
Mega berjalan ke arah para laki-laki tadi, mereka yang melihat keberadaan Mega langsung kaget dan bangkit dari jongkoknya.
"Ning, kamu ngapain?" tegur Ustadz melihat Mega yang malah berada di depannya, "ustadz, 'kan sudah beri tau di mana posisi kamu."
Tak tanggapaan dari Mega, ia tetap fokus melihat ke arah benda yang sedang dibuat oleh para santri.
Bahkan, Ustadzah juga ke-tiga santriwati tadi melihat ke arah Mega yang tetap saja menatap dan mencari sesuatu.
Ia mengambil alat-alat yang diletakkan para santri tak jauh dari barang tersebut ada, diperbaiki beberapa hal yang dirasa salah tempatnya.
"Ustadz, tolong ambilkan itu!" titah Mega menunjuk ke salah satu barang.
Dengan penuh ragu, Ustadz Ridwan mengambilkan dan memberikan barang tersebut.
"Udah, deh, Ning. Ini udah setengah jam, lebih baik kamu segera selesaikan tuga kamu aja. Daripada nanti makin lama selesainya?" usir Ustadz Ridwan.
"Bismillah!" gumam Mega dan menyalakan barang tadi yang ia rasa sudah cocok posisi benda-bendanya.
Suara bunyi dari barang tersebut membuat santri yang menjauh tadi otomatis mendekat dan menatap kagum ke arah Mega.
Dirinya mengelap peluh keringat yang membanjiri wajah, "Hehe, Ning meskipun wajahnya cemong kayak gitu. Ternyata tetap aja masih cantik, ya," goda salah satu di antara mereka yang malah fokus menatap ke arah Mega.
Tentu saja ucapannya barusan membuat semua orang menatap ke arahnya dengan horor termasuk Ustadz Ridwan.
"Ning, terima kasih sudah membantu. Lebih baik sekarang Ning pulang dan mandi saja, wajah Ning sudah hitam akibat dari bantuin ini tadi," perintah Ustadz Ridwan dan diangguki oleh Mega.
"Kalau gitu, saya permisi duluan semuanya. Ingat, jangan pernah sepelein ilmu seorang wanita. Karena di zaman sekarang, wanita juga bisa memiliki ilmu yang setara dengan seorang laki-laki. Assalamualaikum," salam Mega dan berlalu pergi dari belakang pondok.
"Waalaikumsalam," gumam mereka semua sambil melihat punggung Mega yang menjauh dengan perasaan tersadarkan akibat ucapan Mega tadi.
Meskipun di Jakarta Mega mengambil jurusan Animasi, tapi ia selalu belajar soal teknik yang lainnya.
Dirinya suka tantangan serta mencoba, itu sebabnya tak pernah ada rasa takut di dalam diri Mega.
"Assalamualaikum Ning," sapa seseorang yang datang entah dari mana.
"Waalaikumsalam, eh, kamu lagi?" tunjuk Mega mulai tak asing dengan wajah santriwati satu ini.
__ADS_1
"Hehe, iya, Ning, saya lagi," jawabnya dengan cengengesan.
"Ada apa?"
"Eh, gak ada apa-apa Ning. Cuma nyapa doang, kok."
"Oh ... yaudah kalau gitu, saya duluan, ya. Mulai malu soalnya banyak yang pada jalan-jalan," jelas Mega berharap dia paham dengan konteks yang dimaksud olehnya.
"Heheh, gak papa Ning. Masih tetap cantik, kok," pujinya yang ternyata paham.
"Kamu juga cantik, kok. Semua orang itu cantik, tapi semua orang juga harus bersih. Hehe, kalau gitu saya pamit dulu, ya. Assalamualaikum," salam Mega tersenyum dan melanjutkan langkah dengan sesekali berlari kecil agar cepat sampai di rumah.
Bagaimana juga, ia akan tetap malu ketika wajahnya yang dipenuhi oleh hitam-hitam seperti sekarang dilihat oleh orang-orang.
"Assalamualaikum Umi," salam Mega menyelonong masuk ke dalam rumah dengan melepas sendal terlebih dahulu.
