Menjadi Seorang Ning

Menjadi Seorang Ning
Paket Dari Jodoh


__ADS_3

Mega membuka pintu sembari melirik ke arah jam, sudah jam setengah tujuh pagi, "Bah ... Afifa mau ke dapur aja, ya. Takut telat, bentar lagi juga mau masuk ke kelas ini."


"Assalamualaikum Bah," salam Mega dan pergi dari kamar meninggalkan Abah.


Ia segera berlari ke dapur dan saat yang bersamaan Ustadz Ridwan juga akan masuk ke dalam dapur.


"Eh, astagfirullah!" ucap Mega saat mereka hampir saja tabrakan.


"Kenapa lari-lari Ning?"


"Takut telat bantuin, Ustadz."


"Bukannya sudah dicabut Bu Nyai?"


"Ha?" tanya Mega kaget.


"Iya, Bu Nyai bilang gak perlu Ning bantuin di dapur."


"Eh, gak papa kok Ustadz. Bagaimana pun ini tugas dan hukuman buat saya, jadi harus saya lakukan perintah Umi. Saya permisi masuk dulu, Ustadz."


Mega masuk ke dalam dapur pesantren, di dalam ada beberapa santriwati lainnya yang bertugas juga.


"Kalian jangan sungkan untuk memerintah dan meminta tolong pada Ning, karena dia di sini atas perintah dari Bu Nyai," ungkap Ustadz Ridwan membuat Mega melihat ke arah laki-laki yang ada di belakangnya.


Diambil pisau dan membantu mengiris-ngiris telur dadar yang sudah mateng, "Kalian udah cuci tangan, 'kan?" tanya Mega dengan suara pelan.


"Udah, kok, Ning."


"Bagus kalau gitu!"


"Ning tolong bawakan bumbunya ke sini, dong!" titah santriwati yang tengah berada di dekat kompor.


"Bumbu yang mana?" tanya Mega berdiri dari duduknya tadi dan meletakkan pisau.


"Di meja Ning!"


Mega berjalan ke meja dan mengambil mangkuk berisi bumbu, "Kasih tau kali Ustadz kalau bumbunya di dekat Ustadz!" gerutu Mega dan membawa bumbu ke dekat mereka yang bertugas memasak.


"Sekalian sama kecap dan garemnya, ya, Ning," pintanya kembali setelah mangkuk tadi diberi Mega.


Ia mencebik kesal, bukan ini yang dibayangkan olehnya kehidupan seorang Ning. Melainkan bisa menyuruh bukan malah disuruh.


Semua pekerjaan yang diberikan kepada santriwati pun dilakukan Mega meskipun dengan sesekali menggerutu.


Hingga pekerjaan mereka untuk memasak sarapan pun akhirnya selesai, Mega keluar dari dapur karena yang akan mengangkat sarapannya adalah santri.

__ADS_1


"Ning, ikut sarapan, yuk!" ajak santriwati yang sudah akan kembali ke aula khusus puteri.


"Enggak usah, saya tadi udah sarapan, kok," tolak Mega meskipun ia sebenarnya belum sempat sarapan.


"Ning akan menjaga koperasi saja, sekalian tolong rekapin barang yang habis juga sisa sedikit, ya, Ning," celetuk Ustadz Ridwan yang tiba-tiba ada di antara mereka berdua.


Santriwati tadi akhirnya pamit pergi sedangkan Ustadz tersenyum menatap ke arah Mega, berbanding terbalik dengan Mega yang malah memasang wajah tak senang.


"Ustadz, saya ikut sarapan aja deh kalo gitu," ungkap Mega dengan cengengesan.


"Gak bisa, Ning. Silahkan ke koperasi, tau, 'kan tempatnya?" tanya Ustadz menaikkan sebelah alisnya.


Mega mengangguk dan berjalan meninggalkan Ustadz dengan kaki yang menghentak-hentak bak seorang anak kecil tak diberi mainan.


Tanpa sadar Mega berpapasan dengan Umi yang melihat ke arahnya sedangkan dia hanya berkomat-kamit tak jelas serta fokus menunduk melihat jalanan.


"Bukan pangeran dia mah, aku cabut balik ucapan aku yang ngatain dia pangeran. Dikira aku apaan? Aku belum sarapan ini, kalo aku pingsan kek di film-film nanti gimana?" gerutu Mega dengan suara pelan yang hanya bisa di dengar olehnya saja.


