
"Pondok pesantren darul amanah, Jawa Tengah?" gumam Mega menatap pamplet bertuliskan nama dan alamat pondok.
Mata Mega membulat dan menutup mulutnya, "Anj*r, di Jawa Tengah gue!" ucapnya sembari menggelengkan kepala.
"Ini, cara pulang gimana, ya?" tanya Mega dengan berkacak pinggang sambil melihat ke arah jalanan.
"Assalamualaikum Ning?" salam seseorang membuat Mega berlonjat kaget. Ia langsung melihat ke sumber suara.
"Eh, waalaikumsalam Ustadz," jawab Mega sambil merapikan kerudungnya.
"Ning ngapain ada di sini? Mau keluar?"
"Oh, enggak-enggak. Anu, itu tadi cuma mau liat-liat aja," gagap Mega menunjuk ke arah gerbang yang tertutup.
'Ya, Allah. Ganteng banget, sih, nih Ustadz. Namanya siapa, ya? Masa, harus nanya ke Abah dulu? Jangankan seminggu, seumur hidup aja aku rela di sini kalo ada modelan cakep kek gini,' batin Mega senyum-senyum sendiri sambil menunduk.
Ustadz tadi hanya mengangguk paham, tak lama ada salah satu santriwati yang datang menyusul Mega.
"Assalamualaikum, maaf Ustadz Ridwan. Ana mau manggil Ning Afifa," salamnya membuat Mega langsung mendongak menatap ke arah santriwati itu.
"Waalaikumsalam, iya, gak papa. Silahkan!"
"Ning, dipanggil Bu Nyai. Katanya udah sore, harus pulang," ungkapnya menyampaikan pesan.
"Ha? Sudah sore, ya?" tanya Mega kaget dan langsung melihat ke atas langit. Terlihat warna jingga yang sudah mewarnai bumi.
"Hehe, iya, sudah sore sepertinya. Yaudah kalau gitu, saya permisi Ustadz Ridwan," sambung Mega dan pamit dari hadapannya.
"Assalamualaikum Ustadz."
"Waalaikumsalam."
Mereka pergi ke rumah dengan bersama-sama, sesekali Mega menatap ke arah belakang dan beberapa kali saat yang bersamaan Ustadz Ridwan juga sedang melihat ke arahnya.
'Ridwan-ridwan,' batin Mega menghafal namanya.
Sesampainya di teras rumah, santriwati tadi berhenti dan pamit pergi karena tugasnya hanya disuruh mencari Mega saja.
"Assalamualaikum, Umi," salam Mega masuk ke dalam rumah sambil mengedarkan pandangannya.
Ia masuk terlebih dahulu ke kamar untuk meletakkan kitab dan mencari keberadaan Umi di dapur.
__ADS_1
"Umi, lagi masak apa tuh?" tanya Mega dengan wajah ceria.
Umi yang membelakangi dirinya akhirnya membalikan tubuh menatap ke arahnya dengan wajah datar.
"Habis dari mana kamu?"
"Habis ngaji Mik."
"Bukannya udah lama selesainya?"
"Baru Mik."
"Jangan bohong sama Umi! Kamu dari mana Afifa?" tanya Umi dengan suara tegas.
"Dari gerbang tadi Mi."
"Gerbang? Mau ngapain kamu? Mau ke pantai lagi biar pas pulang-pulang pingsan kembali seperti waktu itu?"
"B-bukan kayak gitu Mi, Afifa cuma mau liat suasana luar dari gerbang doang, kok."
"Dengar, ya, Afifa. Umi senang kamu bisa keluar dari rumah dan bersosialisasi. Tapi, bukan berarti kamu jadi boleh berkeliaran semau kamu.
Nanti, jika kamu pergi-pergi seperti ini. Akan dicontoh dengan yang lainnya, gimana? Umi dan Abah juga yang akan di salahkan!"
Amarah seperti ini sudah biasa dia dapatkan, hanya saja bukankah memang harus seperti ini jika seseorang sedang memberi nasihat pada kita?
Umi hanya khawatir bukan marah apalagi emosi, bisa di dengar dari nada bicaranya yang berbeda dengan orang yang marah.
"Umi takut, takut kalau kamu kenapa-kenapa di luaran sana Afifa. Umi ... hiks ... Umi gak tau harus berbuat apa nanti kalau kamu kenapa-kenapa," lirih Umi membuat Mega mendongakkan wajah.
