Menjadi Seorang Ning

Menjadi Seorang Ning
Bocil Kematian


__ADS_3

"Umi, Umi masih marah sama Afifa, ya?"


"Afifa emangnya lakuin apa Nak?"


"Afifa cuma ke depan gerbang doang, Bah."


"Hayo ... Mbak!"


Akbar bukannya memperbaiki keadaan malah semakin memperkeruh, sepulangnya Ustadz Ridwan tadi Umi tak menegur Mega bahkan hingga makan malam ini.


Mega juga tak mendengar Umi berkata apa pada Ustadz Ridwan tadi sore.


"Dia bukan Umi panik Bah, semua orang sudah pulang dari ngaji dia sendiri yang berkeliaran sampai ke depan gerbang.


Kata Ustadz Ridwan dia liat pamplet di depan, buat apaan, coba?" terang Umi yang membuat Mega terkejut.


'Umi nanya ke Ustadz Ridwan tadi ternyata? Cepu juga tuh orang, tapi gak papa sih yang penting ganteng,' batin Mega cengar-cengir.


"Nah, liat Bah! Dia dimarahi bukannya merasa bersalah malah senyum kayak gitu!" papar Umi membuat Mega yang dibicari langsung mendatarkan wajahnya dan menatap ke arah depan.


Abah hanya menggelengkan kepalanya sambil mengunyah makanan, sedangkan Umi menatap dengan jengkel ke arah Mega.


"Istigfar Umi, Umi gak boleh sampai kehasut sama setan seperti itu. Lagian, apa yang Afifa bilang sama Umi benar, 'kan?


Dia cuma di depan gerbang doang, dia gak pergi ke mana-mana seperti pikiran Umi. Dia gak akan kabur lagi seperti waktu itu, kok. Jadi, Umi tenang aja," bujuk Abah mengusap tangan Umi menenangkan.


"Gak mau tau, Umi akan tetap hukum dia agar dia gak pergi sembarangan tanpa izin sama Umi!" tegas Umi tetap kekeh pada pendiriannya.


Abah hanya bisa menghela napas karena tidak berhasil membujuk Umi, sedangkan Mega hanya mencebik bibirnya.


Sehabis makan malam, Mega masuk ke dalam kamar dan kembali melihat ke sekeliling kamar. Dirinya merasa bosen dan hampa sebab tak tahu harus berbuat apa.


Kembali keluar dan berhenti di ambang pintu kamar sambil menyandarkan tubuhnya, "Eh, mau ke mana tuh?" tanya Mega mencegah Akbar yang ingin keluar.


Sehabis Isya nanti baru akan disuruh kumpul di lapangan pondok untuk mendengarkan pengumuman yang Mega sendiri tak tahu apa pengumuman itu.


"Mau main-mainlah Mbak," jelas Akbar.


"Main apa? Bentar lagi ada pengumuman, lho."


"Itu mah buat Mbak-mbak yang udah gede, Akbar gak ikutan. Akbar masih kecil soalnya."


"Yaudah, mau main apa? Sama Mbak aja, ya. Daripada kamu main sendirian," tawar Mega sambil menaik-turunkan alisnya.


"Emangnya Mbak bisa?" tanya Akbar dengan wajah meremehkan.


"Wah ... kamu sepele sama Mbak, nih! Ayo, kita main!" ajak Mega menggandeng tangan Akbar untuk keluar.

__ADS_1


Mereka bermain tak jauh dari teras rumah, Akbar mengeluarkan beberapa gulinya. Abah dan Umi tak melarang Akbar untuk bermain selagi semua urusan sekolahnya telah selesai.


Mega membuat bulatan dan meletakkan kelereng di dalam bulatan tersebut, mereka bermain dengan fokus dan teliti.


Beberapa kali Mega tertawa sebab Akbar tidak terlalu jago dalam bermain hingga dirinya selalu saja kalah.


"Ish, Mbak curang, ya?" tanya Akbar dengan wajah kesal.


"Lho, kok, malah ngatain Mbak curang? Kamu yang gak jago mainnya, tuh!" ejek Mega kembali tertawa melihat wajah adiknya.


"Assalamualaikum," salam seseorang dengan kakinya yang berdiri tak jauh dari tempat Mega dan Akbar bermain.


"Waalaikumsalam," jawab Mega sembari melihat orang tersebut dari bawah hingga ke atas.


Matanya lansung terbuka lebar dan bangkit dari jongkoknya sembari membersihkan tangan juga gamisnya yang mungkin terkena tanah.


"Ada apa, Ustadz?" tanya Mega menunduk.


"Mmm ... Bu Nyai ada?"


"A-ada, kok Ustadz," gelagap Mega.


"Boleh tolong panggilkan Ning?"


