
Hari yang ditunggu akhirnya tiba, di mana hari ini Mega akan melawan seseorang yang dirinya tak ketahui, besok mungkin ia sudah tak ada lagi di pondok pesantren.
Selesai Subuh tadi, Mega keluar dari rumah dan berkeliling halaman pondok. Tersenyum mengingat setiap moment yang ada.
"Mbak! Mbak ngapain? Kok senyum gitu?" tanya Akbar. Akbar pulang tadi malam dari rumah Bibi yang aku pun tak tahu siapa Bibi itu.
"Gak papa, Akbar. Cuma pengen keliling aja."
"Terus kenapa senyum?"
"Emangnya gak boleh senyum, ya?"
"Boleh, sih. Tapi, jangan senyum sendirian Mbak."
"Yaudah, sekarang Akbar senyum juga deh cepetan."
"Buat apa Mbak?"
"Udah, senyum aja!" titah Mega dan diikuti oleh Akbar.
"Nah, Mbak jadinya gak senyum sendirian, 'kan?" sambungku membuat senyuman paksa tadi hilang sedangkan aku tertawa melihat ekspresi wajah Akbar.
"Oh, iya, Mbak. Akbar punya sesuatu buat Mbak," kata Akbar mengambil sesuatu di dalam saku bajunya.
"Oh, ya? Apa?" tanya Mega jongkok agar menyamaratakan tinggi mereka.
"Tadaaa!" seru Akbar menunjukan gantungan terbuat dari kayu.
Mata Mega berembun melihat pemberian Akbar padanya itu, diambil dari tangan Akbar dengan sedikit bergetar.
"Mbak kalau nanti gak menang juga gak papa, kok atau jawaban Mbak salah juga gak papa. Akbar sudah bangga sama Mbak.
Mbak adalah Mbak yang terhebat bagi Akbar, gak akan ada yang lain bahkan Mbak orang lain aja kalah sama Mbak Akbar mah," puji Akbar membuat air mataku tak dapat lagi kubendung.
Kupeluk Akbar di lapangan ini, tak kupedulikan jika sudah ada orang yang bangun sebab terlalu semangat untuk melihat acara pada hari ini.
'Andai, gantungan ini bisa gue bawa pulang. Gue pengen banget bisa bawa ini agar terus ingat sama Akbar dan lainnya.
Tapi, semua itu gak mungkin. Apalagi Afifa tak punya media sosial, akan sangat sulit jika aku meminta padanya dikirimkan gantungan ini.
Lagian ini juga memang hak dia, kok, orang mengenal aku, 'kan sebagai Afifa. Jadi, apa pun yang aku dapatkan adalah hak dia,' batinku menghapus air mata dan melepaskan pelukan.
__ADS_1
"Kita pulang, yuk!" ajakku merasa teriris saat tahu bahwa apa yang kudapat tak akan bisa kubawa nantinya.
"Ayo, Mbak!"
"Siapa paling cepat sampai ke rumah akan dikasih hadiah!" pekik Mega yang berjalan lebih dulu dari Akbar tadi.
"Ih, Mbak curang!" teriak Akbar berlari sekencang mungkin.
Mega tertawa dan terus saja berlari agar tak kalah dari Akbar, di depan pintu ada seseorang yang tersenyum melihat mereka.
"Bahagialah Ning, cari bahagiamu dan jangan terkurung di dalam rasa trauma," gumamnya.
Acara akan dimulai selesai salat Duha dan berakhir sebelum Zuhur, dihadiri oleh beberapa Kyai dari berbagai pondok yang dipilih oleh Abah.
Mega tak merasa takut, sebab dirinya tak mengenal Kyai yang akan datang ke sini. Mungkin, jika dirinya kenal akan malu atau bahkan takut salah juga kalah nantinya.
Namun, ngapain harus takut salah juga kalah? Bukankah acara ini diadakan untuk mengoreksi pemahaman yang kita serap selama belajar?
Agar tidak melenceng dari apa yang diajari oleh Ustadz maupun Ustadzah yang ada, sekaligus melatih setiap diri santri atau santriwati agar lancar dalam publik speaking.
Untuk Mega yang memang sudah terlatih publik speaking akibat selalu menjelaskan pada Mama dan Papanya, berbicara di depan umum adalah hal yang mudah.
"Gue pegang aja deh, biar gak gugup nanti," kata Mega saat akan meletakkan gantungan kuncinya ke dalam laci.
Ditatap kamar yang awalnya ia keluhkan sebab tak seluas kamar dirinya di Jakarta sana, serta banyak lagi keluhan-keluhan diucapkannya tanpa ada yang tahu.