"Eh, Bu Nyai. Assalamualaikum, Bu Nyai," salam Ustadz Ridwan saat tak sengaja bertemu dengan Umi yang sedang berdiri menatap putrinya.


"Waalaikumsalam, kenapa dengan Afifa?"


"Itu, Bu Nyai. Saya suruh dia jaga dan rekap barang di koperasi, tadi juga dia habis bantuin di dapur."


"Bukannya hukuman yang itu sudah saya cabut?"


"Jadi, kenapa sekarang dia malah tidak makan di asrama?"


"Katanya, dia sudah sarapan Bu Nyai."


"Ha? Dia belum sarapan Ustadz Ridwan, tolong bawakan sarapan untuk dia, ya. Saya takut kalau Afifa pingsan karena tidak makan," ungkap Umi khawatir.


"B-baik Bu Nyai," ucap Ustadz Ridwan terbata-bata.


'Aku pikir, dia beneran sudah sarapan. Astagfirullah Ning, untung saja saya ketemu sama Nyai di sini kalau tidak?' batin Ustadz Ridwan sembari menggelengkan kepalanya.


Ustadz Ridwan berjalan ke arah koperasi yang menjual alat-alat tulis di pondok pesantren ini sembari membawa sarapan.


"Ustadz!" panggil salah satu santri saat dirinya akan sampai di koperasi.


"Iya, ada apa?"


"Di depan ada kurir Ustadz, mau ngirim barang untung Ning Afifa," ungkap salah satu santri yang bertugas menjaga pos.


"Dari siapa?"

__ADS_1


"Kurirnya juga gak ngasih tau, katanya yang ngirim gak ngasih tau namanya."


"Baik, ayo kita ke sana!" ajak Ustadz Ridwan dengan sarapan yang dibawanya hingga ke gerbang.


Sudah ada kurir yang menunggu dengan di atas sepeda motornya juga ada beberapa barang.


"Assalamualaikum Ustadz," salam kurir saat melihat Ustadz Ridwan keluar dari gerbang.


"Waalaikumsalam Pak, atas nama siapa, ya, paketnya?"


"Atas nama Afifa Hilya Nafisa Ustadz."


"Baik, mana paketnya Pak?"


"Sebentar, ya, Ustadz," kata kurir sembari mencari paket untuk Afifa.


"Sudah, cuma ini saja, 'kan Pak?" tanya Ustadz memegang satu paket yang berbalut plastik hitam juga buble wrap.


"Belum Ustadz, ada beberapa. Tunggu, ya!" titah kurir membuat kaget Ustadz Ridwan.


Ustadz Ridwan dan santri yang menjaga pos akhirnya saling pandang melihat kurir mencari-cari paket atas nama Afifa.


"Nah, sudah Ustadz!" jelas kurir setelah memberikan lima paket yang cukup besar-besar padanya.


Bahkan, paket tersebut dibantu oleh santri membawanya, "Ini satu orang yang ngirim Pak?"


"Kayaknya tidak Ustadz, soalnya nama tokonya beda-beda."


"Gak ada nama pengirimannya?"


"Ada, kok, tapi lucu-lucu Ustadz. Kayaknya fans dari santriwati itu."


"Dia bukan santriwati Pak."


"Oh, maaf Ustadz. Kalau begitu saya permisi, ya, Ustadz. Masih banyak yang harus saya anter, assalamualaikum!" salam kurir dan pergi dari hadapan Ustadz Ridwan.


"Waalaikumsalam," jawab Ustadz Ridwan melihat kurir hingga menghilang dari hadapannya.


Ia melihat ke arah paket-paket yang di pegangnya juga di pegang santri, ada perasaan yang berbeda mengetahui bahwa Ning memiliki penggemar rahasia seperti ini.


"Tutup kembali gerbangnya dan bantuin Ustadz membawa paket ini ke rumah Bu Nyai," titah Ustadz Ridwan berjalan lebih dulu.


"Siapa nama pengirimnya?" tanya Ustadz Ridwan pada santri yang membawa paket tadi.


"Jodoh kamu, pangeran kayangan, pengagum rahasia baru satu lagi ini nama tokonya Ustadz," jawab santri yang membawa empat paket.

__ADS_1


Ustadz Ridwan berdecih dan memutar bola matanya malas mendengar nama-nama pegirim tersebut.


"Ah, nanti saya buat kayak gini juga deh buat Ning Afifa hehehe," kata santri sambil cengengesan. Wajahnya kembali datar saat melihat wajah tak senang dari Ustadz Ridwan yang menatap ke arahnya dengan horor.


__ADS_2