Menjadi Seorang Ning

Menjadi Seorang Ning
Kabur Dari Kawasan Pondok


__ADS_3

Umi pergi begitu saja meninggalkan Mega tanpa menjawab atau membantah keinginan Mega tersebut.


Mata Mega menatap ke arah Abah. Namun, Abah hanya menghela napas lalu pergi menyusul Umi ke dalam kamar.


Dihapus Mega air matanya dan bangkit menutup pintu, lalu masuk ke dalam kamar.


"Bosen banget gue, asli dah. Si Afifa tahan banget sama kehidupan yang seperti ini. Ya, Allah, ternyata gak semua kehidupan yang aku baca itu seperti itu kenyataannya.


Terkadang, kita harus bersyukur dengan kehidupan yang kita punya tanpa membandingkan dengan kehidupan orang lain.


Karena, bisa jadi apa yang kita lihat di luar sama dengan yang di dalamnya. Emang sekarang gue kayaknya harus banyak-banyak bersyukur deh jadi orang," gumam Mega.


Ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tok! tok! tok!


Ceklek!


"Ada apa Bah?" tanya Mega membuka pintu kamarnya setelah selesai melakukan salat Magrib.


"Keluar sebentar, Abah mau bicara empat mata dengan kamu." Mega mengangguk dan keluar dari kamar mengikuti ke mana Abah.


"Abah mau ngomong apa?" tanya Mega menatap ke arah Abah yang duduk di sebrang dirinya.


"Apa yang kamu bicarakan sama Umi tadi sore, Abah sedikit kecewa dengan sikap kamu itu. Perubahan terjadi begitu pesat pada kamu.


Hingga kadang, Abah sampai gak tau kamu itu sebenarnya anak Abah atau tidak. Bukan Abah gak suka dengan sikap kamu.


Namun, sikap kamu sama sekali tidak mencerminkan seorang Ning. Bahkan, Ustadz Ridwan tadi melapor pada Abah.


Kamu berkelahi dengan salah satu santriwati juga bermain sama santri? Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu sekarang begitu berubah?"


Mega menatap lekat ke arah Abah dengan wajah datar, tangannya meramas gamis yang ada di atas lututnya.


"Bagaimana memangnya sikap seorang Ning yang sebenarnya Bah? Apa emang harus dijodohkan dan di sekitar pondok saja?

__ADS_1


Tidak ada larangan tidak boleh berteman dengan laki-laki bukannya, ya, Bah? Selama wanita dan laki-laki itu tidak saling bersentuhan.


Lagian, Afifa juga tidak setiap saat bermain dengan mereka. Tadi, hanya kebetulan lewat saja dan melihat mereka bermain.


Selagi Akbar tidak ada, memangnya tidak boleh bermain dengan mereka. Soal santriwati itu Bah, dia semuanya memulai."


"Cukup! Cukup Afifa!" bentak Abah membuat mata Mega sampai tertutup karena kaget mendengar bentakan Abah untuk pertama kalinya.


"Kamu selalu saja menyalahkan orang lain untuk sesuatu yang kamu perbuat, bahkan kamu selalu menentang Umi kamu sendiri.


Dan tadi sore, sudah sangat kelewatan! Kamu seolah bisa tanpa bantuan kami, bahkan menolak perjodohan yang sudah berjalan lama.


Lantas, bagaimana dengan keluarga Hafidz. Mereka akan menganggap kita apa? Tidak tau terima kasih atau tidak tau balas budi?"


"Jadi ... maksud Abah? Afifa sama saja seperti bayaran atas kebaikan mereka pada kita, begitu?" tanya Mega dengan mata yang berkaca-kaca.


"Abah udah muak mendengar ucapan kamu! Abah kira dengan kamu keluar dari kamar kamu itu, kamu akan menjadi sosok yang baik juga bijaksana.


Ternyata, setelah keluar malah semakin buat kacau semuanya! Lebih baik kamu balik lagi di kamar saja Afifa.


Kali ini, Mega kembali tak menginginkan keluarga Afifa. Ternyata, keluarga Afifa dan dirinya tak jauh berbeda.


