Menjadi Seorang Ning

Menjadi Seorang Ning
Toilet


__ADS_3

Afifa berjalan ke toilet, ia sempat bertanya terlebih dahulu pasa pelayan yang kebetulan papasan dengannya.


Dirinya masuk ke dalam toilet yang kebetulan sepi, dihidupkan air wastafel dan meletakkan tas di sampingnya.


Suara pintu toilet terbuka tak dihiraukan oleh Afifa, ia tetap fokus mencuci tangannya dan meredamkan emosi.


Tiba-tiba, tubuhnya di tarik dan membuat dia hampir terjatuh.


"Bahagia, lu? Iya? Bahagia lu dijodohkan sama Leon? Itu mau lu, 'kan?" geramnya menunjuk ke arah Afifa.


Afifa yang belum paham dengan maksud dan siapa wanita di depannya hanya menautkan alisnya.


"Apa? Lu mau ngomong apa sekarang? Kenapa diam aja mulut lu itu? Mana bacotan yang selama ini?


Berlagak pakai kerudung segala, biar apa? Biar Mama Leon semakin suka sama lu, gitu? Lu tau, 'kan kalo gue itu suka sama Leon, ha?


Lu udah ambil Papa dari hidup gue dan sekarang Mama gue juga sayang sama lu, gue juga pengen ikut dan dianggap sebagai anak Papa.


Bukan cuma lu doang, apa karena gue anak tiri sampe Papa gak mau ngakui dan ajak gue setiap kali ada acara sama client-nya, ha?


Dia kira gue apa? Gue cuma figuran doang? Gue juga mau diakui dan dibawa setiap kali meeting atau ketemu sama client.


Gue juga mau dijodohkan dengan anak rekan kerja Papa, kenapa semunya lu? Lu, lu dan lu semuanya.


Apa-apa Mega, semuanya Mega di dunia Papa. Kapan gue akan ada di hidup Papa? Kapan Papa akan liat bahwa gue juga mau diperlakuin sebagai anak?


Atau ... harus gak ada lu dulu di dunia ini baru gue akan rasain diakui sebagai anak? Kalau emang iya ... gue akan lakuin itu sekarang juga!" terangnya dengan menatap tajam ke arah Afifa.


Afifa yang memang tak paham sejak awal dengan apa yang dikatakan oleh wanita di depannya.


Kini, mulai mengerti bahwa wanita di depannya sekarang adalah Kakak tirinya. Mungkin, ia seperti ini sebab tak dianggap oleh Papa.


Wanita itu mengambil sesuatu dari saku dresnya, sebuah benda tajam dikeluarkannya membuat Afifa kaget.


"Kak ... jangan Kak, itu bahaya!" pekik Afifa ketakutan dengan menggelengkan kepala.


"Kak? Wah ... gak usah sok baik lu! Sejak kapan mulut lu bisa manggil gue Kakak, ha?" tanyanya dengan sinis.


"Oh, iya. Sebelum gue habisin lu, gue mau ngasih hadiah buat lu adik gue hahahah."


Plak!

__ADS_1


Tamparan didapatkan Afifa membuat dia mengerang kesakitan, sudut bibirnya langsung mengeluarkan darah.


Di pegang Afifa pipi yang dirasanya sakit, bulir bening langsung berkumpul di pelupuk matanya bersiap untuk turun.


"Itu, hadiah untukmu. Juga balasan atas apa yang lu lakuin sama gue kemarin!"


"Sekarang ... hadiah yang kedua buat lu, gue mulai dari mana, ya? Perut, mata, tangan atau ... wajah?" sambungnya dengan wajah yang sudah siap untuk membunuh seseorang.


"Enggak, Kak. Jangan lakuin itu, tolong! Tolong!" teriak Afifa dengan langkah mundur sedangkan pisau berada di hadapannya.


"Kenapa enggak, ha? Iya, dong. Lu, 'kan udah puas selama ini ngerasain di sayang sama semua orang!


Sedangkan gue? Bahkan Mama gue sendiri aja selalu bandingi gue sama lu, apa sih hebatnya lu ha?


Gue kadang bingung, bocah dengan perilaku yang gak jauh beda sama gue kenapa bisa dapat semua yang dia mau. Sedangkan gue? Perhatian mereka aja susah buat gue dapetin!"


