
"Makasih, ya, Kak. Udah mau aku repotin, makasih juga buat segalanya hari ini. Aku gak akan pernah bisa lupain kebaikan Kakak sama aku sampai kapan pun," kata Afifa ketika sampai di halaman rumahnya.
"Apaan, sih? Lu lebay banget! Kayak besok gak akan ketemu lagi aja!"
Afifa hanya cengengesan, "Kalau hari ini terakhir kita ketemu, Kakak mau ngomong apa sama aku?"
Leon menautkan alis menatap Afifa yang masih ada di dalam mobilnya, "Jangan lupa bahagia dan stop jadi orang yang ngalahan."
"Baik Kak, aku akan selalu ingat kata-kata Kakak itu. Makasih sekali lagi, ya. Aku masuk dulu. Assalamualaikum," salam Afifa tersenyum dan keluar dari mobil.
"Dia kenapa, ya? Kenapa ngomong seolah-olah akan pergi? Apa ... dia mau bunuh diri karena si Kakak tirinya itu?" tebak Leon menatap ke arah Afifa yang sudah masuk ke dalam rumah.
Dengan kecepatan penuh, Leon langsung pergi meninggalkan kompleks rumah Afifa. Wanita itu tersenyum-senyum sembari melangkahkan kaki masuk ke dalam.
"Assalamualaikum," salam Afifa masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam, gimana? Seru jalan-jalan sama Leonnya?" tanya Mama menghampiri Afifa.
"Seru banget, Ma! Oh, iya, liat nih Ma," ucap Afifa mengeluarkan boneka dari dalam kantong kresek yang dibawa, "ini dikasih Kak Leon dan ini yang Mega dapetin. Mama tau? Kak Leon dapat banyak habis itu dia kasih ke anak-anak yang ada di situ."
Afifa bercerita dengan penuh semangatnya, Mama tersenyum melihat anak gadisnya dengan bersedekap dada.
"Kamu ... suka, ya, sama Kak Leon?" tebak Mama membuat Afifa tiba-tiba langsung mendatarkan wajahnya.
"Ish, apaan sih Ma? Siapa juga yang suka sama Kak Leon?" gerutu Afifa menautkan alis dan memanyunkan bibirnya.
"Gak usah bohong, Mama juga pernah muda, kok," terang Mama menoel hidung Afifa.
"Dah, ah, Mega mau bersih-bersih deh bentar lagi mau Magrib. Mama gak jelas banget, orang Mega bilang dia baik malah Mama bilang Mega suka sama dia," protes Afifa pergi meninggalkan Mama dan masuk ke kamar.
"Kalau suka bilang aja Sayang, biar kita pepet anaknya langsung buat kamu!" pekik Mama dengan tersenyum.
"Mega gak denger Ma!" sahut Mega membuat Mama semakin tersenyum dengan lebar dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Teruslah bahagia dan seperti ini Sayang, Mama butuh kamu dan Mama ingin menebus kesalahan Mama selama ini," harap Mama beranjak dan mengelap sudut matanya.
Ceklek!
Afifa menutup pintu kamar dan menyandarkan tubuhnya terlebih dahulu, tangannya dibuat memegang degub jantungnya yang seolah habis lari marathon.
"Afifa, kamu kenapa sih? Mega gak suka sama Kak Leon, lho. Bisa bahaya nanti kalau kamu sampai suka dan membuat Kak Leon bisa menebak itu.
Sedangkan sebentar lagi kalian akan berpindah kembali, bisa-bisa mereka kaget apalagi Kak Leon ngeliat Mega yang asli malah aneh sikapnya sama dia," gerutu Afifa menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal.
"Udah, ah! Lebih baik aku bersih-bersih dulu, baru salat habis itu makan malam dan cerita sama Mama buat terakhir kalinya. Semoga setelah ini hubungan Mega dengan Mama akan jadi baik-baik aja.
Aku juga harus telepon Papa dan Mama tiri, agar hubungan keluarga ini jadi benar-benar baik-baik saja ketika aku tinggalkan," sambung Afifa mengangguk dan mengayunkan kakinya menuju kamar mandi.
Begitu sampai di rumah, Leon langsung berlari ke kamarnya. Mama dan Papanya yang melihat hal tersebut tentu saja menjadi bingung.
