Menjadi Seorang Ning

Menjadi Seorang Ning
Saling Berjanji


__ADS_3

Langkah laki-laki itu semakin mendekat ke arah Mega, ia kembali menatap tanah dengan posisi yang sama sembari memejamkan mata.


"Mau tetap di situ? Kau bisa ketahuan sama orang-orang nanti," ucapnya membuat mata Mega terbuka kembali.


Mereka akhirnya berjalan bersama malam ini, dengan bulan yang menyinari jalanan dan kawasan terbilang cukup ramai penduduk.


"Jadi, Ning kenapa mau kabur?" tanyanya berjalan di samping Mega dengan tangan berada di punggung.


"Mau liat suasana malam di daerah ini aja, bukan kabur," gugup Mega dengan berdehem.


"Keluar tanpa permisi dan izin itu namanya kabur, Ning," sindirnya membuat Mega melirik sinis ke arahnya.


"Kau juga sama, kabur."


"Ya, kalau saya gak terlalu masalah, sih. Kalau sampe orang-orang tau yang kabur itu Ning, gimana?"


Mega menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke santri di depannya sekarang, ditunjuk ke arah laki-laki itu.


"Kalau ada yang tau, berarti kamu dalang dari ketahuan mereka itu!" terang Mega.


Mega menurunkan kembali tangannya dan mengayunkan langkah tanpa tujuan.


"Wah ... apakah tadi berupa ancaman?" Tak ada jawaban, Mega hanya fokus ke jalan dan menikmati sekeliling.


"Huft ... baik, saya gak akan kasih tau ke siapapun. Tapi, jangan salahkan saya juga kalau ada yang tau selain saya dong Ning.


Namanya ini jalan raya, siapa aja bisa liat Ning. Santri gak boleh keluar bukan berarti gak dikasih izin, lho.


Selagi mendesak maka mereka boleh keluar dan jalannya dari sini biasanya, para Ustadz dan Ustadzah juga lewatnya dari sini."


Perkataan laki-laki yang belum diketahui Mega namanya itu membuat langkahnya kembali berhenti dan melihat sekitar.


"Lah, iya, juga. Ini, 'kan jalan raya, pasti mereka kalau mau pergi atau ngapain lewat dari sini," gumam Mega kembali panik.


Ditatapnya wajah laki-laki di depannya kini yang sedang menatap ke samping, kepalanya kembali menghadap ke depan di mana Mega berada.


"Ada apa Ning?" tanyanya yang tak paham dengan tatapan dari Mega.


"Ini pasti bukan kabur pertamamu, di mana biasanya kau pergi?"

__ADS_1


"Ya, Ning cari tempat lainlah. Ntar, tempat saya itu malah Ning kasih tau lagi sama orang-orang. Saya seharusnya curiga sama Ning, atau jangan-jangan Ning ini disuruh oleh Kyai agar mata-matai saya?" tebaknya menunjuk ke arah Mega dengan penuh percaya diri.


Tangan Mega terkepal dan refleks ingin memukul kepalanya, tapi berhenti karena dirinya tahu bahwa tak boleh bersentuhan dengan yang bukan mahram.


Semakin keheranan santri di depannya nanti jika melihat seorang Ning Afifa menyentuh laki-laki asing.


"Aish ... udah, kasih tau aja! Lagian, saya gak akan ngasih tau siapa-siapa. Kecuali orang lain tau, ya, saya gak bisa jamin bahwa yang tau tempat itu cuma saya," kata Mega sedikit menyamakan dengan kalimat laki-laki tadi.


"Itu kalimat saya tadi Ning," gerutunya mencebik bibir.


"Udah-udah! Cepetan kasih tau saya dan bawa ke situ, malam ini kau jadi pegawal saya buat kabur dari pondok.


Lagian, gak akan lama kok. Sebentar lagi Isya, kita harus balik buat salat kalau enggak ntar ketauan," jelas Mega dan diangguki dengan keterpaksaan oleh santri tersebut.


"Ayo, ikuti saya!" ajaknya dan berjalan lebih dulu. Mega mengangguk sambil mengikuti ke mana perginya langkah kaki laki-laki tersebut.


Sepanjang jalan dirinya hanya tersenyum sambil memegang degub jantungnya yang berdebar tak karuan.


