Menjadi Seorang Ning

Menjadi Seorang Ning
Kurangnya Komunikasi


__ADS_3

"Apa perlu saya bantuin kamu bawa bukunya?" tanya Mega menatap ke arah santriwati yang selalu mencari masalah dengannya.


"Gak perlu! Ngapain juga kamu bantuin saya!" ketusnya mengambil buku dengan kasar dari tangan Mega.


Mega hanya membalas dengan senyuman apa yang diperbuat santriwati itu pada dirinya, "Saya minta maaf," kata Mega seketika membuat langkah kaki wanita tadi berhenti.


Berjalan kembali menghampiri wanita yang baru melangkah beberapa kali, Mega berdiri tepat di hadapannya.


"Saya minta maaf jika pernah melukai atau berbuat jahat padamu. Hak-mu untuk memaafkan saya, saya hanya bisa meminta maaf dan berdoa pada Allah agar hatimu dilembutkan sehingga bisa memaafkan saya.


Namun, satu yang harus kamu ketahui bukan maksud saja menggurui. Jangan pernah membenci apalagi dendam dengan orang lain.


Bukankah orang yang tau tentang kita sekolah di mana nantinya akan malah menggunjing kita sendiri dengan kalimat percuma mondok kalau sikapnya bla, bla, bla?


Jadi, ada baiknya kamu rubah dan saya minta maaf atas kesalahan yang saya lakukan ke kamu. Maaf, belum bisa menjadi contoh terbaik menurut kamu. Saya permisi dan hati-hati, ya. Assalamualaikum."


Mega pergi meninggalkan santriwati tersebut, ia langsung membalikan badan dan menatap ke arah Mega dengan mata yang berkaca-kaca.


"Saya juga minta maaf, Ning. Waalaikumsalam," gumamnya yang tak terdengar lagi oleh Mega sebab jarak mereka yang sudah jauh.


Umi dan Mega akhirnya masuk ke kelas untuk mulai pelajaran yang seharusnya sudah dimulai beberapa menit yang lalu.


Umi tersenyum dan mengusap kerudung Mega melihat anak sulungnya sudah jauh menjadi orang yang lebih baik lagi daripada kemarin.


Mega masuk ke dalam kelas dengan perasaan yang teramat gugup. Sebisa mungkin dirinya mencoba untuk lebih santai.


Bagaimana pun, seorang Mega adalah orang yang paling pede saat di sekolah dulu. Mana mungkin dia bisa malu apalagi gerogi jika disuruh seperti ini.


Satu jam setengah berlalu, dirinya melihat ke arah para santri yang tengah mencatat apa yang dijelaskan olehnya tadi.


Belajar-mengajar di kelas sepuluh cukup seru menurut Mega, semua aktif bertanya dan juga menjawab.


Ia kembali membaca buku yang diberikan oleh Umi juga menulis pertanyaan apa yang akan dilayangkannya.

__ADS_1


Waktu istirahat telah berbunyi, saatnya untuk dalam Duha tentunya. Mega berdiri di ambang pintu sebab Umi berpesan padanya agar tak keluar dari kelas sebelum dijemput oleh Umi.


"Assalamualaikum Ning, ngapain tetap di kelas? Bukannya sudah waktunya istirahat?" tanya Ustadz Ridwan yang tak sengaja lewat.


"Waalaikumsalam Ustadz. Umi berpesan pada saya agar tak keluar dari kelas ini sebelum beliau menjemput saya.


Saya juga mau meminta maaf kepada Ustadz atas kesalahan yang mungkin pernah saya perbuat, maafkan atas kesalahan serta perlakuan saya," ungkap Mega sambil menunduk dengan buku yang dipeluk.


"Ha?" tanya Ustadz Ridwan.


"Apanya yang 'ha' Ustadz?" tanya Mega kembali dengan mendongak melihat ke arah Ustadz Ridwan sebentar lalu menunduk kembali.


Dirinya tak paham kenapa malah kata 'ha' yang diucapkan Ustadz Ridwan.


"Oh, enggak-enggak. Saya cuma sedikit kaget dengan perubahan sikap dari Ning. Ehem! Saya juga minta maaf jika pernah berbuat salah pada Ning."


"Saya maafkan Ustadz."


"Assalamualaikum Ustadz Ridwan, Afifa," celetuk Umi yang tiba-tiba datang.


