Menjadi Seorang Ning

Menjadi Seorang Ning
Perjodohan


__ADS_3

Afifa berjalan keluar dari kamar menuju kebaradaan di mana ada Papanya, Papanya yang mendengar langkah kaki membalik melihat ke belakang.


Ia terpanah melihat anaknya, dengan kerudung menutupi rambutnya, "Sayang-sayang, kamu cantik banget," ucap Papa menatap dengan kagum.


"Harus bilang 'Masya Allah' Pa, biar Mega gak terkena ain," protes Afifa mengkoreksi ucapan Papanya.


"Oh, iya, baik-baik. Maafkan Papa, Masya Allah sekali kamu Nak."


Papa melihat penampilan Afifa dari atas hingga ke bawah, "Yaudah kalau gitu, ayo, kita pergi!" ajak Papa menggandeng tangan Afifa.


Mereka pergi ke restoran dengan menggunakan mobil, "Di sana nanti udah ada Tante yang nunggu kamu," jelas Papa di dalam mobil.


"Tante?" tanya Afifa menaikkan sebelah alisnya.


"Iya, Mama tiri kamu," ungkap Papa tersenyum dengan mengalihkan pandangannya.


Afifa duduk di belakang sedangkan Papa duduk di samping sopir, Afifa membuang pandangan ke arah jalanan.


'Setelah ini, akan terjadi apalagi, ya, Allah?' batin Afifa yang takut jika melakukan sesuatu kesalahan.


"Pak, itu Non Mega?" tanya sopir yang membawa mobil.


"Iya, kenapa?"


"Udah beda banget Pak, dulu belum pakai kerudung. Apalagi dulu, ya, yang saya tau. Non Mega pasti akan selalu marah-marah juga berdebat sama Bapak.


Mana mau dia tenang duduk kayak gitu, apalagi kalau udah tau akan bertemu dengan Nyonya pasti saya juga akan jadi korban dari amarahnya Pak."


"Sutt! Kamu jangan ngomong kayak gitu, dia anak saya, lho. Sembarangan kamu jelekin dia begitu," tegur Papa menyenggol lengannya.


Afifa yang mendengar hal itu hanya diam dan tersenyum kala Papa menatap ke arahnya dengan tersenyum juga.


Mereka sampai ke restoran setelah menempuh jarak sekitar dua puluh menit, perut Afifa sedikit perih akibat belum makan berat dan hanya makan roti saja tadi.


Cup!


Papa mencium istrinya di hadapan Afifa, wanita itu menunggu kehadiran mereka berdua tak jauh dari restoran.


"Eh, Mega? Kamu apa kabar, Sayang?" sapa Tante mencium Afifa.


"Alhamdulillah baik Tante," jawab Afifa dengan canggung.


Dirinya bingung harus bagaimana bersikap, lagian bukankah seharusnya ia tetap dengan sikap yang baik meskipun akan dianggap berbeda.

__ADS_1


"Mega kenapa Mas? Dia sakit?" tanya Tante berdiri kembali di samping Papa sambil menatap ke arah Afifa.


"Sakit? Maksud kamu?"


"Ya, itu. Tumben banget dia pakai kerudung, biasanya juga gak pernah."


"Dia hijrah bukannya kamu dukung malah ngatain dia sakit, udah ayo kita masuk! Udah ditunggu sama client."


Kami akhirnya masuk ke dalam restoran, aku memang jarang waktu berada di pondok datang ke tempat seperti ini.


Makan dengan keluarga di mana pun akan lebih nikmat daripada makan sendirian di tempat yang mewah seperti ini.


Papa melambaikan tangannya ke arah orang-orang yang sudah ada di meja, ada 3 orang juga.


"Apa kabar Pak?" tanya Papa langsung bersalaman dengan temannya.


"Baik-baik!"


Tante juga ikut bersalaman dengan teman Papa dan juga istrinya sepertinya, Afifa hanya berdiri tak jauh dari bangku.


"Jangan di pegangin kali, gak akan kabur tuh kursi," sindir seseorang melirik ke arah Afifa.


Afifa yang mendengar ucapannya itu langsung menatap dan refleks melepaskan pegangannya dari kursi tadi.


"Eh, itu siapa?" tanya istri teman Papa menunjuk ke arah Afifa.


Dengan langkah yang malu-malu, Afifa berjalan mendekat dan dirangkul oleh Papa bahunya, "Salam Sayang," titah Papa dan diangguki oleh Afifa.


Ia menangkup tangan di dada ke arah teman Papanya dan menyalim tangan istrinya.


