Menjadi Seorang Ning

Menjadi Seorang Ning
Jangan Tidur


__ADS_3

"Cepat, telepon polisi!" pekik Mama Leon membuat Mama tiri serta Papa Mega menatap ke arah mereka.


"Jangan-jangan!" pinta Mama tiri Mega yang panik."


"Kenapa? Dia udah melukai Mega Buk. Liat itu, tangannya udah di sayat sama dia," ujar Mama Leon.


"Hahaha ... mereka gak mungkin bisa laporin saya ke polisi, soalnya saya adalah anak mereka! Mereka yang buat saya melakukan hal ini.


Saya gak pernah dipeduliin sama mereka, selalu aja anak sial*an ini!" bentaknya sambil menunjuk ke arah Afifa yang mengerang kesakitan.


Kedua orang tua Leon kaget mendengar ucapannya, sedangkan Papa dan Mama membulatkan mata dengan wajah yang kesian padanya.


Leon yang khawatir terhadap Afifa di belakang wanita itu langsung berjalan mendekat ke arah mereka.


"Jangan ada yang dekat!" pekiknya sambil mendekatkan pisau ke arah Leon.


"Dia bisa mati jika tidak ditangani!" geram Leon melihat wajah Afifa yang sudah pucat.


"Kenapa? Kenapa kau peduli sama dia? Kau suka dengan dia? Ha?"


"Bukan urusanmu!" geram Leon dengan rahang yang mengeras.


"Nak, jangan seperti ini. Kesian Mega, dia butuh penanganan segera," pinta Papa menatap iba anak tirinya.


"Kenapa sekarang Papa baru manggil aku dengan sebutan itu? Kenapa baru sekarang Pa, apa harus nunggu aku bunuh anak kesayangan Papa dulu baru Papa akan menganggap aku anal?"


"Bukan seperti itu, Nak," ujar Papa dengan berjalan perlahan ke arah anak tirinya.


"Jangan mendekat!" pekiknya kembali.


Papa Mega dan Leon memberi kode agar Leon bisa membawa Afifa yang ada di belakangnya, tangan wanita itu ditangkap lebih dulu oleh Papanya membuat pisau yang ia pegang terlepas.


"Gak, aku gak mau Pa! Aku belum habisin anak itu! Aku benci kalian semua termasuk dia! Dia udah buat aku kehilangan kasih sayang Mama juga Papa!" pekiknya meronta saat di pegang oleh Papa.


Sedangkan Afifa digendong ala bridal style oleh Leon, "Turunin aku," ucap Afifa yang sudah tak memiliki tenaga lagi.


"Diam lu! Berisik! Lu kira gue mau banget gendong lu kalo gak karena kesian? Jangan kegeeran!" ketus Leon berjalan meninggalkan kerumunan orang-orang.


"Kasih tau bil dan berapa uang ganti untuk kerusakan toilet ini, ya," pinta Papa Leon, "nanti saya tf langsung."


Mereka akhirnya pergi mengikuti Leon yang langsung keluar dari toilet sambil menggendong Afifa tadi.

__ADS_1


Sedangkan Kakak tiri Afifa dibawa juga oleh Papanya dan Mamanya, Leon pergi lebih dulu menggunakan mobilnya sendiri.


Leon membawa mobil dengan kecepatan tinggi, sesekali ia melirik ke arah Afifa yang ada di sampingnya.


"Woy, lu jangan tidur. Serem gue anj*r! Nanti kalo lu mati gue dijadikan saksi!" geram Leon.


Perlahan Afifa memaksa matanya agar terbuka, ia tersenyum tipis melirik ke arah Leon yang tampak begitu cemas.


"Kamu takut aku kenapa-kenapa, 'kan?" tanya Afifa dengan nada pelan.


"Kenapa-kenapa juga gak masalah, asalkan jangan di mobil gue dan sama gue. Yang ada nanti gue dijadikan saksi di kantor polisi."


"Haha, aku nanti bilang sama polisinya kalau kamu gak bersalah."


"Sejak kapan orang mati bisa ngomong tolol!"


"Hmm ...."


"Kenapa? Lu jangan diam! Masih lumayan jauh ini rumah sakitnya."


"Kamu gak boleh ngomong kasar gitu apalagi sama cewek, kesian nanti istri kamu."


