Menjadi Seorang Ning

Menjadi Seorang Ning
Kasih Minum


__ADS_3

Mama keluar dari ruangan dan berbicara dengan Papa yang masih ada di luar, suara perdebatan mereka terdengar hingga ke dalam ruangan Afifa.


Air mata mengalih tanpa dipinta, hatinya tercabik-cabik kala mendengar makian saling mereka layangkan.


Tak terbayangkan bagaimana Mega bisa tahan bertahun-tahun dengan suasana seperti ini, hati Afifa ikut hancur merasakannya.


Bayangan mereka sudah tak terlihat lagi dari balik pintu, seseorang dengan pakaian serba hitam dua orang masuk ke dalam ruangan.


"Tenang, Non. Kami adalah bodyguard Nona," terangnya menjelaskan dan berdiri di dekat pintu sambil menghadap ke arah Afifa.


"Mama sama Papa di mana?"


"Mereka sudah pergi Non."


Afifa memakan buah-buahan yang dibukakan oleh bodyguard sambil menonton televisi, ia melirik ke arah bodyguard dan merasa risih dengan tatapan mereka.


"Om berdua bisa gak, sih, jangan liatin saya? Duduk aja juga, gak perlu liatin saya kayak gitu!" tegur Afifa.


Mereka mengangguk lalu memilih duduk di sofa yang ada di ruangan ini, "Lah, itu ngapain matanya tetap liat saya?"


"Emang kerjaan kami jaga Non."


"Jaga bukan liatin, kalian buat saya risih tau!"


Tak lama, beberapa orang masuk ke ruangan Afifa dengan ributnya. Bodyguard langsung pasang badan dengan menahan mereka semua untuk masuk.


"Ih, apaan, sih? Kita mau ketemu sama Mega! Itu temen kita yang lagi sakit, tau!"


"Heh! Mega sakit bukan meninggal, ngapain baju kalian hitam pada?"


"Om, ini termasuk pelecehan lho. Om pegang kita tanpa izin!"


"Kalian tidak boleh masuk ke ruangan Non Mega."


"Kita temen dia, ih!"


"Om ... mereka itu teman aku! Biarin masuk!" teriak Afifa berusaha untuk duduk.


Kedua bodyguard melihat ke arah belakang, "Beneran mereka teman Nona?" tanya salah satu diantara mereka.


"Iya, itu temen aku. Biarin mereka masuk!" titah Afifa.


Kedua orang yang menghalangi; Wendi, Kanaya juga Megi masuk pun akhirnya membiarkan ketiga orang itu.


Saat akan mendekat ke arah Afifa, mereka mengumpat kedua orang itu habis-habisan meskipun dengan nada yang begitu pelan.

__ADS_1


"Lu kenapa woy?"


"Sakit, kagak?"


"Siapa yang buat, sih?"


"Kalian tau dari siapa?" tanya Afifa yang tak menjawab satu pun pertanyaan mereka.


"Tadi kita ke rumah lu, eh, Bibi malah sibuk beres-beres barang lu. Katanya lu ada di rumah sakit dan dia nyiapin barang udah kayak mau pindahan."


Wajah Afifa langsung murung mendengar kalimat Kanaya, "Lah-lah, lu kenapa?" tanya Wendi.


"Aku emang mau pindah, pindah ke rumah Mama."


"Ha?" Serempak mereka dengan nada yang cukup tinggi mendengar ucapan Afifa tadi.


"Ehem!" dehem salah satu bodyguard membuat mereka bertiga menampilkan cengengesan.


Mereka akhirnya mendekat ke arah Afifa agar tak bisa di dengar oleh bodyguard pembicaraannya.


"Kalo lu tinggal sama Mama lu, pasti kita gak akan dikasih main sama lu dong."


"Bener, ini aja lu-nya udah dijagain kek anak artis aja."


Afifa hanya bisa mengangguk dengan wajah lesu, ia pun akan merasa sangat bosen pastinya di sana meskipun dirinya belum pernah datang ke rumah Mamanya Mega.


"Kenapa bisa gini, sih?" tanya Megi meminta penjelasan.


Dijelaskan Afifa apa yang terjadi hingga mereka semua mengangguk dan menampilkan wajah datar serta iba pada jalan hidup Afifa.


"Ya, wajar sih kalo Mama lu lakuin ini. Gue juga kalo jadi Mama lu pasti langsung bawa lu, jangankan ke rumahnya.


Gue bawa lu langsung ke luar negri agar aman dari wanita benalu itu. Gue setuju sama Mama lu!" ujar Megi yang satu pikiran dengan Mama.


