
Mama berjalan mendekat ke arah Afifa yang menatap dirinya dengan tetap duduk di bangku.
"Wih ... dari siapa ini?" tanya Mama menggoda Afifa dengan melihat ke arah bunga mawar.
"Dari Kak Leon Ma."
"Kamu, pacaran sama dia?"
"Enggak Ma!" jawab Afifa dengan cepat.
"Haha, gak perlu panik gitu dong Sayang. Kalau pacaran juga gak papa, kok."
Afifa hanya menggelengkan kepala dan tersenyum menatap ke arah Mama yang duduk di pinggir ranjangnya berhadapan.
"Mama kenapa pulang? Ada yang ketinggalan?"
"Ini, 'kan sudah sore Sayang. Lagian, Mama mau liat apakah benar anak Mama dijagain oleh Leon. Ternyata, aman! Lulus, sih, kayaknya dalam seleksi menantu ini."
"Ih, Mama apaan? Orang gak ada apa-apa juga, kok, diantara Mega dan Kak Leon."
"Ada juga gak papa, kok. Mama gak akan marah."
"Udah Ma, kok larinya ke Kak Leon mulu, sih?" gerutu Afifa mencebik merasa mulai kesal dengan topik yang ada.
"Haha, yaudah, deh, yaudah. Gak akan Mama tanya lagi," jelas Mama sambil berdiri dari ranjang.
"Tapi, nanti kalau udah jadian. Kasih tau, ya!" sambung Mama kembali menggoda Afifa dengan mengecup keningnya sebentar.
"Ih, Mama!" pekik Afifa dengan manja membuat Mama yang sudah menjauh tertawa melihatnya karena berhasil menggoda Afifa.
Seperginya Mama, Afifa kembali bergulat dengan tugas-tugas yang ada. Meskipun awalnya dia kesusahan memahami pelajaran di sekolah.
Namun, dengan kegigihan dirinya mampu memahami segala pelajaran yang ada di sekolahan.
"Pulang kamu akhirnya Mas? Dari mana aja? Ha?" tanya Mama saat melihat suami barunya itu pulang.
"Aku lagi gak mau bicara, aku capek pengen istirahat!"
"Kenapa istirahat di rumah ini? Kenapa gak di rumah selingkuhan kamu itu?"
__ADS_1
Tatapan nyalang diberikan oleh laki-laki itu kepada Mama, ia tak menghiraukan dan memilih untuk langsung pergi ke kamar.
"Tunggu Mas! Aku belum selesai ngomong!" pekik Mama dan menyusul suaminya ke kamar.
Afifa keluar dari kamar karena merasa lapar, ia ingin mengambil snack agar bisa mengganjal perutnya.
"Aku sudah bilang sama kamu untuk berhenti pacaran dengan wanita-wanita luaran sana! Tapi, kenapa kamu malah semakin menjadi-jadi Mas?!"
"Siapa yang pacaran? Udahlah, aku capek! Lebih baik kau diam dan pergi, urus saja anak juga keluargamu itu!"
"Gak pacaran? Terus, selama beberapa hari ini kau tinggal di mana kalo enggak di tempat wanita simpananmu itu, ha?
Jangan bawa-bawa Mega! Dia gak ada urusannya sama semua ini, sebelum dia ada kau juga sudah seperti ini Mas!"
"Kalau kau sudah tau aku seperti ini? Kenapa kau pertanyakan lagi, ha?"
"Setidaknya bersikaplah baik jika ada Mega, dia juga gak setiap saat akan ada di sini. Kau sama sekali tidak pernah mau dekat dengan dia!"
"Dia anakmu, bukan anakku. Tak ada alasan yang mengharuskan aku untuk dekat dengan dia!"
Suara perkelahian membuat langkah kaki Afifa berhenti, ia menatap ke arah kamar Mama yang tak jauh dari kamarnya.
Afifa memberanikan diri untuk mendekat ke kamar Mama dan Papanya, ia berhenti di balik kamar yang kebetulan pintu mereka terbuka.
"Kau menikahiku artinya kau juga harus menerima dia!"
"Udahlah! Kenapa jadi begini? Bukannya kau dulu tak peduli aku mau pulang atau tidak? Sekarang, kenapa kau begitu cerewet soal aku, ha?"
