Menjadi Seorang Ning

Menjadi Seorang Ning
Nyebelin Parah


__ADS_3

Sesampainya di depan rumah, tangan Dara--kakak tirinya Afifa langsung ditarik dengan kasar masuk ke dalam rumah.


Dibuka rumah dengan kasar dan tangan wanita itu di hempas.


Plak!


Satu tamparan dilayangkan ke pipi Dara membuat Mamanya terkejut dan menutup mulutnya kaget.


"Puas? Kau puas membuat aku malu di hadapan mereka tadi? Kau puas sudah menyakiti Mega, ha? Kau sudah puas?!" bentak laki-laki itu yang sudah tak tertahankan.


"Mas, cukup Mas cukup," henti istrinya membela anaknya itu.


"Kau liat dia! Dia udah buat malu aku dihadapan client tadi, bukan cuma itu dia juga udah nyakiti Mega dengan nekatnya!"


"Aku lakuin itu karena Papa selalu gak adil sama aku! Kenapa? Apa karena aku hanya anak tiri hingga Papa gak mau ngakui aku sebagai anak Papa?" cerca Dara dengan suara tinggi sambil memegang pipinya.


"Udah Sayang, udah nak," bujuk Mamanya dengan memegang bahu wanita itu.


"Gak adil katamu? Kau yang dulu tidak mau setiap kali kubawa bertemu client, kau selalu bilang bahwa tak mau terlibat dalam urusanku!


Lalu, sekarang kubawa Mega di dalam dunia kerjaanku kenapa kau lakukan ini? Kau yang mau semua ini!


Masalah perjodohan, bahkan aku lebih dulu memberi tahu ke dirimu! Aku tak pernah sekali-kali membandingkan kalian berdua!


Bahkan, kau yang lebih dulu kupentingkan dibanding anak kandungku sendiri. Sebab apa? Sebab aku tau kalau kau butuh sosok ayah.


Tapi sekarang, aku sepertinya salah sayang dengan dirimu! Kau anak yang tak tau diri! Berani melukai anakku di depan mataku sendiri.


Jangan pernah berharap, kau akan kumaafkan jika terjadi sesuatu pada anakku dan jangan pernah meminta uang sepeserpun padaku!" tegas Papa menunjuk ke wajahnya.


Papa langsung pergi meninggalkan mereka berdua di ruangan tengah, "Gak, Papa! Maafin Dara Pa!" pekik Dara berlari keluar.


Mobil milik Papanya lebih dulu pergi dari halaman rumah menuju rumah sakit tempat di mana Mega dirawat.


"Mama ... kenapa Mama gak pernah bilang sama Dara kalau Papa lebih mentingin Dara dibanding Mega, Ma?"


"Kamu gak pernah mau dengar kata-kata Mama, Sayang. Mama selalu bilang sama kamu bahwa Papa jauh sayang kamu dibanding Mega.


Tapi, kamu tetap kekeh bahwa Mega jauh disayang dibanding kamu. Padahal, bukan itu kebenarannya."


Dara menangis menyesali perbuatannya, ia memukul kepalanya sedangkan Mama memeluk tubuhnya menenangkan wanita itu.


Papa membuka handphone-nya terlebih dahulu berniat ingin menghubungi Leon, tapi ia urungkan saat melihat pesan darinya.


Dengan cepat mobil langsung meluncur ke alamat yang diberikan oleh Leon.

__ADS_1


Pintu ruangan Afifa terbuka dan langsung membuat Leon bangkit dari tempat duduknya, "Orang tua pasien mana?"


"Mmm ... masih di jalan sepertinya Dokter."


"Baiklah kalau gitu, jika sudah datang suruh datang ke ruangan saya."


"Pasien baik-baik aja Dokter?"


"Alhamdulillah, pasien baik-baik saja."


"Boleh dijenguk?"


"Silahkan!"


Leon mengangguk dan dokter pergi ke ruangannya tepat di samping IGD, Leon masuk ke dalam dan suster yang tengah men-cek tadi akhirnya pergi.


Kaki Leon melangkah dengan pelan ke arah wanita yang sekarang tengah terbaring lemah di hadapannya.


Bibir yang pucat beserta wajahnya, tangan yang di perban juga menghiasi tubuhnya sekarang. Perlahan, mata wanita itu terbuka dan mendapati Leon di hadapannya.


"Aku udah boleh pulang?" tanya Afifa begitu membuka mata.


