Menjadi Seorang Ning

Menjadi Seorang Ning
Alasan Nolep


__ADS_3

Kembali mimpi yang sama pun terjadi, Mega berada di ruangan hitam yang hanya mendapatkan satu pencahayaan saja.


Tak lama, Afifa pun ada di ruangan ini dengan wajah yang terlihat sedih membuat Mega ikutan menampilkan wajah sedih juga.


"T-tangan lu kenapa?" tanya Mega saat melihat tangan Afifa dibalut oleh perban.


"Kak Dara melukai tanganku."


"Apa?"


"Dia nyakiti aku di kamar mandi saat bertemu dengan orang tua Leon, saat itu aku sangat ketakutan Mega.


Aku takut karena dia membawa pisau dan mengarahkan ke aku, aku sudah berteriak tapi tak satu pun orang dengar.


Dia tak suka padamu, dia benci sebab yang akan dijodohkan sama Leon itu dirimu bukan dirinya. Aku sangat takut Mega," ungkap Afifa dengan air mata yang sudah menetes.


"Gue juga lagi sedih plus marah sama Umi, masa tadi gue dikasih malu ke semua santri yang ada. Gue cuma ngeliat pamplet pondok aja yang ada di dekat gerbang.


Gue mau liat, gue ada di mana. Umi malah ngira gue mau kabur seperti lu yang kabur waktu itu, lagian lu kenapa kabur sih waktu itu?


Gue sampe dimarahi habis-habisan dan Umi gak percaya dengan apa yang gue bilang. Sekarang, gue dapat hukuman 3 hari berturut-turut.


Badan gue aja rasanya mau rontok ini akibat baru pulang dari rapihin tempat acara tadi, kalo ini gak badan lu, ya.


Gue dah kabur dari tuh pesantren, cuma gue takut nama lu jadi jelek di hadapan orang-orang. Jadi, mau gak mau gue harus tetap berperilaku baik," ungkap Mega membuat wajah Afifa tegang.


"Tapi, kamu gak lawan Umi, 'kan?"


"Enggak, kok. Lu santai aja, gue gak ngelawan siapa pun. Terus, yang bawa lu ke rumah sakit siapa?"


"Leon," jawab Afifa malu-malu.


"Leon?" beo Mega mencoba mengingat laki-laki itu, "oh ... si sok paling kaya itu? Tumben dia baik banget, kalo enggak songong banget jadi anak. Eh ... lu kenapa senyum kayak gitu? Lu suka, ya, sama dia?" tebak Mega menunjuk ke arah Afifa.


Afifa yang mendengar ucapan Mega langsung menatap ke arahnya dengan salah tingkah, "Eh, mana ada. Aku gak suka, kok, sama dia."


"Mau suka juga gak papa, ntar gue bilangin deh sama dia pas gue balik ke tuh tubuh. Gue udah rindu banget sama tubuh gue, ya, ampun."


"Terus, yang nemenin kamu merapikan tempat acara tadi siapa? Gak mungkin Umi membiarkan kamu sendirian, 'kan?"

__ADS_1


"Iya, Ustadz Ridwan tadi yang disuruh jagain aku."


"Ustadz Ridwan?" tanya Afifa sembari berpikir sedangkan Mega mengangguk.


"Kayak gak asing, sih, namanya. Tapi, aku gak ingat sama wajah beliau."


"Ya, iyalah orang kerjaan lu di kamar aja. Mangkanya sesekali keluar liat keadaan yang ada!" ketus Mega.


"Hehe, iya, ini 'kan lagi memberanikan diri untuk keluar. Tapi, melalui tubuh kamu dulu."


"Jadi, gimana acara makan-makannya? Hancur, dong?"


"Ya, begitulah. Sekarang aku tinggal sama Mama dan Mama menyewa dua bodyguard untuk menjaga aku."


"Ha? Kenapa kamu terima, ya, ampun!" keluh Mega mengusap wajahnya kasar.


"Ya, gimana lagi? Mama ngancem aku kalau aku gak mau, maka kasus ini akan dibawa ke jalur hukum dan Kak Dara bisa jadi di tangkap polisi dengan kasus percobaan pembunuhan."


"Biarin ajalah, mau ditanggkap hantu juga gak masalah!"


