Menjadi Seorang Ning

Menjadi Seorang Ning
Penggemar Rahasia


__ADS_3

"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabatokatuh," salam Ustadz Ridwan di depan rumah Mega yang terbuka.


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarokatuh," sahut Umi dari dalam sambil berjalan ke depan.


"Ada apa Ustadz Ridwan?" tanya Umi berdiri di ambang pintu.


"Ini Nyai, ada paket untuk Ning Afifa dari orang-orang," jelas Ustadz Ridwan menyerahkan paket yang ada.


"Maa Syaa Allah, sebanyak ini? Emangnya Afifa punya kenalan orang luar?"


"Saya kurang tau Nyai, tapi mungkin itu anak-anak pondok yang ngirim buat Ning Afifa. Mereka beli online waktu diberi pakai handphone," ungkap Ustadz Ridwan yang diangguki oleh Umi.


Umi mengambil semua paket yang ada, "Lah, makanan Ning belum Ustadz kasih?" tanya Umi menatap ke rantang yang masih ada di tangan Ustadz Ridwan.


"Eh, iya, ini Nyai belum sempat. Kalau gitu saya permisi mau mengantarkannya, ya."


"Yasudah, biar Nyai aja kalau gitu."


"Gak perlu Nyai, biar saya saja. Ini amanah yang seharusnya saya laksanakan," tolak Ustadz Ridwan dan pamit untuk mengantarkan sarapan.


Di perjalanan menuju koperasi, ia melihat ke arah Mega yang tengah menulis dengan kemoceng berada di sampingnya.


"Sejak kapan kemoceng juga dijual?" tanya Ustadz Ridwan membuat Mega kaget.


"Astagfirullah Ustadz, salam dulu kek. Ini langsung ngomong kayak gitu, buat saya kaget aja," gerutu Mega dan menatap ke arah Ustadz Ridwan.


"Kamu yang terlalu fokus sampai tidak melihat bahwa ada orang lain di sini."


"Harus fokus, dong, Ustadz. Soalnya ini rekap barang, takut kalau salah yang habis dengan uang yang ada. Bisa-bisa ada masalah lagi nanti."


"Hmm ... baiklah, ini makan dulu. Kamu bilang sudah makan, ternyata kata Nyai Ning belum makan sama sekali.


Untung saja saya cuma disuruh mengawasi Ning, bukan pemberi hukuman. Kalau tidak? Saya sudah memberikan hukuman sebab berbohong."


"Hehe, makasih Ustadz Ridwan. Tadi, saya juga mau sarapan di aula sama yang lain atau pulang biar bisa makan masakan Umi.


Tapi, Ustadz sudah menyuruh saya buat ke koperasi dan beberes di sini."

__ADS_1


"Hmm ... karena Ning berbohong dengan mengatakan sudah sarapan. Kalau Ning bilang belum sarapan, saya juga tidak akan menyuruh Ning untuk ke koperasi."


Mega hanya diam dan mangut-mangut sambil memakan nasi goreng milik Umi, ia tahu dari warnanya yang sedikit kelihatan cabainya.


Sedangkan yang mereka masak tadi lebih ke manis saja sebab hanya diberi kecap manis.


"Ustadz mau liat catatannya," ujar Ustadz Ridwan menadahkan tangan.


Mega memberikan buku yang dicatatnya tadi ke tangan Ustadz Ridwan, ia melahap sarapannya dengan sangat bersemangat.


Hingga, belum selesai Ustadz Ridwan membaca hasil rekapan. Sarapannya sudah lebih dulu kandas.


"Bagus, rekapannya rapi," puji Ustadz Ridwan dan diangguki oleh Mega.


"Yang menjaga koperasinya belum datang?" tanya Ustadz Ridwan mendapatkan gelengan dari Mega.


Hanya helaan napas yang diberikan Ustadz Ridwan, ia mengedarkan pandangan dengan berdiri di depan koperasi sedangkan Mega berada di dalamnya.


"Oh, iya, boleh Ustadz bertanya sesuatu?" tanya Ustadz Ridwan melirik ke arah Mega yang tengah merapikan barang dalam steling.


"Boleh, apa Ustadz?"


Mega terdiam dan mengingat-ingat, "Sejauh ini, saya gak liat di kamar ada handphone, sih, Ustadz," jawab Mega polos membuat Ustadz Ridwan yang mendapatkan jawaban ambigu seperti itu menjadi bingung.


