
Sambil menunggu waktu sore, kami akhirnya memilih untuk menyelesaikan tugas sekolah saja. Daripada harus repot-repot bawa laptop ke pantai.
"Jadi, pas di pantai tuh cewek saat mau pulang langsung udah ada di tubuh orang lain jiwanya. Jiwa mereka tertukar gitu.
Semua orang kaget dan terkejut dengan apa yang terjadi pada kedua orang yang berbeda itu. Hingga pada akhirnya, mereka kalau mau pindah jiwa lagi harus melakukan kebaikan.
Nanti, dari hal kebaikan itu kita bisa edukasi ke anak-anak lainnya. Ya ... kita bilang bahwa setiap orang harus belajar untuk menjadi orang baik.
Bukannya berharap menemukan orang baik, seperti itu kurang lebih. Kan, guru ngasi durasi paling banyak 20 menit.
Kita buat singkat-singkat aja dan padetnya pas dia buat kebaikan itu, ya ... kita atur deh nanti kebaikan apa yang harus dilakukan.
Misal; buang sampah pada tempatnya, membantu orang tua, tidak melawan, juju, berbagi pada sesama, senyum dan lainnya gitu."
Aku berdiri dan menatap ke arah mereka semua sembari menjelaskan dengan tangan yang juga ikutan.
Bak seorang bos di kantor-kantor yang sedang melakukan presentasi sebuah produk atau pun tema.
Eh ... emang bos ada yang ngelakuin presentasi, ya? Bukannya kerjanya cuma menyimak dan menolak?
Mereka diam mencoba memahami alur cerita yang kumaksud, tak lama suara tepukan tangan juga senyum mereka berikan padaku.
Aku langsung ikutan senyum merasa puas dengan ide yang cukup lama kusimpan untuk tugas semacam ini lagi.
"Terima kasih!" ucapku dan duduk kembali.
"Lu pinter banget, sih! Gak sia-sia lu berteman sama kita, jadi pinter, 'kan lu?" puji Megi merangkul bahuku.
"Itu semua kepintaran gue yang gue bagi ke Mega," timpal Wendi yang sudah mulai mengotak-atik laptop.
"Eits ... gue itu mah, otak kalian aja cetek-cetek pada," potong Kanaya tak mau tinggal diam.
"Iya, deh, si paling otak kalian," sindirku mengambil gorengan dan berdiri berjalan ke arah Wendi.
Kami mendekat ke arah Wendi untuk melihat karya yang dia buat, Wendi cukup lihai membuat animasi.
Katanya, karena sudah terbiasa menggambar menggunakan buku gambar jadi lumayan gampang kalau menggunakan aplikasi seperti ini.
"Nama tokohnya siapa?" tanya Wendi menatap wajah kami satu per satu. Akhirnya, perdebatan pun kembali di mulai.
__ADS_1
Dasar, emang! Gini, nih, kalau para keras kepala di satuin. Gak akan pernah ada yang mau ngalah satu orang pun.
"Yee ... ke pantai!" seru Kanaya keluar dari pintu.
Tugas sudah selesai meskipun dengan berdebat tentunya, tapi semua bisa kami atasi sebab tidak terlalu besar masalahnya.
"Yuk, naik mobil lu Kanaya?" tanyaku yang sudah menggunakan celana se-paha serta baju pendek plus blezer.
"Yoi, dong!"
"Tunggu Non!" larang sopir-ku membuat kami yang sudah ingin masuk ke dalam mobil berwarna silver milik Kanaya berhenti.
"Ada apa, Pak?" tanyaku menaikkan blezer yang terjatuh dari bahu.
"Non mau ke mana?" tanyanya menatap ke arahku juga teman-temanku satu per satu.
"Pantai Pak!"
"Saya antar aja Non."
"Lah, temen saya udah jauh datang ke sini juga. Lagian, kami gak akan ke mana-mana cuma pantai doang," keluhku menautkan alis menatap sopir.
"Bapak dan Ibu bilang bahwa Non gak boleh pergi sendiri sama ke-tiga teman Non ini," ungkapnya menunjuk ke arah mereka.
"Enggak, mangkanya saya mau nganter kalian," jawab sopirku dengan begitu polos.
