Menjadi Seorang Ning

Menjadi Seorang Ning
Hampir Saja


__ADS_3

Mega memakai ranselnya dan keluar dari kamar, berjalan ke arah dapur untuk melakukan sarapan.


"Selamat pagi, Abah, Umi, Akbar yang ganteng," ucapku meletakkan tas dan duduk di bangku.


"Lah, buat apa tas?" tanya Umi menatap ke arah tas-ku itu.


"Buat sekolah, Mi."


Tawa mereka langsung terdengar meskipun bukan tawa yang besar, sedangkan Mega menatap ke arah mereka dengan bingung.


"Gak perlu pake tas, Sayang. Kamu bawa aja bukunya pakai tangan ke kelas kamu, ini pondok bukan sekolah umum gitu," tutur Umi dan diangguki oleh Mega.


"Oh ... okey, Mi! Makasih dah ngasih tau."


"Itu, kelamaan di rumah. Jadi, gak tau kalo belajar di pondok gimana," sindir Akbar membuat Mega mengerucutkan bibir.


"Kamu, ya, jadi seorang adik itu gak boleh kayak gitu. Jangan julid banget jadi adik, gak baik. Mau dosa sama Kakaknya?" tanya Mega menunjuk ke arah Akbar.


"Hehe, becanda Mbak."


Mega mengambil nasi serta lauk pauk yang ia rasa akan disukainya, "Umi masak sendiri?" tanya Mega di sela-sela memilih lauk.


"Jadi, siapa lagi?"


"Biasanya, 'kan ada tuh yang masak. Dia ditugaskan untuk masak di rumah pemilik ponpes gitu Mi."


"Gak perlu, Umi masih kuat buat beresin rumah sendiri. Lagian, waktu itu, 'kan kamu selalu di rumah dan gak suka kalau ada orang yang masuk-masuk ke rumah.


Jadi, Umi memutuskan untuk merapikan rumah dan masak sendiri saja. Mereka paling masak di dapur sana."


"Dapur? Di mana Mi? Afifa boleh bantu mereka masak nanti?" tanya Mega dengan semangat membuat mereka bertiga kembali menatap ke arah Mega.


Sedangkan Mega hanya tersenyum dengan mata yang berkedip melihat ke arah masing-masing.


"Kamu yakin mau bantuin mereka?" tanya Umi memastikan.


"Iya, Mi. Kenapa, gak boleh, ya? Yaudah kalau gak boleh, Afifa beresin rumah aja nanti," putus Afifa menatap ke arah makanannya.


"Boleh, siapa yang bilang gak boleh? Kamu boleh bantu mereka, bukannya jadi lebih baik, ya? Kita, 'kan memang dianjurkan untuk saling bantu," jawab Abah membuat senyum kembali melengkung di bibir Mega.

__ADS_1


Selesai sarapan, Abah pergi lebih dulu untuk ke ruangan Ustadz. Sedangkan Mega meletakkan tas kembali dan mengambil buku yang akan dipelajari hari ini.


Ia menyalim Umi yang duduk di bangku tak terlalu empuk layaknya sofa di rumah, Akbar kata Umi ke toilet sebab mules.


Berjalan di koridor pesantren sambil melihat-lihat sekitar, "Eh, iya, aku masih belum tau ini ada di mana. Itu, 'kan ada pamplet pondok. Pasti dituliskan ini ada di kawasan mana dan nama pondoknya apa," gumam Mega berjalan ke arah gerbang pondok yang tertutup.


Dengan buku di pelukannya dan pakaian syar'i yang lengkap, ia berjalan sambil melihat ke kanan dan kiri.


Sudah ada santri/santriwati yang berkeliaran mungkin mau masuk ke kelas masing-masing.


"Ning!" panggil seseorang saat Mega baru saja akan sampai ke pamplet tersebut. Ia langsung membalikan badan melihat sumber suara.


"Iya?" tanya Mega dengan tersenyum anggun.


"Ning, udah baca surat dari saya?" tanya santriwati yang sebenarnya belum ia kenali karena memang santriwati di sini sangat banyak.


"Astagfirullah, belum. Belum ada surat yang saya baca, papar bag-nya masih saya letakkan di meja saya," terang Mega yang memang lupa dengan hadiah dibawakan Abah tadi malam.