"Lah, malah nasehatin gue. Kalo buat orang yang gue sayang, ya, gue pasti kagak kasarlah. Lu, 'kan bukan orang yang gue sayang."


"Brisik lu!" ketus Leon.


Tin! tin! tin!


Suara klakson mobil Leon bunyikan sebab di depan sana ada macet yang membuat mobilnya menjadi tak bisa bergerak.


"Ini kenapa lagi jalanan sial*n! Orang mau cepat malah macet pulak, akhhh!"


Leon memukul setirnya dan mengacak rambutnya frustasi, Afifa yang baru pertama kali melihatnya langsung ketakutan hingga menutup matanya.


"Woy, lu jangan tidur gue bilang!"


"Gak ada yang tidur, aku cuma takut sama emosi kamu itu."


Deg!


Leon merasa bersalah karena telah membuat Afifa takut akibat ulahnya. Sebenarnya ia tak ingin seperti itu, tapi rasa cemas membuatnya semakin tak terkendali.

__ADS_1


"Sorry, gue panik soalnya," gumam Leon yang membuat mata Afifa terbuka.


Afifa tersenyum dan mengangguk sambil menatap ke arah Leon, tak lama jalanan kembali lancar dengan cepat Leon menjalankan mobilnya.


Mereka sampai di rumah sakit, Afifa langsung dimasukkan ke IGD sedangkan Leon menunggu di luar ruangan.


Orang tua Leon sempat menelpon dirinya untuk menanyakan keberadaan putranya itu, mereka tengah menuju ke rumah sakit di mana Afifa berada.


"Di mana dia sekarang Nak?" tanya Mama Leon menatap putranya.


"Masih di dalam Ma," jawab Leon menatap ke arah pintu yang masih terbuka.


"Ayo kita pulang!" ajak Papa Leon dengan nada dingin.


Mereka berdua langsung menatap ke arah Papanya dengan tatapan heran, "Lah, kenapa ditinggal Pa? Jadi, yang nemenin dia siapa?" tanya Leon dengan alis yang tertaut.


"Biarin aja dia sendiri dan perjodohan kalian juga akan Papa batalkan, mereka sudah membohongi keluarga kita.


Ternyata selama ini, Papanya ada anak tiri dari pernikahannya itu. Seharusnya dia kasih tau ke publik tentang itu."


"Lagian, siapa juga yang mau dijodohkan Pa? Di zaman sekarang gak ada anak yang mau dijodohkan termasuk aku!" tegas Leon.


"Yaudah kalau gitu, ayo kita pulang!"


"Gak bisa Pa, aku tetap harus nungguin dia minimal sampai orang tuanya datang. Aku yang bawa dia ke sini."


"Buat apa? Kamu gak ada kewajiban menunggu dia, kamu bisa bilang kalau kamu hanya kerabat dia aja. Lagian, kalau dia bangun nanti dokter atau suster bisa bertanya tentang orang tuanya."


"Pa ... yang bermasalah itu Papa sama Papa dia. Bukan aku dan dia, jadi kalau Papa mau pergi silahkan pergi. Leon akan tetap di sini menunggu kelurga dia datang!" terang Leon dengan mantap.


"Udah Mas, biarin Leon temani Mega di sini. Lagian, apa yang dia ucapkan benar. Ini, 'kan urusan kamu sama Papa dia. Dia sama Leon gak ada masalah apa-apa," potong Mama Leon saat melihat suaminya akan membantah kembali.


"Terserah kalian, anak sama Mama sama aja!" geram Papa Leon pergi begitu saja dari depan ruangan.


Mama Leon mengusap bahu putranya dan tersenyum, "Mama sama Papa pulang dulu, ya. Titip salam untuk Mega, semoga dia segera sembuh."


"Amiin, makasih Ma."


Mama Leon mengangguk dan pergi meninggalkan Leon, sebelumnya Leon sudah memberi alamat di mana Afifa di rawat kepada Papanya Afifa.


Tapi, belum dibaca oleh pria tersebut. Mungkin, ia masih sibuk mengurus anak tirinya yang sudah membuat semuanya berantakan.

__ADS_1


Leon berjalan mendekat ke arah pintu, melihat ke dalam ruangan dari kaca pintu yang ada.


"Berjuang Mega, berjuanglah!" gumam Leon tanpa sadar air mata menetes dari sudut matanya.


__ADS_2