
"Ehem!" dehem seseorang dari belakang yang membuat kaget Mega.
"Eh, Abah," kata Mega dengan cengengesan menyembunyikan handphone di belakang punggungnya.
"Habis ngapain?"
"Mmm ... anu, gak ada Bah," gelagap Mega bingung mau jawab apa.
Abah berjalan mendekat ke arah Mega sedangkan Mega refleks malah mundur ke belakang.
"Ini, belum waktunya bermain handphone. Ahad, adalah waktunya itu pun hanya sebentar. Jadi, sekarang letakkan handphone Abah itu," titah Abah yang sudah tahu.
Di mega ruang makan, Abah meninggalkan handphone-nya dan tak di sia-siakan oleh Mega. Dia langsung mengambil yang kebetulan handphone tak di kunci.
"Maaf, Bah," cicit Mega.
"Kamu gak ada lagi tugas emangnya?"
"Sudah habis Bah, sudah diselesaikan semuanya."
"Baik kalau gitu, tunggu Abah di ruang tamu 10 menit lagi. Ada sesuatu yang ingin Abah ucapkan!" tegas Abah menatap ke arah Mega.
"Apa Bah?"
"Nanti, sekarang Abah masuk ke kamar dulu dan jangan lupa! Letakkan handphone Abah kembali ke tempatnya!"
"Baik Bah," jawab Mega dengan menunduk, Abah masuk ke dalam kamar dan Mega langsung mengeluarkan akun yang baru saja ia buat demi bisa komunikasi dengan Afifa.
Berjalan ke arah ruang tamu di atas tempat duduk yang tak seempuk di sofa-nya.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh," salam seseorang dari luar yang membuat Mega terkejut.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabatokatuh," jawabnya dan bangkit melihat siapa yang datang.
Mega bangkit dari tempat duduknya dan melihat siapa yang datang ke rumah, sepasang suami-istri dan anak laki-lakinya berada di depannya kini.
Anak mereka langsung menundukkan kepalanya begitu melihat Mega, bahkan wanita itu tak sempat untuk menatapnya.
"Maa Syaa Allah, ini Ning Afifa?" tanyanya berjalan mendekat ke Mega.
"Heheh, iya ... Buk," jawab Mega canggung tak tahu harus memanggil dengan sebutan apa.
"Abah ada?" tanya laki-laki di sampingnya yang sepertinya lebih muda dibanding Abah.
"Oh, ada! Masuk saja kalau begitu, saya akan panggilkan Abah."
"Baik, terima kasih!"
Mereka semua masuk dengan Mega berjalan ke kamar Abah, baru saja akan mengetuk pintu. Abah sudah keluar dengan rapi juga wangi yang semerbak.
__ADS_1
"Widih, wangi bener Abah," puji Mega menahan tawanya.
"Hehe, kenapa emangnya?"
"Biasanya gak pernah begini, oh, iya, Bah. Di depan ada tamu, Afifa gak tau siapa. Afifa buatkan minuman dulu, ya!" jelas Mega menunjuk ke arah ruang tamu.
"Yaudah, sana!"
Mega berjalan ke dapur dengan hati yang gembira, 'Yee ... gak jadi deh ngobrol sama Abah, aku yakin bukan ngobrol biasa pasti tadi seharusnya.
Abah mau ngehukum aku paling gara-gara ketahuan main handphone-nya, padahal bukan lama juga aku mainin,' batin Mega sembari mengaduk teh yang ia buat.
Berjalan ke ruang tamu dengan membawa nampan yang di atasnya ada teh juga cemilan, "Afifa, panggil Umi," titah Abah yang membuat Mega mengangguk.
"Permisi!" pamit Afifa pergi keluar untuk mencari keberadaan Umi.
"Di mana Umi, ya?" gumam Mega yang bingung. Ia bertanya-tanya pada setiap orang yang ditemuinya.
"Nyai ada di halaman belakang Ning," jawab salah satu santriwati yang melihat keberadaan Umi.
"Huft ... alhamdulillah. Makasih, ya," kata Mega yang sudah lelah mencari keberadaan Umi di setiap tempat.
Ketika akan sampai di halaman belakang, Mega berhenti sebentar kala melihat para santri bermain kelereng.
Ia tersenyum dan memikirkan hal lain, 'Habis panggil Umi, lebih baik aku main sama mereka deh!' batin Mega kemudian mencepatkan langkah ke halaman belakang.
Umi sedang berbicara dengan Ustadz Ridwan dan Ustadzah lainnya, perlahan Mega mendekat dan terlihat oleh Ustadz Ridwan.
"Ada apa Ning?" tanya Umi menatap dengan tersenyum.
"Umi, disuruh Abah buat pulang. Soalnya ada tamu yang datang Umi," jelas Mega sambil melirik ke arah kumpulan Umi tadi.