Afifa menggelengkan kepalanya saat Kakak tirinya semakin dekat melangkah, ia melirik ke arah belakang. Sebentar lagi akan sampai di dinding.


Mencari celah dan memutar otak, dirinya berjalan ke arah pintu dari bawah tangan Kakaknya. Namun, naas.


Tak-tik yang ia gunakan lebih dulu diketahui oleh Kakaknya, dia kunci pintu dan dimasukkan ke kantong dresnya.


"Tolong!"


"Tolong!"


Teriakan sekuat tenaga dikerahkan Afifa serta merapalkan doa-doa dan pertolongan kepada Allah.


Ia sudah tidak tahu harus melakukan apa lagi, 'Ya, Allah. Kalau hamba dikasih kesempatan untuk hidup dan bebas dari sini juga kembali ke dunia hamba sebelumnya.


Hamba akan belajar bela diri, ya, Allah. Agar jika terjadi hal seperti ini kembali hamba bisa menghadapinya dengan mudah,' batin Afifa dengan wajah yang sudah dipenuhi air mata.


"Jangan sok nangis-nangis segala lu, gue gak akan iba terhadap diri lu itu!"


"Kak ... bukan aku yang mau diperhatiin oleh orang tua kita, tapi mereka yang langsung memberikan perhatian itu sama aku.


Aku juga gak tau soal perjodohan ini, semuanya tiba-tiba. Mereka ngasih tau bahwa hari ini hanya makan-makan doang.


Aku juga kaget, kok. Bukan cuma Kakak, aku gak pernah mau dijodohin sama siapapun. Jadi, Kakak tenang aja, ya. Aku akan tolak, kok.


Itu bahaya, Kak. Kakak bisa lukain aku dengan pisau itu."

__ADS_1


"Gak usah berlagak sok tolol lu! Lu kira selama ini Papa membawa lu ketemu client yang ada untuk apa?


Untuk jodohkan lu sama mereka, seharusnya lu tau itu! Lalu, kenapa sekarang lu malah mau-mau aja diajak kembali sama Papa?


Bukannya dulu lu udah gak mau? Atau ... karena lu tau kalo Leon itu pewaris tunggal keluarganya? Jadi, lu mau nerima dia gitu?"


"Kak ... sama sekali enggak, Kak. Aku juga gak tau apa-apa, plis jauhkan pisaunya dari wajah aku Kak."


Sementara di sisi lain, Leon merasa sedikit gelisah sebab Afifa tak kunjung kembali ke mejanya.


"Leon, Mega di mana, ya? Kok gak balik-balik?" tanya Papa Mega menatap ke arah Leon.


"Iya, Om. Tadi dia izin ke toilet, tapi sampai sekarang belum juga balik."


"Sayang, coba kamu liat di toilet sana," titah Mama Leon dan diangguki oleh Leon.


Ia langsung bangkit dengan perasaan sedikit cemas juga, berjalan ke arah toilet dengan melihat-lihat keadaan.


Takut saja kalau sampai dia dikira mau mengintip para wanita yang ada di toilet.


"Woy Mega! Lu ada di dalam atau enggak?" tanya Leon mengetuk-ngetuk pintu.


"Tolong!" pekik Afifa yang merada di dalam.


Merasa terancam, Kakak tirinya langsung membekap mulutnya agar tak lagi teriak.


"Mega, lu ada di dalam? Ha? Mega?" teriak Leon yang membuat beberapa orang mendengar teriakannya menjadi berkumpul.


"Ada apa Nak Leon?" tanya Papa Afifa yang ikut ke toilet juga.


"Mega di dalam Om, pintunya juga di kunci ini."


"Awas, biar Om dobrak aja!"


"Enggak, kita sama-sama aja Om!"


"Satu! dua! tiga!"


Pintu toilet dibuka paksa oleh mereka bertiga, Kakak tiri Mega langsung kaget dan membalikan badan menatap ke arah mereka yang sudah ada di belakangnya.


Afifa sudah menahan sakit, tangannya lebih dulu di sayat hingga membuat lantai toilet berdarah.

__ADS_1


__ADS_2