"Baik Ustadz, mari masuk!"


"Sudah kamu suruh masuk?"


Mega mengangguk dan menatap ke arah Umi, "Yasudah, Umi ke depan dulu. Ayo, Bah!" ajak Umi dan pergi lebih dulu ke depan menemui Ustadz Ridwan.


Sedangkan Mega berjalan ke arah bangku untuk duduk, "Eh, Abah liat ada yang berbeda dengan anak Abah," tebak Abah sambil menyusun buku.


"Beda apanya, Bah?"


"Ya ... pipinya jadi lebih berwarna padahal gak pake apa itu namanya? Make-up, ya?"


"Haha, Abah kenapa sih? Pipi Afifa biasa aja juga Bah."


"Baguslah kalau gitu, sekolah dulu yang benar, ya!" pesan Abah mengusap kepala Mega lalu menyusul Umi ke depan untuk berbicara dengan Ustadz Ridwan.


Di ruang makan, Mega hanya merengutkan wajahnya. Dirinya merasa bosen dan kesal dengan keadaan sekarang.


Diletakkan kepala di meja yang beralaskan tumpuan tangan sambil melihat ke arah jam, "Lama banget, sih, jamnya bergerak!" gerutu Mega.


"Mbak ini gak boleh mengeluh gitu, dong!" celetuk suara yang sudah mulai tak asing di telinga Mega.


Ia tak melihat ke arah sumber suara dan tetap dengan posisinya, "Mbak, Mbak mau dihukum apaan, sih?" tanya Akbar berdiri menghalangi pandangan Mega.

__ADS_1


"Dinikahkan sama Ustadz Ridwan," jawab Mega asal dengan wajah yang datar.


"Ha? Abah ... Umi! Jangan nikahin Mbak!" pekik Akbar yang berlari ke ruang tamu.


Hal itu membuat Mega panik hingga bangkit dari bangku dengan tidak pelan, "Aduh!" keluh Mega meringis saat kakinya terbentur kaki bangku.


Saat ia sudah sampai di ambang ruang tamu dan membuat semua tatapan mengarah ke dirinya, ia hanya menampilkan cengengesan juga menggaruk tengkuk yang tak gatal.


"Apa lagi ini Afifa?" tanya Umi menatap ke arahnya.


"Gak ada Umi, Afifa hanya bercanda. Akbar yang anggap serius."


"Masuk ke kamar sekarang!"


"Tapi U--"


"Masuk Afifa!" tegas Umi dengan suara tinggi membuat Mega mengangguk dan masuk ke kamar.


Di dalam kamar ia menggerutu dan memukul-mukul gulingnya sambil rebahan di ranjang.


"Ya, ampun aku malu banget! Mana ada Ustadz Ridwan pula, mau di taruh di mana nih muka gue," gerutu Mega menggeleng-gelengkan kepala.


Pintu berderit membuat Mega mengangkat kepala untuk melihat siapa yang masuk ke dalam kamarnya.


"Abah," gumam Mega segera duduk dan menampilkan wajah sedihnya.


"Boleh Abah duduk?" tanya Abah berdiri di dekat Mega sedangkan ia hanya menunduk sembari mengangguk.


Abah duduk di samping Mega dan menatap putrinya, "Umi bukan marah apalagi benci sama kamu Sayang, Umi melakukan itu karena Umi khawatir sama kamu.


Waktu kamu menghilang dan ternyata ada di pantai waktu itu, semua orang Umi suruh untuk mencari kamu.


Umi sampai nangis-nangis tanpa henti hingga akhirnya kamu ditemukan dengan keadaan pingsan seperti itu.


Jika kamu merasa Umi berlebihan, ini adalah hal yang wajar dilakukan orang tua untuk anaknya. Semua orang tua ingin yang terbaik.


Soal tadi, kamu bilang sama Akbar mau nikah sama Ustadz? Kamu masih kecil, Sayang. Kamu masih panjang perjalanan hidup kamu.


Tapi, kalau memang kamu mau sama Ustadz biar Abah yang kasih tau sama beliau," tutur Abah membuat pandangan Mega beralih ke arahnya.


Dengan cepat diambil Mega tangan Abah yang ada di samping kasur dan menciumnya, "Abah ... Afifa gak mau nikah sama Ustadz Ridwan, kok. Tadi, Afifa hanya bercanda saja.


Afifa gak tau kalo Akbar akan mengadu ke Abah juga Umi di depan, Afifa kira dia hanya akan menganggap itu sebagai candaan juga," ungkap Mega.


Tangan Abah terulur mengusap kepala Mega yang tertutup kerudung, ia begitu panik akibat ulah Akbar.


'Dasar bocil kematian!' batinnya mengumpat Akbar.

__ADS_1


__ADS_2