"Sejauh ini?" beo Ustadz Ridwan mengulang ucapan Mega.


"Hehe, gak ada handphone Ustadz. Abah dan Umi gak ngasih izin saya buat pakai handphone, emangnya ada apa Ustadz?" tanya Mega menautkan alis.


"Ada paket tadi dari kurir buat kamu, saya kira kamu beli barang online," jawab Ustadz Ridwan yang mendapatkan gelengan dari Mega dengan wajah penuh kebingungan.


'Apa Afifa ngirim barang ke aku, ya?' batinnya yang ingat bahwa Afifa di sana pasti bebas memakai handphone.


Tapi, pasti dirinya akan kesulitan untuk bermain handphone apalagi sampai belanja online semacam itu.


Tak lama, santriwati yang menjaga pun datang kembali. Mega berjalan ke arah rumah untuk mengambil buku pelajaran pagi ini.


"Assalamualaikum Umi," salam Mega masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, Sayang," jawab Umi dan memeluk Mega dengan erat.


Mega yang mendapatkan pelukan secara tiba-tiba hanya bisa terdiam dan membalas pelukan secara perlahan.


"Lah, Umi kenapa?" tanya Mega melepas pelukan dan menatap ke arah Umi yang terdengar sedang terisak.


"Maafin Umi, ya. Umi udah kejam banget sama kamu, maafin Umi kalau berlebihan dalam mendidik kamu. Tapi, percayalah bahwa itu semua Umi lakukan buat kamu Sayang. Bukan buat yang lain."


Umi menangkup wajah Mega dengan air mata yang mengaliri pipinya, Mega tersenyum dan mengusap pipi Umi menghilangkan jejak air mata.


"Umi ... Afifa gak marah sama Umi, kok. Tapi, cuma kesel dikit doang, kok. Lagian, gak masalah juga.


Setidaknya, Afifa bisa jadi lebih bersosialisasi sama semua orang di sini juga. Bisa bantu-bantu mereka hehehe."


"Maafin Umi, ya. Tapi, hukuman kamu gak bisa ditarik, Sayang," ucap Umi menghapus air matanya.


Mega menggelengkan kepala pelan dengan senyuman yang tertimpil di wajahnya, "Gak masalah Umi, gak papa kok. Afifa seneng, lho, beneran! Afifa bisa bantuin mereka, kerja bareng mereka. Jadi, Umi tenang aja.


Oh, iya, Afifa pulang mau ngambil buku, ya, Umi. Baru selesai beresin koperasinya soalnya tadi."


Umi mengulum senyum dan mengangguk, "Iya, kamu ambil buku deh. Itu ... tadi Ustadz Ridwan bawakan paket kamu banyak banget. Dari siapa, sih? Umi masukkan ke kamar kamu tadi," ungkap Umi membuat rasa penasaran Mega semakin memuncak.


Dirinya berjalan ke arah kamar dan membuka pintunya, paket dengan plastik hitam di atas kasur miliknya.


"Gak tau juga, sih, Umi dari siapa. Nanti, deh, kita buka bareng-bareng, ya. Sekarang Afifa mau sekolah dulu," ucap Mega dengan memeluk buku yang sudah diambilnya dari meja belajar.


Dikecup tangan Umi dengan takzim lalu pergi berjalan ke arah kelas, senandung kecil keluar dari bibir Mega.


Tok! tok! tok!


"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh Ustadzah, maafkan saya yang telat soalnya habis menyelesaikan hukuman terlebih dahulu," salam Mega membuat Ustadzah yang tengah mengajar menatap ke arah pintu di mana ia berada.


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarokatuh, iya, silahkan masuk Ning. Nyai dan Ustadz Ridwan sudah memberi tau. Nanti, kamu tinggal minta catatan sama temen lainnya saja.


Buat kalian, kasih Ning nanti catatan kalian, ya. Soalnya Ning sedang masa di hukum hingga dua hari ke depan lagi," tutur Ustadzah menerangkan ke santriwati yang ada.


"Baik, Ustadzah!" seru serempak semuanya.

__ADS_1


Mega masuk ke dalam ruangan dengan salim terlebih dahulu, lalu berjalan ke arah mejanya berada. Dirinya langsung mencatat apa yang ada di papan tulis dengan serius.


__ADS_2