
Darah menetes dari tangan Afifa sebab terlalu kuat memegang kaca vas tadi, suara dobrakan bahkan tak dipedulikannya lagi.
"Aku kasih kesempatan buat kau berubah Kak. Ini kesempatan terakhir, setelah ini kau masih saja berlaku jahat padaku.
Tanganku sendiri yang akan membunuh manusia seperti dirimu!" geram Afifa.
Ia melemparkan kaca tadi ke sembarang arah membuat Kakak tirinya akhirnya lega, setidaknya tak ada luka yang dirasakan oleh dirinya.
Pintu terbuka membuat Kakak tiri Afifa yang jongkok di bawah bangkit seketika, Afifa berjalan meninggalkan dirinya dan memilih keluar ruangan.
"Tangan lu kenapa? Kenapa bisa jadi kayak gini, ha?" tanya Leon yang panik.
"Gak papa Kak, cuma mau lindungi diri sendiri," jawab Afifa santai.
Mereka keluar dari kamar mandi dan memilih ke kamar mandi lain untuk mencuci tangan Afifa terlebih dahulu.
Setelah itu, Megi dan Kanaya dengan cepat memberikan obat biru serta menutupi luka menggunakan kapas.
"Kakak tiri lu?" tanya Leon menatap ke arah Afifa. Wanita itu tersenyum dan mengangguk.
"Gila tuh orang emang, ya."
"Si Anj*r gak ada kapoknya emang!"
"Minta dibunuh tuh orang!"
Tangan Leon langsung terkepal membuat terlihat urat-uratnya, ia berniat bangkit dan memberi pelajaran pada wanita itu.
Namun, dengan cepat ditahan oleh Afifa dengan menarik baju milik laki-laki tersebut. Ia menggelengkan kepala.
"Gak usah Kak, udah gak perlu apa-apain dia lagi. Aku udah urus, kok. Jangan terlibat apa pun, bagaimana pun dia adalah saudara aku sendiri."
"Lu bego atau tolol, sih? Masih mau anggap manusia yang setengah setan gitu sebagai saudara? Kalo gue? Ogah banget, mungkin udah gue masukkan dia ke penjara!" murka Kanaya yang tak habis pikir dengan Afifa.
Seseorang menangis di balik tembok mendengar pembicaraan mereka, ya, Kakak tiri Mega mendengarkan ucapan mereka.
"Maafin gue, gue pasti banyak salah sama lu. Maafin gue," gumamnya berharap Afifa dapat mendengar.
"Yaudah, kita ke mana lagi, nih?" tanya Afifa mencairkan suasana yang tiba-tiba saja hening.
"Hey! Kalian kok diam, sih?" sambung Afifa saat tak ada respon dari siapapun.
Leon bangkit dan pergi begitu saja, "Kak Leon!" panggil Afifa.
__ADS_1
"Kita pulang aja, yuk! Kalian duluan ke mobil. Tolong bawakan barang-barang aku sekalian, ya. Aku mau nyusul Kak Leon dulu," pinta Afifa berlari mengejar Leon.
Afifa berjalan mengikuti Leon, ia menjatuhkan bobot tubuhnya di salah satu bangku yang ada di mall.
Dengan perlahan, Afifa duduk tepat di sampingnya dan melihat-lihat ke kanan juga kiri.
"Kak, marah sama aku, ya? Kakak mau ngatain aku juga kayak temen-teman aku tadi? Gak papa, kok, katain aja.
Aku gak masalah, lebih baik Kakak katain daripada diam kayak gini. Aku gak paham soalnya Kakak kenapa kalau diam kayak gini."
Leon melihat ke arahnya dengan wajah datar milik laki-laki itu yang sudah seperti triplek ekspresinya.
"Lu siapa, sih? Lu bukan Mega yang gue kenal, 'kan?" tanya Leon akhirnya membuka suara.
'Ya, aku memang bukan Mega Kak. Aku ... Afifa,' batin Afifa menatap sendu ke arah Leon.
"Hahaha, Kakak ngigo atau gimana? Ya, aku Mega kali, Kak," kata Afifa.
Leon menghela napas lalu menatap ke arah Afifa, "Kita langsung mau pulang atau mau ke tempat lain, nih?" tawar Leon.
