
Mega dan laki-laki tadi akhirnya memilih untuk kembali ke pondok, mereka menatap tembok dan mencari cara agar bisa naik ke atasnya.
"Lagian, Ning seharusnya pas bisa keluar harus nyari cara bisa kembalinya. Di situ, iya, ada pohon. Di sini? Mana ada?" omel laki-laki itu mencari cara.
"Sut ... kamu ternyata cerewet juga, ya! Jangan berisik, yang ada nanti ketauan kalo kita ada di sini!" bisik Mega menempelkan jari telunjuknya di bibir.
Laki-laki tadi hanya menatap sambil menahan emosi melihat tingkah laku Mega.
"Ngapain juga aku bantu Ning, ya? Orang dia sendiri yang mau kabur, kok. Tapi, entah kenapa aku gak bisa pergi ninggalin dia," ucap laki-laki itu sambil menatap Mega yang tengah kebingungan.
"Eh, btw. Kamu kelas berapa?" tanya Mega tiba-tiba menatap ke arah laki-laki itu membuat dia gelagapan takut jika ketahuan tengah menatap Mega.
"K-kelas dua belas Aliyah Ning."
"Wah ... kita sama dong!"
"Memang, awal masuk ke sini itu sebab saya menyukai salah satu wanita di kompleks saya. Akhirnya, saya masuk ke sini agar memantaskan diri dengannya.
Kemudian, saya pernah ketemu sama Ning beberapa kali. Banyak laki-laki juga wanita yang memuji Ning.
Tapi, saya tidak karena menganggap Ning itu sama sekali gak berhak mendapatkan pujian semacam itu.
Kalau hanya karena Ning mampu menghafal hadist, kayaknya semua yang ada di sini juga menghafalnya.
Jadi, menurut saya Ning itu gak ada spesialnya dengan yang lain. Lalu, kemudian waktu kelas sebelas Aliyah.
Terdengar rumor bahwa Ning gak keluar dari rumah lagi karena sesuatu hal yang saya gak ketahui.
Hal itu membuat saya pernah ingin keluar dari pondok ini, ya, saya anggap pondok ini gak sebaik yang saya bayangkan.
Anak Kyai saja tidak ada sosialisasinya sama orang-orang, itu menunjukan bahwa di sini gak diajarkan untuk bisa bertemu dan menciptakan kepedulian dengan sesama.
Namun, saya batalkan karena masih ada wanita komplek yang saya puja itu. Sampai akhirnya, waktu kelas dua belas Aliyah semester pertama.
Saat saya pulang, saya dengar bahwa dia sudah dilamar dengan Ustadz yang mengajar di pondok tempatnya belajar.
Ya ... sekarang mau berhenti juga tanggung, sebentar lagi juga saya lulus. Cuma, bertahan di sini sebab sayang aja bukan sebab dia lagi.
Malah ketemu sama Ning kembali, pondok diherbohkan dengan keluarnya seorang Ning dari rumah meskipun awalnya kabur ke pantai membuat seluruh pondok mencarinya," jelas laki-laki itu membuat Mega terdiam mendengar ceritanya.
"Dih, dia malah curhat dong," gumam Mega menahan tawanya.
__ADS_1
"Untung aja kamu gak bunuh diri pas denger kabar dia udah di lamar oleh Ustadz-nya," kata Mega membuat dirinya tertawa renyah sambil menyusun kayu yang ada.
"Buat apa juga saya bunuh diri? Lagian, wanita gak cuma satu aja di dunia ini, Ning. Meskipun nantinya, yang saya cintai dengan hebat hanya diri dia saja."
Mega menghela napas kasar dan menatap punggungnya, "Kita itu, gak boleh menjadikan seseorang sebagai patokan untuk melakukan sesuatunya.
Karena, itu sama saja secara kita tidak sengaja menyakiti diri dan hati kita. Kita aja gak bisa terlalu berharap pada diri sendiri.
Lantas, kenapa bisa-bisanya berharap pada orang lain. Setiap kali kamu ingin berubah menjadi lebih baik.
Maka, berubahlah karena niat semata-mata sebab Allah. Bukan makhluk-Nya, agar kamu gak akan mengalami sakit sedalam ini.
Tapi, saya acungi jempol keberanian dan tekat kamu yang bisa berubah sampai sejauh ini serta bertahan di tempat ini."
Mega bangkit dari jongkoknya dan memepuk tangannya agar tak tertinggal tanah, naik ke tembok dari tumpukan yang dibuat oleh laki-laki tadi.