Bukan, bukan sebab dia dekat dengan laki-laki yang memang bisa dibilang santri di depannya ini cukup ganteng, sih.


Namun, dia berdebar karena pertama kali merasakan kabur dari pondok. Kalau kabur dari rumah dirinya tak akan dihukum berat.


"Kau anak baru, ya?" tanya Mega kembali membuka obrolan di tengah-tengah perjalanan.


"Bukan, tapi saya memang tak terlalu terkenal."


"Apa kau tak pernah ketahuan kabur seperti ini? Mangkanya gak pernah dihukum?"


"Pernah, Ustadz sudah muak dengan saya yang tidak berubah. Ck! Padahal saya niat untuk belajar dan menjadi orang lebih baik."


"Hahaha ... bersungguh-sungguh? Kau bahkan sering melakukan hal ini kau bilang bersungguh?" hina Mega dengan berdecih di akhir kata.


"Ternyata benar kata orang-orang," ucapnya melirik ke arah Mega dengan wajah datar.


"Apa kata orang-orang?" tanya Mega menaikkan alisnya sebelah dengan wajah bingung.


"Ning seperti bukan Ning Afifa yang dulu."


Perkataan itu membuat Mega terdiam, dengan gelagapan dan melihat ke berbagai arah.

__ADS_1


"Atau ... emang bukan Ning Afifa?" sambungnya menaikkan alis sebelah.


"M-maksudmu?" gelagap Mega dengan terbata-bata.


"Ya, semacam jiwa yang berpindah."


"Hahaha, kebanyakan nonton atau baca cerita kau ini. Mangkanya seperti itu berpikirnya, lain kali saat disuruh ngaji, ya, ngaji. Bukan malah baca novel atau liat film begituan," saran Mega dengan mengangguk sedangkan laki-laki tadi menjawab dengan acuh sambil menaikkan kedua bahunya.


Mereka telah sampai di salah satu warung yang dekat dengan pondok, di belakang warung terhampar padi-padi berwarna hijau.


Suara jangkrik juga menghiasi tempat ini, bukan hanya ada mereka berdua di situ. Namun, ada beberapa warga yang sedang asyik menonton televisi dengan siaran bola.


"Lah, dari situ lebih cepat. Tuh, keliatan tembok pondoknya," tunjuk Mega yang duduk di bangku terbuat dari papan bermodel panjang. Mungkin, muat untuk 4-5 orang.


"Memang," jawab laki-laki itu melihat ke arah tembok.


"Kenapa tadi gak ngajak langsung ke sini? Ngapain muter kita sampe jauh kayak tadi?" gerutu Mega menatap kesal ke arahnya.


"Ning yang membawa arah, saya hanya mengikuti saja," ungkapnya merasa tak bersalah.


Wajahnya yang menampilkan seolah tak bersalah dan kata-katanya itu, membuat Mega harus menahan kekesalannya kembali sambil mengepal kuat tangannya.


"Wah, ini Ning Afifa, ya?" tanya penjaga warung sambil memberikan teh hangat pesanan Mega. Lebih tepatnya, laki-laki itulah yang memesan tehnya.


"Eh, hehe. Iya, Buk," jawab Mega berdiri dari bangku dan menunduk.


"Gak perlu sampai begitu, biasa aja. Ibu orang biasa, kok," ucap penjaga warung sambil memegang bahu Mega.


Ia menatap tangan penjaga warung yang ada di bahunya lalu beralih melihat wajah si pemilik warung.


"Eh, maaf-maaf," ujarnya merasa tak enak, "Ibu lancang banget pegang-pegang kamu, ya?"


Mega hanya tersenyum membalas ucapannya dengan tangan yang sudah tak ada lagi di bahu Mega.


"Yaudah kalau gitu, Ibu balik lagi ke dalam, ya. Kalian jangan lama di sini, kalau ketauan bisa berabe nanti. Ibu juga yang dimarahi sama pihak pondok," paparnya dan mendapatkan anggukan dari Mega serta laki-laki tadi.


Mega kembali duduk dengan mengayunkan kakinya yang menggantung sebab tempat duduknya lumayan tinggi.


"Minum Ning, biar ada tenaga nanti buat manjat temboknya," titah laki-laki tersebut membuat Mega melihat ke arahnya sentar lalu memegang tangkai gelas.

__ADS_1


__ADS_2