"Dia kenapa Sayang?"
"Gak tau Mas."
"Dia pasti salat dan mandi juga, kalau aku telepon sekarang ganggu dia pastinya. Udah, deh. Aku telpon pas selesai Isya aja," putus Leon pergi ke luar kamar agar tak kepikiran dengan Afifa mulu.
"Sayang, kamu kenapa lari-lari tadi masuk ke kamarnya? Mana gak sempat sapa Mama dan Papa juga," komentar Mama Leon saat melihat anaknya keluar dari kamar.
"Eh, itu Ma tadi anu ... Leon udah kebelet jadi gak sempat sapa Mama dan Papa deh," gelagap Leon.
"Bener?"
"Iya dong Ma, masa Leon bohong."
"Yaudah kalau gitu, ayo, kita makan malam dulu!" ajak Mama bangkit dari tempat duduk berjalan mendekat ke arah Leon.
Leon langsung mengangguk dan berjalan bersama dengan Mama ke ruang makan secara bersamaan.
__ADS_1
"Assalamualaikum warahmatullah," salam Afifa selesai mengerjakan kewajiban tiga rakaatnya.
Tangannya langsung menadah dan meminta berbagai hal hingga tanpa sadar air mata mengalir di pipinya.
"Sayang, ayo kita maka--" Mama Afifa terdiam saat melihat anaknya masih khusyuk dalam berdoa.
Ia berjalan masuk ke dalam kamar dan mendekati anaknya yang sedang berdoa. Tersenyum dengan bahagia melihat banyak perubahan yang ada pada diri Afifa.
"Semoga doanya terkabul, ya," ucap Mama ketika Afifa mengusap telapak tangannya ke wajah membuat Afifa kaget.
"Eh, Mama!"
"Kenapa Sayang? Ada apa? Sampai ceritanya sama Allah nangis, gini?" Mama duduk di karpet yang ada dan menatap putrinya sambil mengusap wajah Afifa bekas air mata.
Afifa menggeleng lalu tersenyum, "Mega hanya bahagia Ma, bahagia karena punya Mama yang hebat seperti Mama ini," ucap Afifa mengambil tangan Mama dan menggenggamnya.
"Ma ... seumur hidup akan terasa amat lama juga menyiksa jika bersama dengan orang yang tak menghargai dan mencintai kita Ma.
Mega gak tau apa alasan Mama memilih Papa tiri saat ini. Namun, ada baiknya jika tak ada kebahagian yang Mama terima maka lepaskan.
Akan ada banyak hal yang datang ke hidup Mama dan membuat Mama serta Mega juga akan bahagia nantinya.
Jangan, bersama seseorang hanya karena hartanya. Sebab, harta bersifat sementara untuk apa bersama dengan harta jika tak ada kebahagian serta kenyamanan bersamanya?
Cari ... seseorang yang menyayangi dan mencintai serta menerima Mama apa adanya Ma. Pasti akan ada orang yang seperti itu, Mega yakin!"
Bulir bening Mama keluar dari bola matanya yang indah mendengar ucapan putrinya, tangan Afifa terulur untuk melakukan hal yang sempat dilakukan oleh Mama tadi.
"Bahagia Ma, bersama dengan orang yang benar-benar ingin menemani bahagia dan saat duka, ya," sambung Afifa menggenggam kuat tangan Mama memberi semangat.
Mama langsung memeluk Afifa membawa anak tersebut ke dalam dekapannya, Afifa mengusap punggung Mama yang bergetar hebat bahkan suara isakannya terdengar di telinga Afifa membuat sakit hatinya.
Dilepas Mama pelukan dan menangkup wajah Afifa, "Iya, Sayang iya. Mama akan kejar bahagia Mama dan melepaskan seseorang yang tak pantas untuk Mama pertahankan," kata Mama mengangguk.
__ADS_1
"Mama gak sendiri, akan ada Mega yang nemenin Mama di mana pun dan kapan pun serta dalam keadaan bagaiman pun. Jadi, jangan pernah merasa sendiri, ya!"
"Iya, Sayang. Makasih, ya!" Mama kembali memeluk Afifa membuat wanita itu memejamkan mata membuat bulir bening yang ditahan akhirnya tumpah juga.