"Maafin Umi, ya, Sayang. Kelupaan tadi kalau kamu di sini, Umi malah pulang dan baru ingat pas liat kamar kamu gak ada orang," jelas Umi membuat Ustadz Ridwan tertawa.


Hal itu membuat Mega geram, ia melirik sinis ke arah Ustadz Ridwan membuat laki-laki itu akhirnya diam.


"Lupa Umi kalau masih punya anak gadis," sambung Umi kembali.


"Iya, Umi. Gak papa, kok. Mending sekarang kita pulang, yuk!"


"Yaudah, ayo! Makasih, Ustad Ridwan udah nemenin Afifa padahal gak perlu, lho. Takutnya malah terjadi fitnah nanti. Assalamualaikum," salam Umi dan pergi membawa Mega kembali pulang.


"Waalaikumsalam," gumam Ustadz Ridwan melihat punggung mereka yang sudah pergi menjauh darinya.


"Maa Syaa Allah, siapa sangka ternyata Ning Afifa bisa lebih dari yang saya bayangkan. Malah semakin pinter sampai bisa gantiin Nyai ngajar," pujinya.

__ADS_1


"Eh, astagfirullah. Apa-apaan, sih, Ridwan. Kamu gak boleh gitu, dia masih anak sekolahan belum lulus. Mending aku balik ke ruangan aja deh," putusnya dan pergi dari depan kelas tadi.


Sesampainya di rumah, Mega langsung bergegas ke kamar untuk melakukan salat Duha dan kembali membaca buku yang diberikan Abah kemarin malam.


"Besok lagi waktunya, haduh ... gimana, ini? Gue mana paham yang beginian, ini lagi bahas apaan sih?" gerutu Mega menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja gatal.


"Nih-nih, nyerap lu, ya, otak sama tulisan-tulisan ini," kata Mega meletakkan kepalanya di atas buku tersebut agar tulisannya masuk ke dalam otaknya.


Selayaknya anak sekolahan yang akan ujian dan tak sempat belajar atau tak paham dengan pelajaran, biasanya saat frustasi mereka akan melakukan hal-hal konyol semacam itu.


"Sayang, kamu ngapain?" tanya Umi yang tiba-tiba masuk membuat Mega kaget dan langsung duduk dengan tegak.


"Ini, Umi. Biar tulisannya masuk ke dalam otak Afifa, jadi Afifa tempelin deh kepala Afifa ke bukunya," jelas Mega tertawa membuat Umi menggelengkan kepalanya.


"Kamu ini, ya. Ada-ada aja tingkahnya sekarang," kata Umi meletakkan piring berisi buah-buahan.


Umi duduk di pinggir ranjang membuat Mega berpindah posisi jadi menghadap ke arah Umi, diambil Umi satu tangan Mega dan digenggamnya.


"Maafin Umi, ya, kalau ada salah sama kamu atau selama ini kamu ngerasa terbebani dengan semua yang Umi lakukan.


Maaf, Umi gak pernah bertanya mau kamu apa, Umi malah langsung jodohin kamu sama seseorang yang ternyata udah punya wanita lain.


Kalau Umi keras sama kamu, percaya deh itu semua demi kebaikan kamu. Walaupun nyatanya, Umi terlalu berlebihan," tutur Umi membuat Mega tersenyum dan memegang tangan Umi juga.


"Afifa tau bahwa ini pasti untuk kebaikan Afifa, kok, Umi. Afifa juga salah gak pernah ngasih tau apa yang dimau.


Umi juga gak akan tau kalau gitu, kita sama-sama kurang komunikasi. Afifa mau dimengerti padahal tak memberi tahu sedangkan Umi maunya juga dimengerti tanpa bertanya terlebih dahulu."


"Terus, setelah ini kamu mau gimana?" tanya Umi membuat Mega terdiam bingung.


"Emm ... mungkin, Afifa akan kuliah Umi. Melihat dunia luar bagaimana dan merasakan pendidikan di luar pondok seperti apa.


Agar, ketika berdakwah dan mengajar. Afifa bisa bercerita tentang pengalaman di luar, bukan hanya di pondok saja."

__ADS_1


Umi mengangguk dengan air mata yang menetes di pipinya, "Udah besar ternyata anak Umi, sudah bisa berpikir sedewasa itu."


"Hehehe, apaan sih Umi. Semua orang akan besar pada waktu, 'kan?" tanya Mega mengusap pipi Umi dan dibalas dengan anggukan pertanyaannya tadi.


__ADS_2