"Gak bisa gitu, dong. Lu tau, 'kan gimana Mamanya si Mega? Beuh ... anaknya makan di kantin aja kagak dibolehin.


Padahal, belum tentu makanan di kantin itu gak higienis. Mana, Mega juga dulu sempat kabur dari rumah Mamanya gara-gara gak tahan sama peraturan yang ada di rumah itu," timpal Wendi pihak kontra.


"Bener, sih. Mega jadi gak bebas gara-gara peraturan konyol yang selalu dibuat Mamanya, bahkan Mamanya udah gak suka sama kita dari zaman batu dulu.


Tambah gak suka waktu kita buat Mega pingsan, untung aja nih anak sadar. Kalo lewat? Beuh ... pada jadi tahanan semua nih kita bertiga."


"Nah, bener banget!" celetuk Wendi yang menunjuk ke arah Kanaya.


Mereka bertiga hanya menghela napas dengan wajah murung, Afifa juga tak tahu harus berkata apa lagi.

__ADS_1


Dirinya sendiri pun bingung dengan nasibnya ke depan, 'Seminggu di kehidupan Mega, ternyata rasa setahun. Hari lama banget rasanya berjalan, ya, Allah,' batin Afifa merasa sudah tidak nyaman lagi dengan kehidupannya sekarang.


'Aku harus banyak-banyak bersyukur karena dilahirkan di tengah-tengah keluarga harmonis juga paham agama.


Aku selalu saja ingin merasakan dunia luar dan enggan untuk bersosialisasi sebab takut bahwa akan ada teman yang jahat.


Atau ... aku selalu menganggap bahwa sendiri jauh lebih nyaman dibanding dengan teman-teman.


Tapi, teman Mega membuat aku sadar bahwa tidak semua teman itu sama. Ada juga yang memang menyayangi kita dengan tulusnya.


Jika aku kembali ke duniaku semula, aku akan mulai semuanya dari nol, ya, Allah. Sejujurnya hamba udah gak kuat,' batin Afifa menatap lurus ke depan dengan kosong.


"Mega!"


"Woy, Mega!


Suara Kanaya dan Megi menyadarkan Afifa dari lamunannya, "Eh, astagfirullah. Hmm ... ada apa?" tanya Afifa menatap ke arah mereka satu per satu.


"Kita mau pulang deh, kamu cepat sembuh, ya. Biar bisa main lagi di sekolah, kalau Mama kamu nyuruh kamu pindah. Jangan mau, ya. Lawan Mega kayak kamu dulu lawan Mama kamu," bujuk Wendi yang setengah berbisik.


Plak!


Wendi mengaduh kesakitan kala bahunya dipukul oleh Kanaya dengan keras, "Enak aja ngajarin anak orang sesat, lu tau, 'kan bahwa surga itu ada di kaki Ibu? Ngapain lu ngajarin dia yang kagak-kagak?"


"Ya ... emangnya lu mau pisah dari Mega, ha?" tanya Wendi dengan sinis sambil mengusap bahunya.


"Ya ... gak mau, sih, tapi bukan itu juga caranya dong!" ujar Kanaya tak setuju.


"Udahlah, intinya lu cepat sehat dan jangan lama-lama di sini. Kita pulang dulu, ya!" pamit Wendi.


"Iya, terima kasih kalian udah sempat-sempatnya datang, lho."


"Yo, harus dong! Lu, 'kan sahabat kita. Masa, kita gak datang pas tau sahabat kita sakit, sih?" timpal Megi.


Megi lebih dulu memeluk tubuh Mega sebagai pamitan di susul oleh Kanaya, Wendi berjalan ingin memeluk Mega juga.


"Eh, apaan lu?" tanya Kanaya mendorong tubuh Wendi sedangkan Afifa refleks menjauh dari Wendi.


"Haha, gue juga pelukan dong sama sahabat gue," ucap Wendi dengan tertawa.


"Ehem!" dehem salah satu bodyguard Afifa dengan begitu keras membuat mereka kembali menatap ke arah belakang.


"Mega, lu, 'kan kaya, nih ya. Kasih tuh bodyguard minum, seret amat batang lehernya. Daritadi ehem-ehem mulu!" saran Wendi dengan sewot sambil berjalan ke luar ruangan terlebih dahulu.


Mega, Megi dan Kanaya hanya tertawa me dengar ocehan Wendi. Mereka akhirnya pamit pulang dan pergi dari ruangan.

__ADS_1


__ADS_2