"Menurut lu?"


"Gak tau, tapi aku udah sehat, kok."


Afifa mengedarkan pandangan melihat sekitar ruangan, "Papa belum datang, ya?" tanya Afifa kembali menatap ke arah Leon yang sekarang sudah duduk dengan jarak lumayan jauh.


"Belum, kayaknya masih ngurus Kaka tiri lu deh. Kaka tiri lu jahat, ya."


"Gak tau aku."


"Kok gak tau? Belum cukup dia lukai lu sebagai jaminan kalo dia jahat?"


"Karena yang nilai manusia baik dan buruk itu cuma Allah, bukan manusia."


"Hadeuh, dah kayak Ustadzah aja lu."


Afifa hanya menanggapi dengan senyuman dan menggelengkan kepala, "Kata Papa, perjodohannya batal."


"Alhamdulillah," ucap Afifa bersyukur.


"Lah, kenapa alhamdulilah? Bukannya kata Papa lu, lu berharap di jodohkan sama gue?" tanya Leon menautkan alisnya.


"Enggak, kok. Aku sama sekali gak berharap, aku aja baru tau kalo kita akan dijodohkan. Mungkin, itu cuma bohongan Papa doang.

__ADS_1


Kayaknya, Kakak aku yang mau sama kamu bukan aku. Aku mah gak mau sama kamu kali," ucap Afifa.


"Dari mana tau kalo yang mau sama aku itu Kakak kamu?"


"Soalnya tadi dia ngomong gitu di toilet sama aku, dia ngomong seolah gak rela kalo kamu dijodohkan sama aku."


Leon hanya diam dan memahami kata-kata yang diucapkan oleh Afifa. Afifa menjulurkan tangannya ingin menggapai air minum yang ada di nakas.


"Lu mau ngapain?"


"Mau minum, aku haus," keluh Afifa.


"Bentar, gue aja yang ambil!" putus Leon dan mengambilkan gelas serta membantu Afifa untuk minum.


"Jadi, Papa kamu marah dong sama Papa aku, ya?" tanya Afifa kembali setelah selesai minum.


Leon yang sedang meletakkan gelas kembali ke nakas hanya menaikkan bahunya acuh, "Maybe, kayaknya begitu sih. Apalagi bokap gue orangnya gak suka ditipu kayak gitu, pasti marah dan kecewa bangetlah sama Papa lu."


Afifa menghela napasnya kasar dan menatap lurus ke depan, "Lu sekolah di mana?"


"SMK 6."


"Jurusan?"


"Animasi."


Leon hanya menganggukkan kepalanya, "Lah, kamu gak tau sama aku kenapa mau-mau aja di jodohkan sama aku?"


"Hm ... bokap orangnya keras, apa yang dia perintah kita harus mau. Jadi, gue gak bisa nolak padahal gue belum kenal bahkan suka dengan orang yang di jodohkan sama gue."


"Artinya, syukur dong kalau Papa kamu kecewa sama Papa aku."


"Kenapa?"


"Ya ... setidaknya kamu gak jadi nikah sama wanita yang gak kamu cintai. Ya, walaupun kata orang-orang cinta itu gak butuh di dalam pernikahan.


Tapi menurut aku, ya, setidaknya kita menikah atas pilihan kita sendiri. Jadi, jika suatu saat terjadi sesuatu di pernikahan kita.


Gak ada pihak lain yang bisa kita salahkan, karena yang milih pasangan hidup kita juga kita sendiri.


Lagian, kita juga masih pada muda. Aku masih kelas 12 dan kamu ... kayaknya masih kuliah, 'kan?" tebak Afifa menatap lekat wajah Leon.


Leon mengangguk dan terdiam mendengar ucapan dari Afifa barusan, "Gue kira lu tetap cewek yang dulu, padahal dulu waktu pertama kali kita ketemu.


Lu nyebelin parah, lho. Sekarang beneran tobat dong, gue sampe kaget dengar lu ngomong kayak gitu."

__ADS_1


Wajah Afifa langsung berubah menjadi berbeda, "Y-ya ... namanya juga gue lagi sakit, lagian buat apa perilaku yang gak baik terus dipertahankan. Manusia harus berubah menjadi lebih baik setiap hari, menit atau bahkan detiknya. Itu seharusnya!"


Senyuman tertampil di wajah Leon dengan kepalanya yang beberapa kali mengangguk sambil menatap Afifa.


__ADS_2