"Waalaikumsalam, astaghfirullah! Kamu habis mandi oli di mana Sayang?" tanya Umi kaget yang baru keluar dari kamar.
Mega menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil cengengesan, "Bukan mandi oli Umi, tadi Afifa bantu para santri yang sedang buat sesuatu gitu.
"Kamu bantuin para santri laki-laki?" beo Umi menautkan alis.
Mega mengangguk membenarkan dan menatap wajah Umi yang terpancar seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakannya.
"Umi gak percaya, ya? Umi bisa tanya Ustadz Ridwan, beberapa santri, tiga santriwati dan dua ustadzah, kok, Umi. Mereka juga ada tadi si sana."
Umi menghela napas dan menatap ke arah Mega, ia mendekat memegang kedua bahu putrinya.
"Umi percaya, kok, sama anak Umi sendiri. Yaudah kalau gitu, sekarang kamu mandi dan bersih-bersih. Hari ini gak perlu ke aula karena sudah terlalu banyak hukuman yang kamu jalanin hari ini."
"Yee ... asyik! Bisa tidur selesai Isya, makasih Umi!" seru Mega yang tak bisa membohongi tubuhnya.
Ia begitu letih dengan hukuman yang ditimpakan pada kesalahan menurutnya masih tidak masuk akal.
Namun, lebih baik mengikuti daripada nanti tambah panjang masalah yang diterima olehnya. Selesai melakukan rituan mandi dengan keramas.
Mega keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi rambut basahnya, ia berjalan ke arah kasur dan menatap paket-paket miliknya.
__ADS_1
Berjalan terlebih dahulu ke meja belajar untuk mengambil gunting agar lebih mudah membuka isi paket tersebut.
"Ceklek!"
Pintu terbuka membuat Mega yang sedang berdiri sambil memegang gunting menatap dengan bingung ke arah; Umi, Abah dan ... Akbar tentunya.
"Kenapa Umi?" tanya Mega yang menatap polos ke arah mereka.
"Gak papa, kita cuma mau melihat apa isi dari para jodoh dan pangeran kamu itu," sindir Umi yang sudah membaca semua nama pengirim sedangkan dirinya belum.
Alis Mega tertaut, ternyata tebakan dia bahwa yang mengirim barang adalah Afifa salah besar. Ya ... walaupun tidak sepenuhnya dia yakin akan hal itu, sih.
Abah, Umi dan Akbar mencari posisi masing-masing. Mega duduk di sebelah kiri dan membuka paket pertama.
Dirinya tersenyum membaca nama pengirim tersebut.
"Ehem!" dehem Abah yang membuat senyuman Mega hilang dan berubah menjadi datar.
"Kamu gak punya handphone diam-diam, 'kan?" tanya Abah menyelidiki dengan tatapan serius.
"Gak punyalah Bah, masa Abah sendiri gak tau kalo Afifa itu gak punya handphone," ujar Mega sambil membuka paket dengan semangat 45.
"Wih ... Maa Syaa Allah," ucap Mega melihat gamis warna hitam ia dapatkan dari jodohnya itu.
"Jodoh Mega ngasih gamis Bah, hahaha." Gelak tawa Mega bersambut dengan gelak tawa Akbar juga.
"Ciee ... Mbak, banyak penggemarnya sekarang," goda Akbar.
"Iya, dong. Karena Mbak baik, gak kayak kamu. Wle!" ejek Mega menjulurkan lidahnya.
Kembali paket-paket di buka, ada yang berisi buku diary dan alat tulis, kerudung, set salat dan juga tas selempang yang bisa dibilang bahwa tasnya adalah asli.
"Mereka punya uang dari mana, ya, Umi? Ini tasnya kulit asli, lho," gumam Mega menatap dengan baik-baik ke arah tas yang sedang di pegangnya.
Terlahir sebagai orang kaya tentu saja membuat Mega hidup dalam barang-barang yang mewah juga alis.
Apalagi Mamanya termasuk wanita yang style-nya harus modis dan kekinian banget, tak ada kata memakai barang KW dalam sejarah hidupnya.
__ADS_1