
Mega membawa buku yang diberikan Umi ke dalam kamar dengan perasaan campur aduk, duduk di tepi ranjang dan meletakkan buku tadi di sampingnya.
Pandangannya lurus ke depan dengan masih mencoba memahami apa yang baru saja dijelaskan oleh Umi.
"Mana bisa gue kayak gitu, woy! Apalagi anu-annya sebentar lagi," gerutu Mega menggaruk kepalanya.
"Nah, ngomong aja gue belibet parah! Gimana mau ngomong di depan orang banyak nanti?"
"Arkkk!"
Mega frustasi dengan apa yang sebentar lagi akan dihadapinya, ia bahkan menghentak-hentakkan kaki ke lantai.
"Eh, apaan di bawah ranjang?" tanya Mega kala tak sengaja menginjak sesuatu.
Ia turun dari ranjang dan duduk di lantai, menyingkap sprei yang panjangnya menutupi bawah ranjang.
Diambil sepasang sendal, ia tersenyum kala mengingat kejadian yang baru saja dialami olehnya.
"Ning, kok gak pakai sendal?" tanya laki-laki yang bersama dengannya saat kabur dari pondok tadi.
"Iya, soalnya sendalnya di teras. Dan Abah kayaknya masih di depan ruang tamu, kalau diambil bisa-bisa ketauan.
Lagian, saya masih pakai kaos kaki, kok. Gak akan keliatan juga auratnya," kata Mega menatap kakinya yang menginjak aspal tanpa alas kaki.
"Hmm, tapi kotor kaos kakinya Ning. Tunggu sebentar, ya!" titahnya dan pergi ke salah satu warung yang ada di dekat jalan raya.
Sekitar tiga menit, dirinya kembali dengan membawa sendal jepit dan diletakkan di depan kaki Mega.
"Itu buat Ning biar gak sakit kakinya, atau mau pakai sendal punya saya? Tapi, kebesaran ini kayaknya di kaki Ning."
"Enggak-enggak, saya pakai ini aja. Makasih, ya. Berapa harganya biar saya ganti?" tanya Mega sambil memakai sendal yang dibelikan oleh pria tadi.
"Gak perlu Ning, suatu kebahagiaan dan beban bagi saya Ning bisa ikut kabur gini. Biasanya, saya akan selalu sendirian. Sekarang ada temennya."
"Hahaha."
Mega mengulas senyum mengingat kejadian dirinya dengan laki-laki itu meskipun hanya sebentar.
"Oh, iya, namanya siapa, ya?" tanya Mega pada dirinya sendiri.
"Astaga, lagian lu sih Mega! Kenapa gak nanya sama dia siapa? Hadeuh," gerutu Mega menyalahkan diri sendiri.
__ADS_1
Mata Mega tak sengaja menatap buku yang ada di atas ranjangnya.
"Tapi, saya tidak. Karena menganggap Ning itu sama sekali gak berhak mendapatkan pujian semacam itu.
Kalau hanya karena Ning mampu menghafal hadist, kayaknya semua yang ada di sini juga menghafalnya."
"Apakah ini caranya agar aku berhak mendapatkan gelar itu, ya? Agar aku tunjukkan juga pada mereka bahwa aku pantas.
Bukan mereka, tapi laki-laki yang aku gak tau namanya itu. Setidaknya, tetap karena niat untuk mengembangkan ilmu.
Agar tidak ada orang-orang yang salah pemahaman dalam suatu hal atau perkara sebab yang dibacanya."
Mega mengangguk dengan mantap, ia bangkit dan meletakkan kembali sendal ke dalam kolong ranjang.
Masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil wudu sebab Isya sudah lewat beberapa menit.
***
Pagi menyingsing, kokokan ayam terdengar serta burungg-burung dan tak kalah syahdunya suara ayat-ayat yang dilantunkan para penghafal ayat suci-Nya.
Mata Mega mengerjap ketika tertidur di atas sajadah selesai melaksanakan salat Subuh, berbantalkan buku yang dibacanya tanpa henti.
Masuk ke dalam dapur untuk membantu Umi menyiapkan makanan, di meja makan sudah ada Abah yang menikmati secangkir kopi.
