leon.
Tanpa disadari oleh Afifa, tangan mereka bersenggolan membuat Leon menatap ke arah tangan mereka lalu melihat ke Afifa kembali.
'Gak, Leon. Lu jangan sampe jatuh cinta sama cewek jadi-jadian kek dia ini, lu bahkan pernah diketawain sama dia cuma karena terkena pukulan dan gak kalah juga.
Nih orang aslinya nyebelin, jadi jangan sampai lu jatuh cinta sama anak kemarin sore kayak dia. Masih banyak cewek-cewek yang sebaya lu dan lebih pinter dari nih cewek di kampus yang ngejar-ngejar lu.
Jadi, jangan pernah suka apalagi sampe menaruh rasa pada dedemit jadi-jadian padanya,' batin Leon menggelengkan kepala dan mengambil pop corn tadi.
Afifa melirik sekilas lalu menatap dengan fokus ke depan hingga acara pun akhirnya selesai.
"Tunggu, biarin mereka turun lebih dulu!" titah Leon saat Afifa mau keluar ruangan padahal sedang ramai-ramainya yang turun.
Bahkan, ketiga temannya masih sibuk berfoto di bangku mereka tadi dengan berbagai pose serta tertawa bersama.
Afifa yang melihat dari bangkunya hanya tersenyum menatap kebahagiaan mereka.
"Kenapa? Lu mau juga foto kayak mereka?" tebak Leon membuat Afifa menatap ke arahnya.
"Enggak, kok, Kak. Cuma, seneng aja ngeliat mereka seneng kayak gitu."
"Ck! Udah kek orang tua aja lu, seneng kalo anaknya seneng," ejek Leon dan bangkit meninggalkan Afifa.
"Dih, Kak Leon mah. Tadi, aku disuruhnya tunggu dulu sekarang malah dia yang ninggalin aku," gerutu Afifa sebal sambil menatap punggung yang menjauh.
__ADS_1