Menjadi Seorang Ning

Menjadi Seorang Ning
Hutang


__ADS_3

"Lah, kita mau ngapain Kak? Kok malah berhenti?" tanya Afifa melihat ke tempat yang membuat mereka berhenti.


"Makan dulu, gue laper. Lu pulang sekolah lama banget," keluh Leon dan turun lebih dulu.


Afifa meletakkan tas tetap di dalam mobil dan ikut turun dari mobil berjalan masuk ke dalam restoran.


Di dalam restoran, Leon langsung mencari tempat duduk untuk mereka. Dipanggil pelayan untuk memesan makanan.


Afifa menatap model restoran yang bisa dibilang cukup mewah ini, "Kenapa?" celetuk Leon dengan nada dingin.


"Gak papa Kak," jawab Afifa menggelengkan kepala.


Setelah menunggu lebih kurang dua puluh menit, makanan yang mereka pesan akhirnya sampai juga.


Leon langsung makan begitu saja sebab sudah sangat lapar sedangkan Afifa mengadahkan tangan untuk berdoa lebih dulu baru meneguk air putih lalu makan. Leon yang melihat hal tersebut merasa tak enak.


"Wah ... wah ... wah, ada yang lagi seneng-seneng, nih!" celetuk seseorang yang berdiri di meja mereka berdua.


Afifa yang tengah mengunyah makanan di dalam mulutnya langsung menatap ke arah sumber suara, "Kak Dara," gumamnya dan berdiri di hadapannya.


"Kak, sama siapa di sini?"


"Gak usah sok asyik, deh, lu! Jangan panggil gue Kakak!" tekan Dara menatap nyalang ke arahnya.


"Duduk balik!" titah Leon yang masih sibuk dengan makanannya.


Afifa dan Dara langsung melihat ke arahnya, ia menatap kedua wanita itu, "Duduk balik!" tegasnya kembali mengulang kalimat.


Dengan terpaksa, Afifa duduk di bangkunya tadi dengan perasaan tak enak.


"Kalau lu gak ada urusan sama kita, mending pergi!" usir Leon.


"Ha? Kamu ngusir aku?"


"Gue rasa kuping lu gak budeg, jadi gak usah nanya hal yang sudah lu denger dengan jelas!"


Dara menggerutu dan menatap dengan sebal, "Ingat, ya, gue akan beri lu pelajaran!" terang Dara menunjuk ke arah Afifa.


Sedangkan wanita itu hanya menatap kepergian sang kakak tirinya, Leon menghela napas melirik ke sekeliling yang cukup ramai pengunjung.


"Maafin Kak Dara, ya, Kak. Dia buat Kaka malu," ucap Afifa merasa tak enak.


"Gak papa, bukan salah lu lagian itu semua," jawab Leon dan diangguki oleh Afifa, "tapi, lu harus hati-hati sama dia. Jangan lu kira dia adalah saudara, dia itu bukan saudara lu! Dia itu musuh, jangan sampai lengah lu sama sikap dia nanti yang pura-pura baik!"

__ADS_1


"Iya, Kak. Makasih buat sarannya," ungkap Afifa yang merasa sedikit diperhatikan oleh Leon meskipun sikapnya masih saja datar dan dingin.


"Gue lakuin ini bukan gratis, ada sesuatu yang harus lu bayar ke gue tentunya."


"Ha? Maksud Kakak?"


"Lu akan tau nanti, intinya apa yang gue lakukan ini gak gratis! Lu harus bayar apa yang gue lakukan suatu hari nanti."


"T-tapi, gak macem-macem bayarnya, 'kan Kak?"


"Gue juga gak selera sama cewek kayak lu! Gak usah berpikir yang jelek-jelek deh lu," hina Leon membuat Afifa memajukan bibirnya.


"Gak bisa apa kalo ngomong tuh yang lembut dikit? Ngomong yang keluar kata-kata sadis semua! Pantesan aja jomlo," gumam Afifa.


"Apa lu bilang?" tanya Leon samar-samar mendengar ucapan Afifa.


"Ha? Apa Kak? Aku gak ngomong apa-apa, kok," kilah Afifa cepat.


Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah Mama Afifa, di tengah perjalanan mereka harus berhenti sebab ada lampu merah.


