Menjadi Seorang Ning

Menjadi Seorang Ning
Tubuh Siapa?


__ADS_3

Aku terdiam dan menatap ke arahnya, "Gue ... mau sendiri dulu, ya. Gue ke sana," pamitku bangkit dan menjauh ke mereka.


Terdengar mereka saling menyalahkan, padahal tidak ada yang salah sama sekali. Benar kata Kanaya tadi.


Kadang, aku juga bingung apa yang aku harapkan di dunia ini. Berharap, aku bisa merasakan kehidupan orang lain?


Berharap bahwa hidupku akan indah di keluarga lain? Bahkan, aku akui jika mimpi hal semacam itu saja bisa membuatku sangat bahagia.


Apalagi ... ah, rasanya sangat tidak mungkin! Kutautkan tangan dan menutup mata, sambil mendengar ombak pantai.


'Semesta, aku ingin merasakan hidup di mana kuinginkan kehidupan itu. Aku ingin merasakan kehidupan yang aku idam-idamkan.


Agar aku, bisa merasakan dan tidak hanya berangan-angan semata juga beranggapan bahwa hidup seseorang itu enak.


Semesta, aku ingin ngerasain tinggal di daerah yang agamis. Menjadi seorang Ning yang dihormati.


Mendengar kehangatan dari Abah dan Umik, bukannya pertengkaran serta amarah-amarah dan egois saja.


Atau ... kalau emang ada perjodohannya juga gak papa, kok. Aku siap menikah dengan seorang Gus yang posesif gitu layaknya di novel.


Yang kalo dia kesel, nyubit atau peluk aku. Terus pas malam mau tidur aku di shalawatin, kami tahajud bareng dan hidup bahagia hingga punya bayi yang lucu.'


***


"Ning! Ning!" suara seseorang yang lumayan asing masuk ke dalam mimpi Mega.


Dirinya membuka mata dan melihat ke arah sekitar, matanya membulat saat tahu bahwa ia berada di dalam ... kamar?


"Ning, sudah sore, Ning. Waktunya siap-siap, nanti malam akan ada acara, toh?" Kembali, suara yang tidak Mega ketahui menyebutnya dengan apa tadi? Ning.


Dengan segera Mega berjalan membuka pintu dan menatap seorang wanita dengan gamis serta kerudung yang menutupi dada berada di hadapannya sekarang.


''Kamu siapa?'' pertanyaan yang keluar dari mulut Mega setelah memperhatikan wanita yang ada dihadapannya.


''Ning? Ning gak papa, 'kan? Ning gak sampai amnesia, 'kan?'' tanya santri puteri yang ada di hadapan Mega lagi, ''s-saya, panggil Bu Nyai dulu deh kalo gitu, Ning. Permisi!''


Wanita tadi pamit pergi dari hadapan Mega dengan sedikit menunduk, sedangkan Mega dengan cepat masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


''Gak-gak, gue beneran jadi seorang Ning ini anji*r?'' tanya Mega pada pantulan dirinya sendiri di kaca.


''Gak, ini pasti mimpi, deh. Hahaha, mana mungkin beneran terjadi apa yang aku inginkan,'' sambung Mega yang masih belum percaya dengan apa yang ia rasakan sekarang.


Plak!


''Aww,'' ringis Mega merasa perih karena menampar pipinya sendiri. Ia mundur mengusap pipi dan duduk di pinggiran ranjang.


''Sayang, ada apa? Kenapa kamu nampar pipi kamu sendiri, ha? Ingat, Afifah. Allah tidak suka dengan orang yang menyakiti dirinya sendiri.''


'Anj*r, siapa lagi Ibu ini? Afifah siapa lagi?' batin Mega tidak membalas pelukan dari wanita yang mungkin umurnya yang mendekati setengah abad.


''Kalau kamu emang gak suka dengan apa yang Abah katakan dan perintah sama kamu, kamu tinggal tunjukkan pada Abah bahwa kamu pasti bisa menjadi anak kebanggaannya dari bidang yang lain,'' sambung wanita tadi menatap Mega.


''M-maaf, Bu. Saya emangnya kenapa, ya?'' tanya Mega denga terbata-bata.


''Bu?'' tanya wanita itu kembali mengulang sebutan Mega.


Mega mengangguk meskipun penuh dengan ragu, ia masih belum paham dengan apa yang tiba-tiba terjadi.


