
Ceklek!
Pintu ruangan Afifa terbuka membuat kedua empu langsung melihat ke arah pintu, Papa masuk dengan wajah yang terlihat jelas tidak baik-baik saja.
Leon langsung berdiri dari bangku dan menatap ke arah Papa, "Om, dokternya tadi mau ngobrol sama Om," ujar Leon memberi tahu.
"Oh, baiklah. Om ke ruangan dokter dulu, ya. Tolong jaga Mega."
"Baik Om."
Papa kembali keluar dari ruangan dan pergi ke tempat yang di tuju, tak lama seorang perawat datang sambil membawa nampan berisi bubur juga buahan.
"Terima kasih," ucap Leon dan dibalas anggukan.
Leon mengambil mangkuk yang dibawa oleh perawat tadi, "Aku bisa sendiri."
"Tangan lu aja masih sakit kayak gitu, tenang aja. Gue gak akan minta bayaran karena udah jagain lu, kok."
Sendok yang berisi bubur di sodorkan Leon depan mulut Afifa, "Masa, aku makannya sambil rebahan gini, sih?"
Helaan napas berat keluar dari bibir Leon, ia menyibakkan rambutnya dan meletakkan kembali mangkuk ke nakas.
"Banyak banget bacot lu, ya!" geramnya membantu Afifa agar bisa duduk atau setidaknya lehernya lebih tinggi agar mudah menelan dan makannya.
Dengan perlahan Leon menyuapi Afifa, hanya empat sendok saja Afifa sudah menolak untuk disuapi.
Leon memberikan buah agar perut Afifa tetap terisi, apalagi di restoran tadi mereka bukannya makan tapi lebih banyak berdebat.
Sambil menunggu Papa sampai di ruangan Afifa kembali, mereka hanya saling diam saja. Sesekali Leon bersiul agar tak terlalu hening.
"Kamu gak pulang? Pulang aja, 'kan Papa aku udah datang."
"Lu ngusir gue?" tanya Leon dengan ketus.
"B-bukan begitu, cuma, 'kan ini udah sore. Gak enak juga sama orang tua kamu."
"Iya, nanti gue pulang nunggu Papa lu datang!"
__ADS_1
Afifa hanya mengangguk sambil menatap lurus ke depan, berdua dengan Leon tentu saja membuat dia canggung apalagi sebelumnya ia tak pernah berdua-duaan dengan yang bukan mahram seperti ini.
Hanya saja, ini semua bukan kemauan dia melainkan adanya 'uzur' hingga mau tak mau mereka harus berdua.
Tak lama, sopir pribadi dan juga pembantu di rumah Afifa datang ke ruangan dengan tergesa-gesa juga wajah panik.
Leon langsung bangkit dan menjauh dari Afifa membiarkan mereka mendekat, "Ya, Allah Neng. Kenapa bisa sakit kayak gini? Siapa yang buat?" tanya Bibi dengan wajah cemasnya.
"Gak ada Bik, cuma jatuh doang kayaknya," jawab Afifa tersenyum.
"Kamu siapa?" tanya sopir menunjuk ke arah Leon.
"Saya ...."
"Dia yang bawa dan bantuin saya Pak," potong Afifa.
"Oh ... terima kasih sudah membantu Non Mega."
"Ya, sama-sama. Kalau begitu saya pamit pulang dulu," pamit Leon, "gue pulang dulu, cepat sembuh lu!" Leon berbisik ke arah Afifa lalu pergi keluar dari ruangan.
Afifa melihat kepergian Leon hingga tubuh laki-laki itu tak lagi terlihat dari pandangannya.
"Bapak dan Bibi tau dari siapa saya di sini?"
"Tau dari Papa, Non. Karena dia mau ngurus sesuatu lainnya, jadi nyuruh kami agar menemani Non di sini."
Dianggukkan Afifa kepalanya tanpa paham dengan apa yang dikatakan, tak lama Papanya kembali datang ke ruangan Afifa beserta dengan perawat yang ada di belakangnya.
"Mega pindah ruangan inap, mungkin 2 hari paling lama dia si sini," jelas Papa sedangkan perawat sibuk mengurus perpindahan.
"Tapi, Mega udah sehat, kok, Pa."