"Bismillah." Mega melihat sekeliling terlebih dahulu.
"Satu, dua, tiga!" Suara sendalnya yang memijak tanah sedikit kuat membuat dirinya agak takut.
Melihat Mega sudah berada di dalam kawasan pondok, laki-laki tadi mengembalikan kayu ke tempatnya agar tidak ketahuan bahwa ada yang keluar.
Kini, dirinya juga sudah berada di dalam kawasan pondok. Mega menatap ke kanan dan kiri untuk keluar dari halaman belakang.
"Makasih, ya, sudah nemenin saya. Tenang, ini cuma sekali doang, kok. Setelah ini saya mau fokus seperti apa yang kamu bilang.
Menjadi seorang Ning yang setidaknya sedikit berbeda dari kalian, kalau hanya sama dengan apa yang kalian lakukan.
Lantas, untuk apa ada gelar pada saya? Lebih baik seperti kalian saja. Kamu jaga diri baik-baik dan ingat satu hal.
Berubahlah untuk dirimu sendiri karena Allah, bukan untuk orang lain. Jangan sampai menjadi orang yang buruk hanya karena patah hati.
Dunia tak selebar daun kelor, kamu akan menemukan wanita yang jauh lebih baik darinya juga lebih cantik pastinya.
Saya duluan, kamu hati-hati, ya. Assalamualaikum," salam Mega keluar dari halaman belakang setelah memastikan bahwa aman.
"Waalaikumsalam," jawab laki-laki yang menatap punggung Mega menjauh darinya dengan sedikit tercengang.
"Apakah itu beneran Ning Afifa? Aku semakin tidak yakin bahwa itu dirinya," sambungnya menggelengkan kepala.
Dilepas Mega sendal yang dipakainya tadi dan memanjat jendela dengan berhati-hati, setelah seluruh badannya berhasil masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Disimpan sendal di bawah ranjang dengan perlahan dan membuka kerudung agar tak ada yang curiga. Berjalan pelan ingin menutup kembali jendela.
Tok! tok! tok!
Ketukan pintu mengagetkan Mega, ia terperanjat dan dengan buru-buru menutup jendela kamarnya.
"Afifa? Nak?" panggil Umi di depan pintu.
"Iya, Umi. Sebentar," sahut Mega menutup tirai dan tak lupa mengunci jendela tadi.
Ia mengusap wajah yang sedikit berkeringat dan mengusap rambutnya menghilangkan gugup, ditarik terlebih dahulu napas lalu membuka pintu.
Ceklek!
"Iya, Umi. Ada apa?" tanya Mega tersenyum dengan kepala yang menjumbul dari balik pintu.
"Ayo, keluar sini. Umi mau bicara," ajak Umi.
"Maaf, Umi. Afifa dihukum Abah gak boleh keluar kamar," jawab Mega apa adanya.
"Gak papa, ini amanah dari Abah."
"Yaudah, Afifa pakai kerudung bentar, ya."
Umi mengangguk dan Mega segera mengambil kerudungnya kembali, memasang asal yang penting setidaknya rambutnya tak terlihat jika ada tamu tiba-tiba datang.
"Ada apa Umi?" tanya Mega ketika sudah duduk di samping Umi.
Buku diletakkan Umi ke atas meja dengan lumayan tebalnya berwarna putih, Mega langsung melihat ke arah Umi dengan kebingungan.
"I-itu, buku apa Umi?" tanya Mega dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Lusa, akan ada pertandingan tanya-jawab yang dilaksanakan di pondok kita. Ini bertujuan untuk membuka wawasan para santri sekalian serta Ustadz mau pun Ustadzah.
Semisal tentang suatu hal yang akan mereka pertanyakan, si lawan nantinya akan menjawab menurutnya begitu pun sebaliknya.
Di setiap satu tim hanya ada empat orang dan akan ada dua tim yang berarti delapan orang. Tim wanita juga laki-laki.
Kamu ... akan ikut sebagai ketua di tim wanita nanti, kamu bisa baca materi itu dan kamu tulis pertanyaan apa yang akan kamu layangkan ke mereka atau pembahasan apa yang akan kamu bawa di sana nanti."
Kepala Mega langsung bergeleng mendengar penuturan Uminya, ia tak habis pikir ternyata ada hal semacam itu.
__ADS_1
Dirinya memang sudah mendengar hal semacam itu, tapi tak berpikir bahwa ia akan ikut di dalamnya.