"Ke pantai, boleh Kak? Aku mau ke pantai tempat di mana aku pernah pingsan dulu."
"Ha? Lu pernah pingsan di pantai?" tanya Leon kaget.
"Yaudah kalau gitu, ayo!" ajak Leon berdiri lebih dulu di susul dengan Afifa.
Mereka berjalan bersama keluar dari mall, "Sakit, gak?"
"Gak sakit kalau buat lindungi diri sendiri."
"Hadeuh, dasar!"
"Hahahaha."
Mobil melaju ke pantai yang sudah diketahui Leon dari teman-teman Afifa, sedangkan dirinya sendiri mana tahu itu pantai apa.
"Ngapain mau ke situ, sih? Lu mau pingsan lagi? Habis itu Nyokap lu ngancem kita, gitu?" tanya Kanaya dengan sinis.
Afifa melihat ke arah belakang menatap Kanaya yang sudah emosi, "Maafin Mama aku, ya. Tapi, bukannya seorang Ibu memang akan sangat khawatir jika terjadi apa-apa pada anaknya?
Aku tau kalau sikap Mama berlebihan. Tapi, selain aku. Mama gak punya siapa-siapa lagi di dunia ini mangkanya Mama seperti itu."
Kanaya yang tadinya jutek plus cetus padanya langsung menatap dengan iba, dirinya juga memang tahu bahwa Mama Afifa bukanlah orang yang akan tenang jika anaknya di usik.
__ADS_1
Itu sebabnya waktu itu Mama Afifa langsung marah sejadi-jadinya pada mereka, "Kalau kalian emang keberatan, aku sendirian aja ke sana gak papa, kok."
"Atau ... kalian naik taksi aja gimana? Biar gue berhentiin nih mobil sekarang juga! Kalian kayak berteman sama Mega baru dua hari, tau, gak?
Jijik banget gue mangkanya berteman sama cewek, lebay banget! Kek gak ada saling pengertiannya," geram Leon yang tak mungkin membiarkan Afifa pergi sendirian ke sana.
"Gimana? Kalian mau gue turunin, ha?" sambung Leon menatap wajah mereka bertiga dari kaca spion.
Mereka hanya diam sedangkan Afifa menenangkan Leon yang emosinya masih merapi-api.
Sampai di pantai, mata Afifa langsung berbinar dan kembali tersenyum. Ia masuk lebih dulu bersama dengan Leon.
Bahkan, Afifa membiarkan mereka pulang jika memang tak mau menemani dirinya. Karena, ia tak bisa memaksakan kehendaknya sendiri.
"Gue udah bilang, 'kan. Jangan keseringan senyum!"
"Emangnya kenapa sih Kak?"
"Lu mau kejadian di bioskop tadi terjadi lagi di sini? Orang-orang pada terpesona sama senyum lu itu?
Gue udah gak kuat buat berkelahi, jangan macem-macem deh."
"Dih, apaan, sih? Malah gombalin anak orang pula, jadi aku harus kayak Kak Leon gitu? Yang datar mulu kek gak ada ekspresi wajah yang lain."
"Bagusan juga kayak gini."
"Kenapa bagus?"
"Gak buat banyak cewek jatuh cinta."
"Ya, ampun apaan, sih? Aku kira Kak Leon tuh, ya, anaknya ketus dan dingin gitu. Gak bisa gombal yang gak jelas.
Ternyata, separah ini astaga. Apalagi di kampus, ya? Bisa-bisa semua wanita di gombalin Kak Leon," ucap Afifa menatap kembali air laut yang sedang pasang.
"Sok tau lu kalo gue suka gombal di kampus," bisik Leon membuat Afifa menatap ke arahnya dengan tidak senang.
"Jangan bisik-bisik kali, apaan sih!"
"Kenapa? Lu takut jatuh lebih dalam sama gue?"
"Geer banget, aku takut kalo deket-deket nanti Kak Leon khilaf nyentuh aku!"
"Masa, sih? Gak ada ketakutan yang lain, nih?" tanyanya dengan menaikkan sebelas alis.
__ADS_1
Afifa bergedik ngeri melihat sikap Leon yang sedikit menakutkan, ia bergeser sedikit menjauh dari Leon membuat laki-laki itu tertawa.