Di mana mata Ustadz Ridwan masih melihat ke arah dirinya juga Umi, apakah dia menguping pembicaraan mereka? Sepertinya.
"Siapa yang datang?"
"Afifa gak tau Umi, cuma pas liat wajah Abah sepertinya yang datang bukan orang baik. Abah tertekan saat tau siapa tamunya," ungkap Mega melihat raut wajah Abahnya.
Umi langsung mengalihkan pandangan ke arah tanah yang ada di depan Mega sambil mengingat siapa yang mungkin datang.
"Kamu gak boleh bilang begitu, semua orang itu baik. Cuma, dia gak tau bahwa dia itu baik aja."
"Gak tau kalau dia baik Umi? Bagaimana dia mau tau kalau dia itu baik? Sedangkan, dia sama sekali gak pernah melakukan hal baik," protes Mega yang tak paham dengan konsep Uminya.
"Sudah-sudah, Umi mau pulang dulu, ya! Kesian Abah dan tamu kita pasti sudah menunggu Umi."
Dianggukkan Mega kepalanya, Umi mengusap bahu Mega terlebih dahulu lalu pergi meninggalkan dirinya di halaman belakang.
Mega akhirnya ikut juga pergi dari halaman belakang saat menyadari bahwa Umi sudah tak ada lagi.
__ADS_1
Ia berjalan dan melihat bahwa santri tadi masih ada yang bermain kelereng, dilihat ke kanan juga kiri memastikan tak ada yang melihatnya.
Berjalan mendekat ke arah mereka dan berhenti tak jauh darinya, mereka berlima langsung mendongak saat melihat ada kaki yang berhenti.
"E-eh, Ning?"
"N-ning?"
Ekspresi kaget mereka tampilkan, mereka langsung berdiri dan menjauh dari tempat kelereng tadi.
"Eh, gak perlu kaget gitu. Saya ke sini mau itu ... mmm ... ikutan," jelas Mega dengan terbata-bata.
Mereka langsung melihat ke arah Mega setelah mendengar penuturan wanita itu, "Maaf, Ning. Ning aja yang main sendiri kalau begitu, kami tidak diberi izin buat bermain dengan lawan jenis apalagi ini Ning.
Nanti, yang ada Ustadz Ridwan juga yang lainnya akan marahi kami karena hal ini," tolak salah satu dari mereka.
Mega menggerutu kesal mendengar penolakan yang ia dengar, "Baru kali ini saya ditolak, lho. Aish ... sebentar saja, satu kali main. Gimana?" tawar Mega.
"Lagian, Akbar lagi gak ada di rumah. Jadi, saya bosen gak ada temen main," sambung Mega dengan wajah memelas.
Satu per satu di antara mereka menatap ke arah Mega, hanya satu detik habis itu kembali menunduk.
Hal tersebut membuat Mega merasa lucu melihat tingkah laku mereka.
"Kalau nanti kami dimarahi gimana, Ning?"
"Hanya sebentar, ayolah! Kalau kalian makin ulur waktu begini, yang ada kita benaran ketahuan sama Ustadz Ridwan!"
Mereka akhirnya kembali jongkok meskipun cukup jauh dari lingkaran yang mereka buat awalnya.
Mega tersenyum puas karena berhasil membujuk, ia mengambil kelereng salah satu milik mereka dan bermain lebih dulu.
Niatnya hanya sekali, tapi Mega malah berhasil mengalahkan mereka berkali-kali. Bahkan, Mega sampai bersorak membuat mereka kaget.
"Ck! Gaya seorang Ning sekarang emang begitu, ya? Seharusnya, dia gak pantas jadi seorang Ning," sindir seseorang yang berada di belakang Mega.
Tangan yang ada di tanah langsung terkepal, Mega langsung berdiri menatap suara siapa yang berbicara tadi.
"Gitu, gimana?" tanya Mega dengan mencoba tenang.
"Apakah pantas seorang Ning bermain-main dengan laki-laki yang bukan mahram-nya? Apalagi di dalam pondok seperti ini?"
"Ada yang salah dengan bermain kelereng? Lu punya dendam apaan, sih? Ha?" tanya Mega berjalan mendekat ke arah wanita itu.
Sedangkan dia, tampak kaget dan terkejut. Teman yang bersama dengannya tadi langsung menjauh.
"Eh-eh, ada apa ini?" timpal Ustadz Ridwan yang melerai.
Mega langsung berhenti menatap dengan tajam ke arah santriwati yang waktu itu juga pernah meng-ghibah dirinya.
__ADS_1
Ia membuang pandangan dan mendapati laki-laki tak jauh berdiri dari dirinya, disipitkan mata dan mengingat wajah tak asing itu.