
Mega duduk di antara santriwati yang ada di lapangan bersebalahan dengan santri terhalang oleh tirai.
Selepas salat Isya, semua orang disuruh berkumpul untuk mendengarkan arahan dari salah satu Ustadz.
"Baiklah, sekarang kita dengarkan arahan dari Ustadz Ridwan," jelas MC.
Mega langsung menegakkan tubuhnya melihat ke arah panggung di mana ada Ustadz Ridwan di sana dengan gagahnya.
"Ning," panggil seseorang dari belakang. Kusipitkan mata mencoba mengingat siapa dia.
"Saya yang tadi sore nemui Ning di gerbang dan saya juga yang waktu itu nganterin Ning ke kelas," ucapnya yang mengerti dengan mimik wajah Mega.
"Oh, iya, ada apa?" tanya Mega tersenyum.
"Ning dapat hukuman, ya?"
"Gak tau, kayaknya iya," jawab Mega dengan suara yang pelan juga sebab mereka sedang berbisik-bisik.
"Baiklah untuk arahan dan motivasi kali ini, saya persilahkan untuk Ning Afifa Hilya Nafisah ke depan sekarang!" terang Ustadz Ridwan yang ada di depan membuat kepala Mega yang menatap ke belakang awalnya langsung berputar melihat ke depan.
Ia membalikkan badan sebab mendengar namanya di sebut, walau ia belum terlalu hafal dengan nama lengkapnya.
Semua santriwati melihat ke arah Mega, dengan menghela napas dan mencoba tenang. Mega berdiri dan keluar dari tempat duduk santriwati berjalan ke depan.
Diedarkan Mega pandangannya melihat ke arah santri, banyak wajah-wajah kekaguman dari mereka menatap dirinya.
Tak banyak juga yang menjaga pandangan dengan menundukkan kepala, Mega mengambil mic yang diberikan salah satu MC tak dikenalnya.
"Baik, terima kasih Ning sudah bersedia untuk naik ke panggung. Untuk semua yang selalu mendengar nama 'Afifa Hilya Nafisah' tapi tak pernah melihat orangnya.
Ini ... adalah anak dari Kyai dan Bu nyai di sini, beliau telah menyelesaikan hafalan sebanyak 20 juz baru saja dan mendapatkan cuti dari Kyai sebab targetnya melebihi batas.
Ning memang jarang terlihat karena pemalu dan kali ini Ning berani untuk keluar bertemu kita semua bahkan naik ke sini.
Di sini, saya mau memberi tahu bahwa Ning mendapatkan hukuman dari Bu Nyai atas kesalahan yang telah diperbuatnya pada Bu Nyai.
Bu Nyai menyuruh saya agar memberi hukuman dengan ikut serta membantu kita mulai besok hingga 3 hari kedepan!" ungkap Ustadz Ridwan membuat Mega kaget dan menahan malu.
__ADS_1
Mega melihat ke arah di mana ada berbagai ustadz dan tak lupa ada Abah serta Umi di situ. Saat dirinya melihat ke arah Umi, Umi langsung membuang pandangan ke arah lain.
Rasa amarah di dalam diri Mega memuncak kala dipermalukan seperti ini, bahkan beberapa dari mereka yang ada di hadapan Mega menahan senyumnya atau bahkan menahan tawa.
Ingin sekali Mega pergi sebagai mana ia pergi ketika dimarahi oleh Mama dan Papanya. Namun, tak mungkin hal itu dilakukannya.
"Jadi, bagaimana Ning? Sudah siap untuk menghadapi hukuman?" tanya Ustadz Ridwan.
Mega menahan gejolak amarah dengan ber-istigfar dan mengangguk serta tersenyum agar lebih tenang.
"Inn Syaa Allah siap, Ustadz. Sebagai mana seharusnya seorang manusia berperilaku, yaitu tidak lari bahkan kabur dari masalanya atau bahkan hukumannya," jelas Mega dengan melirik ke arah Umi berada dengan ekor matanya.
"Apa yang ingin Ning sampaikan pada santri semuanya? Semisal amanah atau lainnya agar mereka tidak melanggar perintah?"
"Sejatinya, tidak ada yang ingin melanggar perintah tanpa adanya udzur Ustadz. Jadi, ada baiknya ketika kalian semua ingin melanggarnya. Maka beritahu dulu kepada Ustadz atau Ustadzah yang ada.