"Gak bisa gitu dong Mega, kesian Mama tiri kamu juga Daranya. Yang ada nanti dia makin dendam sama kamu karena hal ini sampai ke kepolisian."


"Gimana cara dia dendam, 'kan dia ada di kantor polisi. Lagian, itu semua salah dialah. Jahat banget jadi orang! Kamu jangan diam mulu, sesekali kasih pelajaran!" tegas Mega memberi arahan.


"Yaudah, bagus kalau gitu!"


"Iya, kamu juga jangan ngelawan sama Abah dan Umi, ya. Nanti yang ada mereka akan bersikap dingin sama aku. Aku takut."


"Aman, selow aja lu dah."


***


Selesai salat Subuh, Mega melanjutkan aktivitas-nya membaca Al-qur'an serta merapikan kamar.


Ia sudah mandi lebih dulu, pagi mulai datang dan menyinari bumi. Melenyapkan kegelapan yang ada.


Mega keluar dari kamar setelah merasa semua sudah rapi, ia langsung mengambil penyapu dan tak menegur Umi yang ada di dapur tengah masak.


Disapu semua ruangan tak lupa mengelap buku-buku yang ada, serta menyiram bunga di depan rumah.

__ADS_1


"Afifa, ayo, sarapan!" ajak Abah yang berada di ambang pintu.


"Iya, Bah!" jawab Mega menepikan ember juga gayung untuk menyiram tanaman tadi.


Mega duduk di bangku yang ada, ada nasi goreng juga roti di meja. Mega mengambil roti membuat Umi dan Abah menatap ke arahnya.


"Kenapa?" tanya Mega dengan cengengesan.


"Kamu sudah tidak mau makan masakan Umi?" tanya Umi dengan nada dingin membuat Mega meletakkan kembali rotinya.


'Mampus, kebiasaan, sih di rumah makan roti sarapannya,' batin Mega dan langsung beralih mengambil piring serta menyendok nasi.


"Nanti kamu langsung ke dapur untuk membantu orang-orang yang ada di sana, Ustadz Ridwan yang akan mengawasi kamu."


"Uhuk!"


Mega mengambil air yang ada di samping piringnya agar makanan yang tersangkut bisa masuk ke perutnya dengan cepat.


"Kenapa gak santriwati yang lainnya saja, Umi?" tanya Mega memasang wajah memelas.


"Ini sudah keputusan, kalau kamu tidak suka. Silahkan minta sama Ustadzah yang lain hukumanmu, agar mereka beri hukuman lebih berat lagi!" terang Umi menatap nyalang dengan Abah yang menenangkan.


"Afifa salah apa, sih, Umi? Afifa malu, lho, Umi dikatain seperti kemarin malam. Afifa gak tau salah Afifa itu apa.


Afifa cuma melihat pamplet itu salah, ya? Emang seharusnya Afifa itu di rumah aja, gak usah keluar-keluar seperti dulu aja!" protes Mega pergi dari ruang makan dan masuk ke dalam kamar.


Ia menutup kamar lumayan keras dan menguncinya, rasa kesal serta amarah tak bisa dirinya tahan.


Apalagi mengingat bahwa Mega terbiasa meluapkan kekesalannya, Mega duduk di bangku belajar dan membuka laci yang ada.


Dirinya ingin melihat, apakah ada diary milik Afifa di dalamnya. Biasanya, orang yang pendiam dan jarang bercerita akan mencurahkan apa yang dirasa ke dalam sebuah buku.


"Aku harus tau apa sebabnya Afifa dulu nolep, atau benar lagi kataku tadi. Dia nolep sebab Umi yang berlebihan dalam mengawasi dia?" gumam Mega membuka satu per satu laci di meja belajar.


Mega mendapatkan sebuah kotak berwarna hitam di dalam laci, diangkat dan letakkan ke atas meja.


Di dalam kotak tersebut ada buku diary sebanyak 2 buku dan beberapa foto serta barang, "Ini kayaknya pemberian orang-orang buat Afifa, deh," tebak Mega.


Tok! tok! tok!

__ADS_1


Mega menghentikan aktivitasnya karena mendengar ketukan, "Afifa, ini Abah Sayang. Tolong buka pintunya dong!" pinta Abah.


Dirapikan Mega kembali barang yang ada di dalam kotak dan meletakkannya di dalam laci, mengayunkan langkah ke depan pintu untuk membukanya.


__ADS_2