Menjadi Seorang Ning

Menjadi Seorang Ning
Bahagia Saat Melihatmu Bahagia


__ADS_3

Selesai dari bioskop, mereka melanjutkan untuk makan terlebih dahulu. Restoran kali ini dipilih oleh Leon sebab dirinya tak bisa makan di sembarang restoran.


Mereka hanya menurut, meskipun ketiga teman Afifa tadi sempat mencibir laki-laki yang memang sedikit aneh tersebut.


"Wajah Kakak udah gak sakit?" tanya Afifa saat menunggu makanan yang di pesan sampai.


Leon hanya membalas dengan anggukan saja sebagai pertanda bahwa sakitnya sudah hilang atau mereda.


"Syukur deh," ujar Afifa.


"Eh, Mega. Menurut lu seru atau enggak filmnya tadi?" potong Megi menatap ke arahnya.


"Seru, aku suka kok."


"Tumben lu bilang suka pilihan film gue, biasanya aja pasti lu caci maki deh sebab gak sesuai sama selera lu yang action itu," gerutu Megi memanyunkan bibirnya.


"Ya, tadi, 'kan ada juga actionnya," timpal Wendi.


"Oh, iya juga."


"Kak Leon, di kuliah lu banyak cowok cakepnya, gak?" tanya Kanaya membuat Leon menatap ke arahnya.


"Banyak."


"Paling jelek kayak siapa?"


"Dia," tunjuk Leon ke arah Wendi yang membuat Kanaya serta Megi tertawa sedangkan Afifa hanya menggelengkan kepala.


"Gue gak jelek, 'kan Mega?" tanya Wendi meminta pembelaan sebab melihat bahwa hanya Afifa yang tak tertawa.


"Enggak, kok. Suatu hari juga akan ganteng, tergantung dari perawatan kamu aja. Tapi, ingat jangan sampai sibuk perawat yang diluar saja tapi di dalam; hati dan keimana malah gak dirawat," terang Afifa dengan tersenyum membuat Megi dan Kanaya seketika terdiam mendengar kalimatnya.


"Nah, denger tuh!" ejek Wendi yang senang sebab dibela.


Makanan akhirnya datang, mereka langsung menyantap makanan karena akan melanjutkan perjalanan hari ini ke time zone.


Suara dering handphone Leon berbunyi, ia mengambil handphone dan melihat siapa yang menelponnya.


Afifa menatap ke arah Leon yang seperti kaget atau ketakutan melihat panggilan dari seseorang tak diketahui oleh Afifa itu.


"Mama lu nelpon," katanya dengan wajah sedikit panik.


"Ha?" tanya mereka serempak yang kaget.


"Kita harus ke mana, nih?"

__ADS_1


"Kalau ketauan Mamanya si Mega bisa habis kita."


"Bawah meja, ayo kita ke bawah meja aja!" saran Kanaya dan langsung diangguki mereka semua.


Mereka bertiga langsung ke bawah meja untuk bersembunyi, siapa tahu Mama Afifa ingin melihat siapa saja yang ada di meja tersebut.


Jadi, mereka tak perlu susah-susah untuk menunjuka. Leon mengangkat panggilan berupa video call tersebut dan tersenyum melihat wajah Mama Afifa di sebrang sana.


"Hay, Leon. Maaf, Tante ganggu kalian ya?" tanya Mama Afifa di sebrang sana.


"Oh, enggak kok Tante. Kita juga lagi makan kok ini, iya, 'kan Mega?" tanya Leon dengan membuat Afifa juga terlihat di kamera.


"Halo Ma, Mama lagi di mana? Udah makan apa belum, nih? Jangan lupa makan, ya, kita aja sekarang lagi makan," kata Afifa menunjukan piring miliknya.


Entah tangan siapa naik ke atas meja dan mengambil piring hingga membuat bunyi benturan antar piring pun terjadi.


Hal tersebut membuat Afifa refleks membulatkan mata akibat ulah entah siapa diantara mereka bertiga.


"Itu, suara piring siapa? Ada orang, ya. di situ?" tanya Mama mulai curiga.


"Gak ada siapa-siapa kok Ma, ini tadi Kak Leon mau nambah makanan ke dalam piring dia."


"Coba Mama mau liat meja kalian."