Agar ... kalian bukan di cap melanggar sesuatu karena kesenangan tapi karena adanya udzur syar'i-nya!" tegas Mega menatap satu per satu santri.
Ustadz Ridwan terdiam mendengar ucapan Mega barusan, Mega menatap ke arah Ustadz Ridwan karena tidak melihat tanggapannya.
"Hmm ... baiklah kalau begitu, Ning boleh kembali ke tempatnya!"
Jam 10 malam, akhirnya acara sudah dibubarkan. Saat ia akan bangkit dan pulang ke rumah seseorang berhenti dan memanggil dirinya.
"Afifa!"
"Iya, Umi?" tanya Mega menatap ke arah Umi.
"Rapikan semua ini sendirian!"
"Tapi Umi?"
"Tidak ada bantahan, semuanya kamu yang rapikan sendirian!" tegas Umi dengan wajah datarnya, "kalian semua, kembali ke kamar masing-masing. Biar Ning Afifa yang merapikannya!"
Umi pergi begitu saja setelah mengatakan hal itu, Mega mengepal tanganya kuat dan menahan diri dengan terus ber-istigfar.
Orang-orang yang harusnya merapikan perlak dan tirai yang ada, pergi sambil menatap ke arah Mega dengan iba.
__ADS_1
Mega memutar bola matanya malas dan mulai merapikan perlak yang ada di tengah lapangan mulai sepi akibat sudah larut.
Sesekali ia menguap dan mengucek mata agar tetap terbuka, suara langkah kaki berhenti tepat di sampingnya membuat Mega melihat ke arahnya.
"Ustadz? Ngapain Ustadz di sini?" tanya Mega menatap ke arah Ustadz Ridwan yang berdiri lumayan jauh darinya.
"Nungguin Ning, gak mungkin dibiarin sendirian. Yang ada nanti Ning kabur lagi."
Mega yang mendengar hal itu hanya diam dan menggelengkan kepalanya malas, ia menyelesaikan pekerjaan dengan sesekali bersenandung.
"Daripada Ustadz berdiri di situ, mending masuk aja ke kamar Ustadz. Saya gak akan kabur, kok," usir Mega merasa risih dengan keberadaan Ustadz Ridwan, "orang saya gak tau jalannya." Mega berucap begitu pelan.
"Tak apa, ini perintah dari Bu Nyai. Apakah benar Ning mau kabur tadi sore?"
"Enggak, saya cuma mau liat pamplet doang. Mau liat nama ponpes dan alamat ini."
"Untuk apa Ning? Bukankah tanpa melihat seharusnya Ning sudah tau?" tanya Ustadz Ridwan menautkan alisnya heran.
Mega melihat ke arah wajah Ustadz Ridwan beberapa detik lalu mengalihkan pandangannya kembali.
Tak menjawab apa yang ditanya Ustadz Ridwan, Mega memilih fokus menyiapkan tugasnya. Jam setengah dua belas akhirnya semua telah selesai.
"Makasih, Ustadz udah nemenin meskipun gak ada manfaatnya," sindir Mega mengibas-ngibaskan tangannya.
"Tapi, emang itu tugas dari Bu Nyai."
"Hmm ... kalo gak tugas dari Umi, Ustadz juga males nemenin, ya?"
Anggukkan diterima oleh Mega membuat ia menaikkan sebelah bibirnya menatap jengah ke laki-laki itu.
"Asalamualaikum!" ketus Mega dan berlalu dari hadapannya masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam," jawab Ustadz Ridwan sambil menatap punggung Mega yang masuk ke dalam rumah.
"Kenapa Ning yang sekarang sama yang dulu beda jauh, ya? Bahkan yang dulu, keluar dari rumah saja tidak mau. Yang sekarang bahkan begitu berani berada di hadapan para santri," gumam Ustadz dan berjalan kembali ke kamarnya.
Mega mengunci pintu utama dan langsung masuk ke dalam kamar sebab melihat ruang utama sudah kosong.
__ADS_1
Ia mengunci kamar dan membuka; kerudung, ciput, kaos kaki juga hansock ke sembarang tempat lalu merebahkan tubuhnya ke ranjang.
"Mimpi i'm coming!" seru Mega dan menutup matanya.