"Oh, sepertinya kau harus diingatkan Mas! Jangan pernah lupa bahwa tanpa modal dariku, perusahaanmu sekarang sudah bangkrut!
Jangan coba-coba untuk selingkuh dariku selama masih ada Mega di sini, sempat aku mendengar bahwa kau terciduk oleh dia bermesraan dengan wanita lain.
Maka, bisa aku pastikan kau miskin dalam sekejap. Jangan lupakan perjanjian yang sudah ada di atas materai. Ingat itu! Kau tanpa aku, hanya sampah!" tekan Mama membuat Afifa menutup mulut mendengar kalimat yang sangat tak biasa.
Mama pergi dari kamar dengan membukanya kasar, Afifa menyembunyikan dirinya agar tak terlihat Mama.
"Arkkk!" teriak Papa yang ada di dalam kamar. Tak lama, suara barang-barang jatuh dan pecah pun terdengar.
Afifa semakin kuat menutup mulutnya, takut jika suara isakannya di dengar oleh Papa. Ia segera pergi dari tempat itu menuju kembali ke kamar.
__ADS_1
Ditutup Afifa pintu kamar dan tak lupa menguncinya, punggungnya menempel pada dinding.
Kaki yang semula begitu kuat kini melemah membuat tubuhnya merosot ke lantai dengan air mata memenuhi wajah.
Dipeluk lutut membenamkan wajahnya, "Afifa gak suka, hiks ... Afifa gak suka sama kehidupan Mega. Afifa pengen berubah aja, pengen balik hiks ...."
Afifa menangis sejadi-jadinya, dirinya belum pernah mendengar perkelahian sebelumnya. Jadi, wajar jika ada rasa kaget dan takut.
Suara dering handphone membuat Afifa mendongak, ia berjalan ke meja belajar mengambil handphone-nya.
"Assalamualaikum, halo? Siapa, ya?" salam Afifa dengan suara serak sambil menghapus jejak air mata.
"Waalaikumsalam, lu kenapa Afifa? Ini gue, Mega. Lu kenapa? Kok kayak suaranya habis nangis, sih?" tanya Mega di sebrang dengan bisik-bisik.
"Mega-mega, aku udah gak tahan Mega hiks ... aku gak kuat lagi Mega. T-tolong Mega, gimana caranya ini? Aku mau pulang," rengek Afifa.
"Eh, wait! Ada apaan, sih? Lu pelan-pelan ngomongnya, gue gak paham ini," ujar Mega sambil melihat ke arah luar kamarnya.
Mega mengambil handphone Abah yang tertinggal di ruang tamu, beruntung handphone tersebut tidak dikunci.
Dirinya hapal dengan nomor handphone yang dipunya, rasa penasaran pun membuat Mega nekat menelpon Afifa sebeb beberapa hari ini mereka tidak bertemu di dalam mimpi.
"Kamu, 'kan tau kalo aku sekarang tinggal sama Mama, 'kan?"
"Iya, terus?"
"Mama sama Papa tiri kamu ternyata sering berantem, Papa tiri kamu gak suka sama kehadiran aku di rumah ini.
Selama aku di sini, memang dia gak pernah pulang dan baru banget pulang hari ini. Tadi, aku denger percakapan mereka.
Kalau Papa tiri kamu ternyata selingkuh dengan wanita lain di luaran sana, Mama tau akan hal itu dan Mama minta agar Papa berhenti melakukan hal tersebut.
Tapi, Papa sepertinya gak terima akan apa yang dikatakan oleh Mama. Mereka jadi berantem dan Mama pergi entah ke mana."
"Oalah ... hahaha, cuma itu? Mangkanya kamu nangis? Udah, santai aja kali Afifa! Dibawa enjoy aja!
Aku aja gitu, nih! Dihukum sampe tiga hari cuma gara-gara liat pamplet, cukup jauh juga, ya, aku ternyata. Sampe ke sini, lho.
Kapan-kapan, kita ketemuan, yok! Eh, tapi ... aku yang gak bisa, sih, kayaknya. Soalnya di sini, 'kan ndak boleh keluar-masuk pondok semau kita," jelas Mega.
__ADS_1
Afifa yang mendengar penuturan Mega menatap ke handphone di genggamannya itu, "Kok malah dibilang santai, sih?" gerutu Afifa kesal.