Dia tertawa mengingatnya, sedikit lucu jika harus diingat kembali dan tak mungkin jika diulang kembali.
'Banyak banget pelajaran yang aku ambil selama di sini, semoga setelah sampai di rumah nanti. Aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Sosok Mega yang dulu menjadi sosok yang lebih baik dan peduli pada sesama, bukan hanya mabuk dibuat dengan dunia yang fana ini.
Serta, bisa lebih sabar dan tabah dalam menjalani hidup. Ya, memang beginilah hidup akan selalu saja ada cobaan.
Tinggal kita sendiri aja, mau gimana? Sabar dan meminta agar dikuatkan atau menyerah dengan keadaan,' batin Mega tersenyum.
"Afifa, ini Abah. Boleh Abah masuk?" panggil Abah membuat Mega tersadar dari lamunannya.
"Eh, boleh Bah. Masuk aja," kata Mega yang masih duduk di bangku belajarnya.
Ceklek.
__ADS_1
Abah membuka pintu kamar Mega dan membiarkannya terbuka, berjalan ke arah ranjang duduk di tepinya.
Mega tersenyum menatap Abah, "Ada apa Bah?" tanya Mega.
"Abah mau minta maaf sama kamu atas kesalahan yang sudah Abah buat selama ini, maaf jika Abah selalu menghukum kamu bahkan sampai hari ini.
Sayang, Abah tak pernah berniat buruk sama kamu. Maafin Abah jika perkataan Abah ada yang menyakiti kamu.
Abah dengar kamu ingin kuliah di luar? Abah akan kasih izin kamu selama kamu bisa memegang kepercayaan Abah.
Abah bangga sama kamu, kamu anak kebanggaan Abah. Meskipun Abah banyak salahnya sama kamu, Abah mohon maafkan Abah," tutur Abah dengan mata yang berkaca-kaca.
Mega langsung berhambur memeluk Abah tanpa mengucapkan sepatah kata pun, 'Ya, Allah. Semakin tak rela hamba-Mu untuk pergi dari tubuh ini, jangan seperti ini Mega. Lu harus ikhlas dan jangan malah manjadi iri.
Lu tau? Apa yang membuat orang tua Afifa akhirnya luluh? Karena kesabaran lu dalam menghadapi mereka.
Artinya, orang tua lu juga akan bisa luluh jika lu sabar tanpa ada teriak serta berdebat dengan mereka.
Jadi, mulai sekarang jangan pernah menentang apa yang mereka katakan jika lu pengen mereka seperti orang tua Afifa.
Lu ingat, 'kan? Gimana murkanya orang tua Afifa saat lu malah melawan mereka? Mereka aja yang dekat dengan Allah akan marah saat lu melawan, apalagi orang tua lu?' batin Mega menenangkan diri juga intropeksi dirinya.
Merasa tak mendapat balasan dari Abah, Mega langsung melepaskan pelukan, "Ma-maaf Abah kalau Afifa lancang malah peluk Abah begitu, Afifa udah maafin Abah kok. Afifa senang bisa jadi anak Abah dan kenal laki-laki sehebat Abah.
Afifa tau bahwa itu semua pasti untuk kebaikan Afifa, terima kasih banyak, ya, Bah."
Abah tersenyum dan mengangguk sambil mengelus kepala Mega membuat wanita itu semakin tersenyum dengan lebarnya.
Acara telah berlangsung dengan lancar dan ini adalah sesi penutupan dari beberapa orang yang tampil serta diberi pertanyaan.
Kupegang pengeras suara dan melihat orang yang ada di depanku, melihat satu per satu wajah di barisan santri.
Senyum seseorang kutemukan, seketika aku ikut tersenyum saat netra kami saling bertatapan. Ia mengangguk menyuruh aku agar segera menjawab pertanyaan.
Kututup mata sebentar dan menggenggam erat gantungan kayu yang diberi oleh Akbar tadi, keputusanku telah bulat dan kubuka mata untuk menjawab pertanyaan.
"Baiklah, itu tadi beberapa santri juga santriwati yang sudah menjawab pertanyaan dari para Kyai pada hari ini.
Dan ... nilai tertinggi dengan jawaban yang hampir sempurna adalah 98% di dapatkan oleh ... Ning Afifa!" ungkap Ustadz Ridwan selaku MC.
Sontak sorak terdengar dari berbagai suara juga Mega yang langsung meneteskan air mata, 'Inilah akhirnya,' batinnya tersenyum.
__ADS_1