Menjadi Seorang Ning

Menjadi Seorang Ning
Menolak


__ADS_3

"Ada apa ini Ning?" tanya Ustadz Ridwan sekali lagi dengan wajah bingung.


"Gak tau, Ustadz. Dia nyari gara-gara mulu sama saya," kata Mega menunjuk ke arah santriwati yang ada di depannya dengan wajahnya yang menunduk itu.


"Ada apa ini Nisa?"


"Saya cuma bilang bahwa seorang Ning seharusnya gak pantas bermain dengan anak laki-laki Ustadz. Apakah itu salah?" tanya Nisa membela diri.


Ustadz Ridwan langsung melihat ke arah kelereng dan santri yang berdiri tak jauh dari mereka, "Kami udah larang Ning, tadi Ustadz. Tapi, Ning tetap aja mau ikutan," ungkap mereka menyudutkan Mega.


"Ya, emangnya apa sih salahnya Ustadz?" tanya Mega yang tak terima terus-menerus disudutkan.


"Salahlah, tidak boleh bercampur baur dengan yang bukan mahram!" terang Nisa melirik ke arah Mega.


"Siapa yang campur baur? Kami gak deketan tadi, kok!"


"Iya, Ustadz. Kami gak deketan sama Ning, kok. Mana berani kami deketan."


"Tapi, tetap saja Ustadz. Beliau telah menjelek-jelekkan gelar Ning itu, gak pantes banget seharusnya beliau diberi gelar begitu."


Mega yang sudah muak mendengar ucapan Mega dari tadi akhirnya berkacak pinggang dan menatap tajam ke arah Nisa.


"Kamu ada masalah apa, ya, sama saya? Kayaknya, kamu punya dendam sendiri sama saya?


Kenapa? Apa karena saya tegur kamu waktu itu? Karena saya tegur kamu ghibah-in saya juga mengajak teman kamu untuk ghibah saya.


Kamu gak terima, iya? Kalau kamu emang gak terima saya tegur, bilang aja sama saya!"


"Sudah-sudah, cukup! Astaghfirullah ... kenapa malah seperti ini, sih?" potong Ustadz menengahi masalah.


Nisa yang mendengar ucapan Mega tadi mengepalkan tangannya dan menatap tajam ke arah Mega.


"Udah, sekarang kalian semua bubar dan biarkan Ustadz yang akan menegur Ning!"


"Tapi Ustadz," timpal Nisa.


"Udah, Nisa. Sekarang kamu dan teman-teman kamu pergi dari sini, serta santri putra lainnya juga pergi!"


"Baik Ustadz," jawab mereka semua serempak dan pergi dari tempat itu.


Setelah semua pergi, Ustadz Ridwan menghela napas juga mengusap wajahnya kasar. Mega yang menunduk dengan tangan tertaut melirik sekilas lalu menunduk kembali.

__ADS_1


"Ning, saya senang kamu bisa keluar dari rumah seperti sekarang juga bersosialisasi. Namun, kenapa semakin ke sini kamu semakin tak terkontrol.


Seolah, jiwa yang ada di tubuh kamu itu bukanlah kamu yang dulu. Saya sampai tidak tahu sekarang harus bahagia dengan sikap kamu atau malah sedih.


Jangan bersikap ceroboh Ning, bagaimana pun kamu adalah panutan oleh orang-orang yang ada di sini," jelas Ustadz Ridwan.


"Untuk itu, kamu saya kasih huku--"


"Afwan, Ustadz. Ning disuruh pulang oleh Abah," potong seseorang yang baru saja datang.


Mega langsung melihat ke arah sumber suara tersebut, matanya membulat kala melihat siapa yang datang.


"Maaf, kamu siapa?"


"Saya Hafidz, anak dari teman Abah," jelasnya.


"Baiklah, kalau gitu Ning boleh pergi."


"Dan saya minta, jangan beri hukuman apa pun pada Ning. Karena, ini bukan salah dia melainkan wanita tadi," katanya membela Mega.


Mega semakin dibuat terheran-heran dengan sikap laki-laki yang belum diketahuinya siapa ini.


"Kami permisi Ustadz. Assalamu'alaikum," salamnya dan pergi lebih dahulu sedangkan Mega mengikuti dari belakang.


Mega mengikuti Hafidz hingga mereka sampai di depan rumah Mega, Hafidz sengaja berhenti dan membalikkan badannya menatap Mega dengan menunduk.