Mega berdecih dan membuang pandangan ke arah lain, 'Kalau ini dunia gue, udah langsung pergi sambil teriak-teriak di wajah Papa gue saat ini juga. Tapi, ini dunia Afifa. Gue gak bisa kayak gitu,' batin Mega dan menatap kembali ke arah Abah.


"Baik, Bah!" jawab Mega singkat menunduk lalu masuk ke dalam kamar dengan mengunci pintu.


Direbahkan terlebih dahulu tubuhnya menatap asbes dan lampu yang tak terlalu terang, tanpa sadar bulir bening mengalir dari sudut matanya.


Dipejamkan mata untuk bisa mengontrol emosi yang membara, kembali duduk setelah merasa lebih baikan.


"Mereka gak tau kali, ya? Bahwa tuh orang udah punya calon juga, lagian dia ngapain gak ungkapin di hadapan orang tua tadi?


Kan, gue jadi korba juga gara-gara percintaan dirinya dengan ceweknya ntuh. Arkk ... tau, ah! Mending aku keluar aja," kata Mega seraya bangkit dari tempat tidur.


"Eh, tapi dari mana? Kan, gak boleh keluar dari kawasan pondok. Jangankan kawasan pondok, kamar aja sekarang aku gak dikasih keluar," sambung Mega bingung.

__ADS_1


Dirinya mondar-mandir selayaknya setrikaan, sambil menggigit jarinya pelan untuk berpikir. Diliriknya ke arah jendela.


"Yap, benar sekali! Jika dunia Ning tak seindah yang aku bayangkan, mending aku buat dunia Ning se-seru yang tak pernah kubayangkan aja," gumam Mega.


Ia mengambil uang di dalam laci dan memasukkannya ke saku gamis, sebelum keluar dari jendela ditatap terlebih dahulu jam.


"Aku masih ada waktu 20 menit lagi, baru salat Isya." Mega mengangguk dan menyusun guling di tengah dengan menutupinya pakai selimut terlebih dahulu.


Mega segera membuka jendela kamarnya dengan perlahan, senyuman bahagia terukir di wajahnya.


'Biasanya gak pernah gue lakuin ini, baru kali ini deh. Seru juga ternyata, ya? Mana deg-degan lagi gue hahaha,' batin Mega.


Dirinya turun dari kamar dengan perlahan, melihat sekeliling dan menutup jendela kembali.


'Kemarin, gue pernah liat ada jalan di halaman belakang. Gak mungkin banget kalau harus lalui gerbang karena di situ ada penjaga.


Kalau pun izin mau pergi sama mereka, harus ditemani juga waktunya gak akan lama. Padahal, gue mau liat gimana lingkungan sekitar sini.'


Mengendap-ngendap dan bersembunyi ke mana saja asalkan tubuhnya tak terlihat oleh orang-orang yang berlalu-lalang.


'Yee ... sampe juga di halaman belakang!' batin Mega berseru sambil menutup mulut karena refleks ingin berteriak kegirangan.


Tembok yang menjulang ke atas bahkan jauh lebih tinggi darinya ditatap Mega, "Kecil ini mah, pagar sekolah lebih tinggi," katanya meremehkan.


Dilihat sekitar mencari tangga, beruntung tak ada beling ditegakkan di tembok tersebut atau jaring.


Matanya berbinar saat melihat bahwa pohon yang ditanam tak jauh dari tembok, "Ini yang nanam pohonnya siapa, sih? Buat orang gampang dong kalau mau kabur."


Sekitar lima menit, Mega berhasil menaiki tembok dan berhenti sebentar menatap gedung yang ada di belakangnya sekarang.


"Cakep juga dilihat kalo dari atas," gumam Mega tersenyum.


"Bismillah!" Mega turun dari atas tembok dengan baik ke tanah, dirinya benar-benar keluar dari halaman pondok.


"Wah ... seorang Ning ingin kabur dari tempat yang seharusnya?" tanya seseorang membuat Mega membulatkan mata dan menelan saliva dengan susah payah.

__ADS_1


Perlahan, kepalanya melihat ke arah kanan di mana sumber suara tadi di dengarnya.


__ADS_2