''Jadi, kamu ditemukan oleh satriwati di pantai sendirian dan pingsan. Kami udah nyari-nyari kamu dari pagi dan ketemunya baru sore tadi,'' jelasnya.


''Ibu? Sayang, kamu manggil Umi dan Abah. Bukan; Ibu, Mama atau Papi.'' Mega mulai mengangguk paham meskipun ini sedikit tidak bisa dimengertinya seutuhnya.


''Yaudah, kamu mandi dan langsung siap-siap salat, ya,'' titah Umi mengusap kepala Mega berjalan keluar dari dalam kamarnya.


Mega tersenyum sebelum pintu di tutup kembali oleh Umi, setelah wanita itu sudah tak ada lagi di depan hadapannya.


Mega berdiri berjalan ke arah jendela yang sangat sederhana bahkan kamar ini juga terbilang sederhana.


Kasur yang hanya ukuran lima kaki dan tak terlalu empuk serta penerangan kamar yang bisa dibilang tak seterang kamar milikku.


"Gue di mana, ya?" kataku melihat ke arah halaman rumah.


"Sayang, udah mandinya? Udah mau adzan, tuh!" panggil Umi kembali.


"Iya, Mi," sahut Mega berjalan ke arah kamar mandi yang beruntung berada di dalam kamar.

__ADS_1


Dibuka lemari yang di dalamnya bergantung gamis serta baju yang tersusun rapi, "Warnanya gelap semua buset, kayak ada kematian aja," cercaku mengambil salah satu gamis yang ada tak lupa perpaduan kerudungnya.


Meskipun aku jarang sekali pakai kerudung serta gamis, nih, ya. Tapi, aku tetap tahu bagaimana perpaduan yang cocok.


'Aku mesti cari tau, aku ini ada di tubuh manusia yang seperti apa sebenarnya dan kenapa sama nih tubuh gue yang disatukan?


Mana, kayaknya nih tubuh ada masalah lagi sama keluarganya. Hadeuh ... niat hati mau bebas dari masalah malah ada masalah lain lagi,' batin Mega menggelengkan kepala dan masuk ke dalam kamar mandi.


Sekitar sepuluh menit sudah rapi dengan kerudung dan gamis, keluar dari kamar melihat Umi. Ya ... wanita itu adalah orang tua tubuh wanita yang sekarang sedang ditempati Mega.


"Mana mukenanya? Kamu udah salat?" tanyanya bangkit dari tempat duduk.


"B-bukannya di musala biasanya ada mukena, ya, Umi?" tanya Mega dengan kegugupan yang tak hilang.


"Ha?" tanya Umi dengan wajah kaget.


"Hehe, a-apanya yang ha, Umi?" tanya Mega kembali dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Sejak kapan kamu mau salat di musala? Bukannya kamu sangat anti sama mereka-mereka?"


'Mampus! Nih orang kayaknya anti berbaur, atau ... kenapa gue dimasukkan ke badannya itu agar mengajarkan dia untuk berbaur kali, ya?' batin Mega yang hanya bisa menebak-nebak sekarang.


"Ya ... gak papa, dong Umi hehe. Gak masalah, 'kan?"


"Gak papa banget, Sayang. Yaudah, kamu ke musala, gih! Umi soalnya lagi gak salat, kamu aja yang ke musala," titah Umi mengusap bahu Mega.


"Yaudah kalau gitu, Umi. Me-- eh, Afifah pergi dulu, ya," kata Mega yang hampir salah menyebutkan nama.


Mega menyalim tangan dan mengecupnya, "Assalamualaikum, Umi!"


"Eh, kamu mau ke musala begitu?" larang Umi membuat Mega kembali berhenti.


"Emangnya ada yang salah, ya, Umi?" tanya Mega melihat penampilannya dari atas hingga bawah.


"Tuh!" tunjuk Umi ke arah kaki, "mana kaos kaki kamu? Aurat kamu keliatan."


"Hehe, harus di tutup juga, ya, Umi?"

__ADS_1


"Ya, harus dong Sayang! Kamu gimana, sih? Udah sana ambil, kalau Abah tau kamu telat salat nanti. Bisa dimarahi," tutur Umi.


Mega langsung kembali ke kamar dan memakai kaos kaki, ia berlari dengan cepat bahkan lupa menutup pintu ke musala tak ingin ketinggalan salat Magrib.


__ADS_2