Leon melihat ke arah samping, ada seorang anak yang menjual bunga mawar merah. Ia turunkan kaca mobil, "Dek, sini!" titahnya memanggil anak itu.


Afifa yang tadinya tengah fokus ke PR yang ada melihat ke arah sampingnya, di mana Leon telah membeli beberapa bunga mawar dari anak tadi.


"Makasih, ya, Kak," ucap anak itu dengan wajah yang gembira.


"Nih, buat lu." Bunga yang dibeli tadi langsung diberikan Leon ke atas pangkuan Afifa.


"B-buat aku Kak?" tanya Afifa terbata-bata.


"Hmm." Mobil kembali jalan karena lampu telah berubah menjadi hijau, di pegang Afifa semua bunganya dan di cium harum wanginya.


Afifa tersenyum melihat bunga juga melirik ke arah Leon, "Makasih, ya, Kak untuk bunganya," ucap Afifa yang sudah turun dari mobil.


"Iya, sama-sama. Dah, masuk deh lu. Tuh, bodyguard lu udah mendekat," ungkap Leon melihat bodyguard mendatangi mobilnya yang berhenti di depan pagar rumah Mama Afifa.


"Hehe, iya, Kak. Kalau gitu, aku masuk duluan, ya. Assalamualaikum," salam Afifa dan pergi masuk ke dalam rumah.


Bodyguard tadi membantu Afifa membawakan barang-barangnya masuk ke dalam rumah, begitu ia masuk kembali gerbang yang menjulang tinggi di tutup.


"Pak, Mama udah pulang?" tanya Afifa menatap ke arah bodyguard.


"Belum Non."

__ADS_1


"Kalau Papa?"


"Belum juga."


'Selama aku tinggal di sini, kok aku belum pernah liat Papa tiri Mega, ya? Apa ... dia tinggal di luar negri kali, ya?' batin Afifa bertanya-tanya.


Ya ... meskipun bagus, sih, kalau tidak ada Papa tiri di rumah itu. Jadi, Afifa tak perlu sungkan berkeliaran di rumah.


Namun, tetap saja dirinya juga ingin melihat secara langsung bagaimana wajah Papa tirinya itu. Bukan hanya melihat dari foto atau lukisan saja.


Direbahkan Afifa tubuhnya dan melihat lurus ke depan, bibirnya melengkung kala mengingat bagaimana perlakuan Leon tadi padanya.


Ia segera duduk kala merasa bahwa ada hal yang aneh muncul dari lubuk hatinya, "Gak-gak-gak, lu gak boleh suka sama dia Afifa. Ingat, ini dunia Mega bukan dunia kamu.


Kalau kamu suka? Sama aja kamu nyakiti diri sendiri, karena bagaimana pun kamu sama dia gak akan pernah bersatu!"


Afifa melihat ke arah bunga yang diberikan oleh Leon tadi, dibuka plastik yang membungkus bunga tersebut.


Dimasukkan Afifa ke dalam vas yang memang ada di kamar sebagai hiasan dan dikeluarkan bunga sebelumnya.


"Cantik," kata Afifa kembali tersenyum merasa semburat merah timbul di pipinya. Ia bergegas ke kamar mandi untuk menutupi bahagianya dan mengganti pakaian sekolah.


Tok! tok! tok!


Ceklek.


"Ada apa Bik?" tanya Afifa menatap ke arah Bibik dengan senyuman.


"Makan siang Non."


"Eh, saya udah makan tadi Bik. Nanti aja saya makan deh, agak sorean mana tau laper. Soalnya lagi mau ngerjain tugas juga."


"Oh, baiklah Non."


Afifa mengangguk dan kembali menutup pintu kala Bibik sudah pergi dari hadapanya, ia duduk di bangku belajarnya untuk mengerjakan tugas yang ada.


"Bik, Mega udah pulang?" tanya Mama ketika baru saja pulang dari kerjaan.


"Sudah Nyonya."


"Gak makan siang?"


"Katanya sudah makan di luar."

__ADS_1


"Oh, yaudah. Makasih, ya, Bik."


Mama Afifa berjalan ke kamar Afifa, ia membuka pintu kamar anaknya membuat Afifa yang tengah fokus belajar menatap ke arah pintu sebab mendengar dibuka.


__ADS_2