Ia melihat wanita di depannya menangis dan menghapus jejak air mata, Mega mendekat untuk memeluknya.
"Maafin Afifa Umi. Akan tetapi, Afifa ke depan hanya untuk melihat saja gak lebih, kok. Afifa juga di situ berdiri baru 10 menit sepertinya.
Baru deh, salah satu santriwati dapat memanggil Afifa. Jangan nangis lagi Umi, Afifa minta maaf udah buat Umi khawatir," ucap Afifa mengusap punggung Umi.
Umi menghela napas dengan berat, melepaskan pelukan dan mengusap wajahnya menghilangkan jejak air mata.
"Sekarang! Umi kasih kamu hukuman, kamu harus bantu orang-orang di dapur juga nanti bersih-bersih. 3 hari berturut-turut kamu harus lakuin apa yang para santri lakukan di sini. Apa pun itu juga!" tegas Umi dengan suara lantang.
Bahu Mega merosot ke bawah kala mendengar apa hukuman yang dijatuhkan Umi untuknya, ia kira menjadi Ning akan membuat dirinya bahagia.
__ADS_1
Bisa memerintah seseorang, ternyata malah dia diperlakukan sama saja seperti para santri yang lainnya.
"Umi ... jangan dong, ya, satu hari aja deh," bujuk Mega dengan wajah yang memelas.
"Tidak ada tawar menawar!" tegas Umi menatap lurus ke depan.
"Umi ... dua hari deh dua hari, ya, ya. Pliss ...." Mega menangkup tangannya di depan dada dan tersenyum menatap Umi.
"Nanti malam akan diumumkan soal ini agar semua orang tau, tidak ada yang boleh men-spesialkanmu!"
Umi pergi dari dapur meninggalkan Mega begitu saja, Mega memajukan bibirnya dengan menampilkan wajah kesal.
"Haha, Mbak kena hukum sama Umi! Kesian," ejek Akbar yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
"Kamu denger?"
Akbar menganggukkan kepalanya, "Denger, dong! Kasian banget Mbak, mana besok banyak kerjaan lagi. Gak papa, Mbak. Akbar nanti bantuin, kok. Bantu doa," ungkapnya membuat wajah Mega yang tadinya senang menjadi datar kembali sebab mendengar kalimat terakhirnya.
Mega pergi meninggalkan Akbar di dapur dengan menghentak-hentakkan kakinya dan berniat ke kamar.
Sesampainya di ruang tamu, kaki Mega berhenti kala melihat Ustadz Ridwan sedang berbicara dengan Umi.
'Maa Syaa Allah, ada my jodoh di situ ternyata,' batin Mega tersenyum dan memegang dadanya merasakan degub jantung yang berdetak jauh lebih cepat.
"Mbak ngapain?" tanya Akbar tiba-tiba yang ada di bawah Mega.
"Ha? M-mbak mau masuk ke kamar, cuma lagi ada Ustadz Ridwan di situ," tunjuk Afifa membuat Akbar mengikuti arah yang ditunjuk olehnya.
"Ngapain Ustadz Ridwan, Mbak?"
Mega hanya menaikkan bahu acuh dan terus menatap ke arah laki-laki di depannya yang tengah serius berbicara dengan Umi.
"Sekarang aku tau laki-laki itu keliatan ganteng pas apa, ternyata pas lagi dia berbicara dan menjelaskan sesuatu dengan fokus dan serius," gumam Mega dengan senyuman tak hilang dari wajahnya.
"Apa Mbak?" tanya Akbar membuat Mega menatap ke arahnya.
"Apanya yang apa?" tanya Mega kembali dengan kening berkerut.
"Mbak tadi ngomong apa? Akbar gak denger."
"Gak ngomong apa-apa, kamu tuh yang terlalu kepo!" ejek Mega menaikkan bibir sebelahnya mulai emosi dengan adik dadakannya ini.
__ADS_1
'Wahai pangeranku, ajaklah aku pergi bersamamu ke manapun yang kau mau. Barang langka, nih, kalah dah ketua osis di sekolah aku.
Kalau dibawa ke Jakarta modelan kek Ustadz Ridwan gini, auto semenit dah sold out. Eh ... tapi, emangnya Ustadz Ridwan masih single?' batin Mega mulai penasaran dan bertanya-tanya tentang Ustadz Ridwan.