
Sesampainya di dalam kelas, tak lama setelah pergi Leon. Teman-teman Afifa pun berdatangan dan berhambur ke mejanya.
"Aaa ... ganteng banget, sih, Kak Leon?"
"Kalo selama ini gue tau lu mau dijodohin sama cowok yang seganteng itu, dah dari dulu gue dukung kalian!"
"Biasa aja kali, kalian kenapa malah kayak abis di pelet dah?" timpal Wendi dengan ketus.
Afifa hanya menggelengkan kepala dan tertawa melihat tingkat Kanaya dan Megi, "Kalian kenapa, sih?"
"Lu gak bilang kalo yang mau dijodohin secakep itu, sih!" kata Kanaya menyenggol bahu Afifa.
"Dia bilang apa tadi? Kenapa bodyguard lu pergi?" tanya Wendi menatap Afifa.
"Dia yang ngejamin kalo aku gak akan kenapa dan kemana-mana, dia bilang sama Mama langsung dan nyuruh agar bodyguard-nya pergi.
Soalnya pulang nanti dia yang antar aku ke rumah Mama, Mama aku dan Mama dia temen kelas masa sekolah dulu.
Jadi, Mama masih percaya sama dia. Kalau dia bisa ngelindungi aku dari orang-orang jahat salah satunya orang seperti Kak Dara," jelas Afifa membuat mereka bertiga mengangguk.
"Jadi, pas ke mall dia ikut dong?" seru Kanaya dan dibalas anggukan oleh Afifa.
"Mau gak mau dia ikut, karena kalo gak sama dia pasti gak akan dikasih. Atau dikasih paling sama bodyguard dan kalo sama bodyguard banyak larangannya ntar hehehe."
"Bener, sih, bener! Lu tepat Mega, orang yang lu minta tolongin itu gak salah."
"Jadi, kita ketemu nanti di mall langsung?"
"Iya, kalian kasih tau alamatnya aja sama aku di mana. Aku sama Kak Leon akan nyusul di sana nanti."
"Tapi, Leon itu juga kayaknya gak seru, sih. Pasti akan banyak kekangan yang akan dia berikan sama lu nanti," potong Wendi membuat pandangan mereka bertiga mengarah ke dirinya.
"Ya ... aku tau, sih. Tapi, gimana lagi? Udah gak ada pilihan, aku juga pengen jalan-jalan sama kalian. Cuma ada ini satu-satunya jalan buat kita bisa main bareng."
"Lagian, lu gak boleh suudzon gitu dong sama Kak Leon. Dia itu keliatan banget baiknya, lho!" cetus Kanaya tak terima dengan pikiran Wendi.
"Hadeuh ... susah ngomong sama orang yang udah di pelet mah," sindir Wendi bangkit dan pergi ke bangkunya kembali.
"Dih, bilang aja lu kalah ganteng sama Kak Leon. Wle!" ejek Kanaya menjulurkan lidah ke arah Wendi.
"Gue? Kalah ganteng? Hahaha, bahkan seluruh kaca mengakui kegantengan gue!" papar Wendi sambil merapikan rambutnya.
"Dih!"
__ADS_1
"Ieuuwww."
Afifa tersenyum melihat tingkah laku teman-temannya yang sudah tak kembali marah pada dirinya.
***
"Gue duluan, ya, Guys! Mau nemenin Mama gue ke pasar soalnya."
"Iya, hati-hati, bye!"
"Lu sama siapa Mega?" tanya Kanaya berdiri di samping bangku Afifa.
"Sama Kak Leon," jawab Afifa sambil memakai tas ranselnya.
"Oh, yaudah. Hati-hati, ya, jagain pacar kita," ucap Kanaya menautkan alis Afifa.
"Pacar kita?"
"Iya, karena kegantengan dia itu jadinya dia juga pacar gue, deh."
"Tapi, aku gak pacaran sama dia."
"Halah! Ntar juga pacar--"
Afifa hanya tersenyum dan melambaikan tangan ke arah kedua temannya yang sudah mulai menghilang dari pandangan.
Diambil Afifa handphone untuk mengirimkan pesan pada Leon yang entah di mana berada.