"Kamu belum sehat, Sayang. Kita pindah kamar, ya," ucap Papa mengelus kepala Afifa.
Afifa dibawa ke kamar VIP yang ada di rumah sakit ini, ia sempat menolak sebab merasa terlalu berlebihan padahal hanya dua hari saja.
Bibi dan sopir diperintahkan untuk pulang ke rumah terlebih dahulu dan mengambil barang Afifa lainnya di rumah.
__ADS_1
Papa juga mengurus sekolah Afifa, meminta izin untuk Afifa yang tidak bisa datang ke sekolah seperti biasanya.
Tak! tak! tak!
Suara hels mendekat ke arah ruangan Afifa, Papa yang tengah duduk di pinggir ranjang melihat ke arah pintu bersama dengan Afifa.
"Mama," gumam Afifa dengan wajah kaget sebab melihat Mama yang wajahnya penuh dengan amarah.
"Apalagi kali ini? Apa yang telah keluarga benalu kau buat itu pada anakku? Eh, ingat ya! Itu keluargamu bukan keluargaku!
Aku bisa melaporkan hal ini ke kantor polisi dan kau tak akan pernah bisa ketemu dengan Mega sampai kapan pun!" tegas Mama sambil menunjuk ke arah Papa.
"Ma ...," panggil Afifa mencoba menenangkan. Papa turun dari tempat duduknya dan menatap ke arah Mama dengan tak kalah nyalang.
"Dan kau pikir? Apakah hak asuh akan diberikan padamu seutuhnya?"
"Kau mau mencoba? Baik! Hal ini akan aku naikkan ke polisian dan pengadilan, agar kau tau bahwa keluarga benalumu itu tidak pantas dekat-dekat dengan anakku!
Sebaiknya, kau liat dulu ancaman dan berapa tahun penjara untuk anakmu benalu itu. Aku ... tak pernah main-main dengan apa yang kuucapkan!
Sekarang, kupinta kau keluar dari ruangan ini dan biarkan aku berdua dengan Mega!" suruh Mama dengan menunjuk ke arah pintu.
"KELUAR!" teriak Mama yang sudah tersulut emosi dan tak mampu menahannya lagi.
Papa keluar dari ruangan sambil melirik ke arah Afifa sebentar, begitu Mama mendengar pintu tertutup.
Ia menghela napas dan berjalan mendekat ke arah Afifa, air matanya menetes sembari mengusap wajah Afifa.
"Sayang, maafkan Mama, ya. Seharusnya Mama gak biarin kamu hidup sendirian di rumah itu, hal seperti ini gak akan terjadi kalau Mama gak ngasih kamu izin untuk ikut di acara-acara gak penting Papa kamu itu. Maafkan Mama, ya," ungkap Mama mencium tangan Afifa yang terpasang selang infus.
"Ma ... ini semua bukan salah Mama, ini udah takdir Allah. Mau Mega tinggal di mana pun kalau emang takdir Afifa hari ini harus kayak gini, ya, akan tetap terjadi Ma.
Mega mohon, Mama jangan bawa kasus ini ke jalur hukum, ya. Kesian Kakak, biarin aja dia Ma. Setiap perbuatan akan mendapatkan balasannya, kok."
Mama mengerjapkan mata dengan mulut yang tercengang, "Kamu kenapa kayak gini, Sayang? Mama suka kamu hijrah tapi Mama gak suka kamu kayak orang bodoh gini!
Orang yang jahat harus dibalas dengan perlakuan yang jahat juga, dong. Kalau dibaikin mulu yang ada tuh anak benalu ngelunjak!"
__ADS_1
"Mama ... Mega bukan bodoh Ma, tapi buat apa perlakuan yang jahat dibalas dengan jahat? Gak ada bedanya dong kita sama dia? Iya, 'kan?" tanya Afifa menaikkan alisnya sebelah membuat Mama terdiam.
"Okey! Mama gak akan bawa kasus ini ke polisi, tapi kamu tetap harus pindah ke rumah Mama dan diawasi oleh bodyguard Mama!" tegas Mama, "gak ada penolakan apa pun, kalau kamu menolak. Maka, kasus ini Mama bawa ke jalur hukum Sayang."