Mega ikut berhenti dan menatap ke arah Hafidz, "Saya cukup kaget dengan perubahan kamu yang begitu pesat, padahal terakhir kali kita bertemu 3 tahun yang lalu.


Kamu bahkan enggan keluar kamar sekedar bersalaman dengan orang tua saya, lalu sekarang saya lihat kamu bermain kelereng, menjawab Ustadz Ridwan juga berdebat pada santriwatimu.


Tak kalah kaget lagi, saya tau bahwa dua hari lagi kamu akan mengikuti tanya-jawab," papar Hafidz membuat Mega seketika kebingungan.


"Saya tau, kamu pasti sudah mendengar soal kita. Ya ... kita yang akan dijodohkan, 3 tahun yang lalu saya ingin ngobrol denganmu.


Agar saya bisa berkata bahwa saya sama sekali tidak tertarik pada perjodohan ini, tapi sayangnya. Hal itu tidak mampu saya lakukan karena tak pernah bisa bertemu denganmu.


Sekarang, perjodohan itu kembali dibahas. Orang tua saya bahkan sangat menyukai kamu melebihi dahulu apalagi mendengar dirimu yang sekarang.


Dulu, Umi saya bilang bahwa kamu setuju saja apa pun itu keputusannya. Tergantung orang tua kamu.


Sejak itu, saya sangat membenci dirimu karena tidak punya pendirian sendiri sebagai seorang wanita.

__ADS_1


Tapi, melihat kamu yang sekarang. Saya yakin bahwa kamu bukanlah orang yang sama, saya mencintai seseorang tapi bukan kamu.


Saya minta, kamu bujuk orang tua kamu agar membatalkan semuanya. Nanti, saya akan menolak perjodohan jika mereka bahas dan kamu juga harus membantu saya.


Saya yakin dan percaya bahwa kamu bukanlah tipe wanita yang mau dipaksa apalagi pernikahan seperti ini. Saya juga berharap, kamu pikirkan bagaimana kehidupan rumah tangga jika tanpa cinta."


Hafidz masuk lebih dulu meninggalkan Mega, Mega tertegun mendengar penuturannya barusan dan juga bingung.


'Afifa suka atau enggak, ya, sama tuh orang? Kalau nanti aku bilang batalkan pernikahannya, gimana dengan Afifa kalo dia tau?


Tapi, aku rasa Afifa mau juga karena terpaksa. Dia, 'kan emang manut banget sama orang tuanya.


Dan, apa tadi katanya? Akan ada sesi tanya-jawab? Aku bahkan gak tau hal begitu, kenapa dia bisa lebih tau?' batin Mega yang bingung dengan apa yang harus ia lakukan.


Mega membuang kasar dan menariknya dalam-dalam, yakin bahwa apa yang akan dilakukannya ini benar.


"Bismillah," ucap Mega sambil melangkah masuk ke dalam.


"Assalamualaikum," salam Mega masuk dengan wajah kedua orang tuanya juga Hafidz sedang tersenyum.


"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.


Mega berjalan duduk di samping Umi, "Kamu dari mana aja?" bisik Umi tepat di telinga Mega.


"Ada urusan tadi Umi."


"Oh, iya, Afifa. Kamu sehat, 'kan?"


"Alhamdulillah, sehat Nyai," jawab Mega melirik ke arah Umi sebentar karena bingung harus memanggil apa.


"Oh, iya, bagaimana dengan hafalan kamu?"


"Lancar Nyai."


"Hehe, dulu buat ketemu sama Afifa susah sekali. Bahkan, saya sampai gak tau kalau ternyata ini yang namanya Ning Afifa itu," timpal Ayah Hafidz.


"Iya, alhamdulillah sekarang sudah berubah. Seiring dia tahu bahwa orang tuanya sudah tak lagi muda, bagaimana pun nantinya yang akan mengelola pondok ini dia ketika kami sudah tidak ada," ujar Abah dengan tersenyum.


Mega menatap ke arah Abah dan terkejut, bahkan mereka sama sekali tak pernah bertanya pada dirinya apakah ia mau atau tidak.


"Benar sekali, selain anak kita sendiri. Siapa lagi yang akan mengurusnya?"

__ADS_1


"Menantu!" timpal Umi Hafidz sambil tersenyum membuat Umi juga ikut tersenyum mendengarnya.


Sedangkan Mega, menelan saliva juga melirik ke arah Hafidz yang kebetulan menatap ke arahnya juga.


__ADS_2