[Kak Leon, ada di mana? Aku udah pulang, nih. Kalau gak bisa pulang bareng, aku naik taksi aja, nih!] pesan dikirim Afifa dengan mata yang berkeliaran mencari sosok Leon.
Ia berjalan di koridor yang cepat sekali sepi, hanya tinggal beberapa murid saja dan ada juga yang tengah menjalankan piket kelas.
"Mega!" panggil seseorang dari belakang membuat Afifa menghentikan langkahnya.
"Hey, kamu pulang sama siapa?" tanya ketua osis yang ternyata memanggil dirinya.
"Aku kirain Kak Leon," gumam Afifa menatap ke lantai koridor.
"Hello, hey Mega!" panggil ketua osis dengan melambaikan tangan ke depan wajah Afifa.
"Eh, iya, Kak?" tanya Afifa tersadar.
"Haha, kok kamu malah bengong, sih? Kamu pulang sama siapa?" tanya ketua osis kembali mengulang pertanyaannya.
__ADS_1
"Sama ...." Afifa kembali mencari keberadaan Leon yang belum menjawab pesan darinya.
"Mega!" panggil seseorang yang langsung dilihat oleh Afifa.
"Itu, sama Kak Leon," jelas Afifa menunjuk ke arah Leon yang berjalan ke arah mereka berdua.
"Sorry, ya, telat. Soalnya tadi ada urusan bentar," ungkap Leon yang sudah berada di antara mereka.
"Gak papa, kok, Kak," jawab Afifa menggelengkan kepala.
"Udah, 'kan? Yuk, kita pulang!" ajak Kak Leon dan diangguki Afifa.
"Kak ... kalau gitu, aku pulang duluan, ya. Assalamualaikum," salam Afifa ke ketua kelas yang hanya menatap lurus ke depan.
Afifa berjalan meninggalkannya dan pergi bersama dengan Leon, "Dia siapa?" tanya Leon di sela-sela perjalanan menuju parkiran.
"Ketua osis."
"Suka sama kamu, ya?"
Kedua bahu Afifa terangkat, "Dia tadi ngajak pulang bareng, cuma gak jadi soalnya aku, 'kan mau pulang bareng Kak Leon."
"Gue pikir, cewek segalak dan bar-bar kayak lu gak akan ada yang suka, lho. Ternyata banyak, ya, sepertinya?" tebak Leon menatap Afifa yang berjalan di sampingnya.
"B-banyak apaan, sih, Kak? Dia juga bukan suka sama aku, mungkin takut kalau aku jalan kaki aja pulang ke rumah," ungkap Afifa.
Hanya ada keheningan di perjalanan mereka menuju parkiran, "Masuk!" titah Leon membukakan pintu mobil sport miliknya.
"Makasih," ucap Afifa dan masuk ke dalamnya. Leon memutar bagian depan mobil dan masuk ke bangku sopir.
Mereka keluar dari kawasan kampus dan menuju ke tempat yang dituju, sesekali Afifa melirik ke arah Leon yang tengah fokus melihat jalanan.
"Ada apa? Kalo lu mau nanya sesuatu, bilang aja kali," celetuk Leon yang tahu bahwa diperhatikan oleh Afifa.
"Itu Kak ... rambut Kakak kenapa diwarnai gitu, sih? Emangnya gak dimarahi dosen? Warna hitam, 'kan bagus," komentar Afifa pada warna Leon yang sebagian sudah tak hitam.
Bukannya langsung menjawab, Leon sempat-sempatnya narsis lebih dulu dengan melihat rambutnya dari kaca mobil.
"Bagus, kok. Lagian ini pelet biar cewek-cewek pada tergila-gila sama gue," jelas Leon yang bercanda dengan wajah serius.
"Astaghfirullah, emangnya di 2023 masih zaman pelet, ya, Kak? Kalo gitu, mending Kakak pelet wanita yang berasal dari Mis Indonesia itu.
Mereka udah jelas; cantik, pinter, berpendidikan, good atititude juga," usul Afifa menatap wajah Leon.
__ADS_1
"Ya, sih. Lu benar dan yang paling penting, mereka tinggi gak pendek kayak lu!" ejek Leon tersenyum mengejek.