"Kenapa Bapak gak percaya sama kami? Bapak gak liat wajah kami ini, wajah-wajah anak baik?" tanya Kanaya menunjukkan wajah imut menurutnya tapi amit untuk yang melihat.
Sopirku sampai bergedik ngeri melihat wajah mereka, "Udah, intinya kalau kalian mau ngajak Non Mega ke pantai. Maka, harus sama saya perginya! Titik gak pake koma!" tegas sopir yang sudah tidak bisa diganggu gugat.
Kulihat ke arah mereka sambil menaikkan dagu pertanda bertanya, "Yaudah, deh. Kita diantar sama Bapak aja, daripada gak jadi ke pantainya," putus Megi yang sekarang buka suara.
"Iya, terpaksa, lho ini Pak. Sebenarnya, kita juga ogah mau diantar sama Bapak."
"Saya juga ogah nganter kalian kecuali Non sebenarnya, apalagi kamu terong sendiri," ejek sopir pergi membuka pagar dengan aku yang menutup mulut agar tak ketahuan tersenyum.
Di perjalanan, kami hanya diam dan menggabut. Tentunya sangat tidak asyik jika diantar oleh sopir milikku ini.
"Kalian ini, udah kelas 12 seharusnya kalau jalan-jalan ke toko buku. Bukannya ke pantai, belajar biar bisa masuk ke universitas impian kalian," usul sopir pada kami.
__ADS_1
"Lah, karena mau ujian mata tuh butuh liat yang seger-seger Pak! Biar konsentrasi dalam belajar untuk ujiannya, Bapak kayak gak pernah muda aja, ah!" papar Wendi menyenggol bahu sopir sambil tersenyum.
"Ehem!" dehem sopir yang sepertinya merasa terganggu dengan tingkah Wendi.
Kami akhirnya sampai di tempat tujuan setelah menempuh waktu empat puluh lima menit dengan kebosenan di dalam mobil.
"Non, tunggu!" pinta sopir saat aku ingin menyusul temanku yang sudah berjalan masuk lebih dulu.
"Ada apa Pak?" tanyaku sambil menyipitkan mata karena silau dengan matahari yang sudah akan terbenam.
"Jangan lama Non, ingat besok sekolah dan akan ada pertemuan dengan client Bapak. Non gak boleh sampai sakit," terang sopir.
"Pak, gini, ya. Bapak itu digaji oleh Papa cuma untuk jadi sopir saya, Bapak gak berhak kayak tadi.
Ngatain temen saya apalagi ngatur-ngatur saya semau Bapak atau Papa saya. Udah, ya, Pak! Kerjaan Bapak itu cuma sopir.
Gak perlu ngantur atau tegur saya!" geramku dan pergi meninggalkan sopir di parkiran.
"Lu kenapa?" tanya Kanaya saat aku sudah sampai di loket masuk.
"Gak papa," jawabku singkat dan memilih masuk duluan.
Satu orang dikenakan biaya masuk 15 ribu dan parkir mobil 10 ribu, hamparan air biru terlihat sangat menenangkan.
Tapi, tidak dengan suasananya. Aku butuh sendiri dan tenang, apalagi mengingat bahwa besok harus pergi dengan Papa.
Dan soal Mama, aku belum ada komunikasi dengannya. Aku belum tahu apa yang ia mau dariku.
"Lu liatin apaan?" tanya Kanaya saat kepalaku menengok ke kanan-kiri dari tadi.
"Nyari tempat yang sepi," jawabku.
"Kalau mau sepi mah di kuburan, bukan di pantai! Hahaha," celetuk Wendi dengan tertawa.
"Lu mau pulang dari sini tinggal nama atau masuk ke rumah sakit, nih?" kataku bersedekap dada menatang dirinya.
"Eh, hehehe. Peach ... maaf-maaf," ucap Wendi menggaruk kepalanya dengan cengengesan.
"Lu nyesel, gak, sih, dilahirin di dunia ini Mega?" tanya Kanaya menatap ke arahku.
__ADS_1
Kami sudah menemukan tempat yang cukup jauh dari keramaian, kami semua duduk di atas pasir sambil menatap air juga matahari yang akan terbenam.
"Ya ... bukan apa-apa, ya. Gue aja yang ngeliatnya langsung ngerasa nyesel gitu dilahirin apalagi kalo sampe ngerasain," sambungnya kembali.