"Oh, gak papa, kok, Ning. Ning, mau ke mana bawa buku?" tanyanya menatap ke arah buku yang di peluk Mega.


"Mau ke kelas buat belajar," jawab Mega seadanya.


"Mm ...," gumam Mega yang bingung. Padahal, ia masih ingin melihat pamplet itu. Cuma, pasti santriwati ini bingung ngapain juga Mega harus melihat hal itu.


"Eh, Ning? Ayo!" ajaknya kembali saat tidak mendapati Mega di belakangnya.


"Iya-iya," pasrah Mega yang akhirnya memupuskan keinginannya melihat pamplet itu pagi ini.


Setelah berjalan cukup lama dan jauh sebab lapangan pondok yang luas, "Ini, kelas Ning," tunjuknya pada Mega.


"Kamu di mana?"


"Saya masih kelas 11 aliyah, Ning."


Mega mengangguk paham, "Makasih, ya."


"Sama-sama Ning, kalau gitu saya permisi, ya. Assalamualaikum," salamnya dan pergi dari hadapan Mega.


"Waalaikumsalam," jawab Mega menatap punggungnya yang telah menjauh.

__ADS_1


Mega melangkah masuk ke dalam kelas dengan gugup layaknya anak baru, ya, meskipun memang benar. Jiwa baru bukan anak baru.


"Assalamualaikum," salam Mega dan masuk ke dalam kelas.


"Waalaikumsalam," sahut beberapa orang yang sudah datang ke dalam kelas.


Beberapa mata menatap dengan heran ke arah Mega, 'G*la, apa seenggak kenal ini mereka sama si Afifa? Bener-bener nolep nih orang. Apa ... Abah dan Umi juga gak pernah maksa dia, ya?


Enak banget, kalo dia jadi si Mega, ya. Mana ada tuh, harus banget ikut apa kata si Papa dan Mama.


Oh, iya, hari ini ada pertemuan sama client Papa. Gimana, ya, Afifa? Dia bisa gak jadi Mega? Hahaha, mana bisa dia nolak tuh. Rasian, deh!' batinku tersenyum dan duduk paling belakang.


Karena, biasanya bangku yang kosong memang paling belakang, 'kan? Jarang sekali di depan kosong.


Sekitar pukul 7:40 semua orang akhirnya masuk termasuk Ustadzah yang akan mengajar. Selama Mega duduk tak satu pun menegur dirinya.


Yang ada hanya tatapan aneh dari mereka dan tatapan bertanya-tanya mungkin aku manusia dari mana.


"Ning Afifa?" panggil Ustadzah yang berdiri di samping meja miliknya.


Mendengar ucapan Ustadzah barusan, semua santriwati yang ada di dalam kelas ini langsung melihat ke arahku semua.


Tatapan kaget dan tak percaya yang sekarang menggambarkan ekspresi mereka, "I-iya, Ustadzah?" Mega berdiri dari bangkunya menatap ke arah Ustadzah.


"Owalah, beneran toh? Sini, maju Ning Afifa!" titah Ustadzah padanya.


Mega berjalan melewati meja-meja yang ada dan berdiri di samping Ustadzah yang hari ini tengah mengajar di jam pertama.


"Jadi, buat kalian yang pernah dengar atau beberapa hari lalu melihat dilaksanakannya tahfidzul Qur'an dengan nama Afifa tapi orangnya gak ada.


Itu ... ini orangnya, Ning Afifa. Anak dari Kyai dan Bu Nyai, beliau ini memang jarang sekali keluar dari rumah kecuali ada udzur yang benar-benar," jelas Ustadzah yang Mega malah menatap dengan seksama.


Ia mengangguk dan menggelengkan kepala saat tahu ternyata separah ini nolepnya Afifa.


"Apa kalian gak ada yang kenal sama Ning Afifa? Kalian gak pernah liat beliau? Berarti tadi malam, kalian gak ke aula?"


"Maaf, Ustadzah. Tadi malam cuma kelas 11 aliyah yang disuruh Kyai ke aula, jadi kita tidak ikutan," jawab salah satu dari mereka dengan mengangkat tangan terlebih dahulu.


'Sangat beda banget, kalo di SMK mah yaudah langsung ngomong aja tanpa angkat tangan gitu,' batin Mega kembali menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2