"Pagi, Abah ... Umi," sapa Mega mengapa kedua orang tuanya.
Umi yang sedang menggoreng melihat ke arah belakang dengan tersenyum, "Pagi, Sayang," balas Umi.
"Mau Afifa bantuin Umi?" tanya Afifa mendekat ke arah Umi.
"Gak perlu, kamu duduk aja di samping Abah."
Mega mengangguk patuh dan berjalan mendekat ke arah Abah yang fokus pada kopi serta gorengan miliknya.
"Abah ... maafin Afifa atas kesalahan yang telah Afifa perbuat," ucap Mega menunduk dengan tangan yang tertaut di bawah meja.
"Afifa siap nerima hukuman apa saja asal jangan dikurung di dalam kamar Bah," sambung Mega menatap ke arah Abah.
"Apa saja?" tanya Abah kembali mengulang kalimat Mega.
Mega mengangguk, dirinya tahu bahwa waktunya di tubuh Afifa sudah tak banyak. Setidanya, ia ingin nama wanita ini bisa baik dan mata orang-orang.
__ADS_1
Meskipun, kita tahu bersama bahwa kita tak akan pernah baik di mata orang yang membenci kita sekalipun kita berbuat baik.
Namun, apa salahnya menjadi orang baik dan terbaik untuk orang lain? Setidaknya, kita punya semangat untuk melakukannya karena tahu bahwa banyak yang membutuhkan hal itu.
"Baik, hari ini Umi ada kelas dan Abah mau kamu yang menggantikannya. Kamu harus menjelaskan apa yang seharusnya Umi jelaskan di hadapan mereka.
Kamu selalu bilang dulu bahwa belajar ekstra di kamar kamu itu, sekarang Abah mau lihat bagaimana hasil belajarmu," titah Abah.
Mega ingin membantah, tapi mulutnya seketika tertutup dengan mata yang ikut melakukan hal itu.
Dianggukkan Mega kepalanya dan membuka mata sambil melihat Abah, "Baik, Bah. Afifa akan ikut apa kata Abah," kata Mega dengan tersenyum.
"Baik, nanti Umi yang akan menunjukkan kamu mengajar di mana," ucap Abah dengan kalimat yang masih dingin.
Umi meletakkan piring berisi nasi goreng serta telur dadar, diusap Umi bahu Mega pertanda memberi semangat.
Mega mendongak dan menepuk pelan tangan Umi dengan memberi senyuman pertanda dirinya baik-baik saja.
Tepat pukul delapan pagi, saat Abah sudah pergi lebih dahulu. Mega sudah siap dengan peralatannya sebagai guru dadakan sambil membawa buku yang diberikan Umi kemarin malam.
"Umi, maaf. Bukannya ini kelas laki-laki?" tanya Mega melihat sekeliling.
"Iya, Umi kelas 10 di bagian laki-laki. Kamu tenang aja, gak akan ada yang macam-macam sama kamu," jelas Umi yang menatap lurus ke depan.
Mega melihat ke sekeliling kelas laki-laki yang sebenernya tak terlalu jauh dari kelas perempuan.
"Aduh!" keluh seseorang dengan suara jatuh ke tanah membuat Mega berhenti dan menatap ke arah belakang.
"Umi, sebentar!" pinta Mega dan membuat Umi berhenti langsung menatap ke arahnya.
"Ada apa?"
"Itu, Afifa mau bantu dia dulu Umi. Sebentar, ya, Umi," pamit Mega pergi untuk membantu salah satu santriwati yang sedang terjatuh sebab kebanyakan membawa buku dan hanya sendirian.
Mega membantu menyusun buku-buku yang berserakan sedangkan si pembawa buku tadi tetap fokus menyusuninya.
"Makasih, ya," katanya tanpa melihat ke arah Mega dan Mega pun tak tahu siapa yang membawa buku ini.
Mereka berdiri bersama-sama setelah selesai menyusun buku-buku yang berserakan, "Makasih sekali lag--"
Kalimatnya terjeda ketika melihat siapa yang membantunya sedangkan Mega hanya menatap dengan biasa saja.
__ADS_1