"Gini, Tante. Tante, 'kan bisa liat bahwa kami berdua ini sama-sam kurus. Jadi, Leon sengaja pesankan empat makanan masing-masing di antara kami nanti makan dua porsi.


Agar, ada kekuatan ekstra untuk bermain ke tempat selanjutnya Tante. Kami mau main time zone soalnya.


Lagian, kalau emang temen Mega ada sama kami. Seharusnya piringnya ada lima, 'kan? Tau sendiri temen Mega mana mau ada yang tinggal satu orang.


Satu orang pergi, semua harus pergi. Satu gak pergi, semua gak pergi sangat kompak serta setia kawan mereka itu," jelas Leon terpaksa berbicara begitu panjang.


"Kamu bener, sih. Mereka itu udah kek teletabis aja, gak bisa dipisahkan. Yaudah kalau gitu, Tante pokoknya percaya deh sama kamu.


Jagain anak Tante baik-baik, ya, dan pulang harus dengan keadaan yang sama seperti kamu bawa gak boleh ada lecet sedikit pun!" tekan Mama Afifa memperingati.


"Mama, apaan, sih? Mama kira Kak Leon bodyguard aku?" omel Afifa tak terima Leon diperlakukan seperti itu.


"Siap Tante!" potong Leon dan berhormat dengan meletakkan tangannya ke pelipis.


"Yaudah, bye!"


Klik!


Panggilan dimatikan lebih dulu oleh Mama Afifa, Leon melirik ke arah wanita itu yang menapilkan wajah bersalah.

__ADS_1


Leon letakkan handphone-nya ke atas meja dan mengetuk meja pertanda bahwa sudah selesai video call dengan Mama Afifa.


Satu per satu mereka keluar dari persembunyian dengan susah payah, Wendi keluar dengan piring kosong dan mulut yang mengunyah makanan.


Plak!


Bugh!


Plak!


Wendi dipukuli oleh Megi juga Kanaya akibat ulah cerobohnya tadi.


"Lu bisa gak, sih, sabar dikit aja? Kalo tadi ketauan gimana?"


"Tau, nih! Makanan mulu yang ada di otaknya!"


"Lah, kalian liat setidaknya gue penyelamat! Kalo piringnya tetap ada lima. Mama si Mega bisa-bisa curiga yang ada!" bela Wendi tak ingin disalahkan.


"Tetap aja, Mamanya gak akan liat meja kalo gak denger piringnya tadi bunyi."


"Udah, lebih baik sekarang kita cepetan makannya," potong Afifa dengan wajah datar membuat ketiga temannya akhirnya berhenti saling menyalahkan.


"Lu, sih!" ucap Kanaya sambil memukul Wendi menggunakan sikunya.


Sampai makanan selesai, Afifa hanya mendatarkan wajahnya. Hal itu membuat para teman juga Leon merasa bingung dengan perubahan mood wanita ini.


"Lu kenapa?" tanya Leon menatap wajah Afifa yang menunduk.


"Aku jadi gak enak sama Kak Leon, aku bahagia-bahagia Kak Leon malah tersiksa gara-gara dapat amanah gini dari Mama," ujar Afifa mengeluarkan isi hatinya.


"Ya, ampun. Gue kirain lu kenapa, ternyata mikirin hal itu? Udah, lu tenang aja. Gue juga bahagia kalo lu bahagia, kok," kata Leon keceplosan membuat ia langsung menutup mulut.


Sedangkan teman-teman Afifa yang mendengarnya langsung senyum-senyum sendiri.


"Uhuk-uhuk!"


"Ternyata, pesona anak kemarin sore tetap peringkat atas, ya?"


"Yoi, anak kemarin sore lebih menggoda pastinya."


Berbagai sindiran mereka layangkan untuk Leon sedangkan Afifa perlahan mendongak dan menatap ke arah Leon sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Ehem! Kalau gitu, gue bayar tagihannya dulu. Kalian tunggu di sini!" titah Leon bangkit dari tempat duduk sambil mengambil handphone-nya.


"Aman, Kak. Kami akan di sini, kok. Plus jagain orang yang akan buat lu bahagia hahahah," ejek Kanaya membuat pipi Afifa bersemu akibat ulahnya.

__ADS_1


__ADS_2