"Oh, iya, maafin ucapan anak Tante tadi, ya. Dia emang gitu anaknya."


"Gak papa, kok, Tante."


"Yaudah kalau gitu, ayo kita duduk!" ajak temen Papa mempersilahkan mereka untuk duduk.


Makanan yang sudah dipesan mulai berdatangan ketika client memanggil pelayannya agar mengeluarkan makanan.


Afifa mencuri-curi pandangan ke arah orang yang ada di depannya sekarang, mereka hanya tersekat oleh meja saja.


"Udah lama lu tobat? Bukannya lu terkenal nakal, ya?"


"Kata siapa?" tanya Afifa menatap ke arah laki-laki dengan wajah datar itu.

__ADS_1


"Kata orang-orang dan lu pasti gak lupa dengan apa yang pernah lu lakuin sama gue dulu, 'kan? Atau jangan-jangan lu amnesia? Ini itu bukan pertemuan pertama kaluarga kita!" terangnya dengan menekan kalimat juga sedikit berbisik.


"Semua orang bisa berubah kapan pun yang dia mau, termasuk aku."


"Oh, ya? Lu sekarang udah berubah, nih? Gue kok gak yakin, ya? Atau ... lu mau bersikap baik agar Mama semakin menjodohkan kita?"


Mata Afifa membulat kaget mendengar ucapan laki-laki itu, ia baru tahu bahwa ada maksud dari pertemuan ini.


"Hey, kalian berdua lagi ngomongin apa, sih?" tegur istri client Papa yang tersenyum sambil melihat ke arah mereka berdua.


"Ma, kami izin pindah meja. Boleh, ya?" tanya laki-laki itu.


Mamanya tersenyum senang dan mengangguk, "Boleh banget, dong. Yaudah, kalian pindah aja ke sana dan nanti makanan biar dibawa sama pelayannya."


"Anak Papa, udah kayak orang gede aja. Pake mau bicara berdua doang lagi."


"Hm ... privasi Pa, lagian kami juga gak paham dengan apa yang Papa dan Om bahas. Kalau gitu, kami pindah dulu, ya."


Anak client Papa lebih dulu bangkit dan pindah ke meja yang tak terlalu jauh dari meja mereka, sedangkan Afifa menampilkan wajah cemas takut jika nanti laki-laki itu berkata yang tidak-tidak hingga membuat dia emosi.


"Udah sana, Sayang. Temani dia," suruh Mama tiri sambil mengusap bahu Afifa.


"Sana Sayang, temani dia," ucap Papa juga.


Dengan terpaksa, Afifa bangkit dan berjalan ke arah meja di mana sudah ada laki-laki tersebut.


"Kenapa wajah lu berubah kayak tadi? Atau ... lu gak tau soal itu?"


"E-enggak, Papa cuma bilang kalau ini hanya pertemuan biasa doang. Cuma sekedar makan siang aja sam client-nya," jawab Afifa polos.


Laki-laki tadi menyandarkan punggungnya dan menaikkan sebelah kakinya di tumpukkan ke kaki yang lain.


Berlagak sok keren membuat bibir Afifa tanpa sadar terangkat sebelah, 'Dih, Mega juga gak mau kali kalo punya suami yang kayak gini,' batin Afifa memutar bola matanya malas.


"Kenapa tiba-tiba lu berubah kayak gini?" tanyanya.


"Y-ya ... karena aku udah punya calon suami pilihan sendiri. Aku suka sama dia karena dia seorang Ustadz yang gak tengil.


Jadi, aku harus menjadi wanita yang baik kalau mau berjodoh sama dia, dong. Iya, 'kan?" tanya Afifa mengada-ngada.


"Gak tengil? Ck! Jadi maksud lu gue tengil, gitu? Dan sejak kapan bahasa lu jadi aku-kamu kayak gitu, ha?


Gak usah formal gitu, gue bukan pacar atau gebetan lu. Panggil gue-lu aja, atau lu mau belajar memang agar terbiasa manggil gue nanti dengan kata-kata formal seperti itu?" tanyanya dengan mendekatkan tubuhnya ke arah Afifa.

__ADS_1


"Lu kayaknya perlu ke dokter, deh. Pede lu tinggi banget, gue juga ogah kali punya calon suami kayak lu!" ketus Afifa yang membuat dirinya lupa bahwa ia seorang Ning.


Afifa bangkit dari tempat duduk membuat laki-laki tadi menatap dengan datar ke arahnya, ia pergi begitu saja dari meja mereka.


__ADS_2