Menjadi Seorang Ning

Menjadi Seorang Ning
Muda Kaya Raya


__ADS_3

"Emm ... Mega, maafin kita, ya."


"Iya, maafin kita yang malah marah sama lu. Padahal, lu juga pasti gak mau kalau Mama lu marahin kita."


Wendi, Megi dan Kanaya menghampiri Afifa yang tengah menikmati hembusan angin pantai pada wajahnya.


Dirinya tersenyum dan menepuk-nepuk pasir di sampingnya, "Sini duduk!" titah Afifa. Mereka langsung mengambil posisi duduk.


"Kita itu sahabat, gak perlu minta maaf dan seharusnya emang bener. Kita harus saling mengerti satu dengan yang lain.


Ada yang susah, harus kita bantu jangan cuma temenan pas lagi bahagia doang pas ada duka malah enggak.


Lagian, kalian, 'kan tau Mama aku seperti itu bukan karena gak suka sama kalian atau benci sama kalian.


Tapi, karena yang dibilang Kak Leon tadi. Mama gak punya siapa-siapa selain aku, kalau aku kenapa-kenapa entah bagaimana kehidupan Mama nanti."


"Iya, kita tau kalo kita salah. Terlalu egois dan maunya menang sendiri."


"Udah-udah, gak papa kok."


"Hiks ... maafin kita, ya," rengek Kanaya dan memeluk Afifa diikuti oleh Megi.


"Heh, lu mau ngapain?" celetuk Leon melihat Wendi yang sudah merentangkan tangan.


"Ikut pelukanlah Kak, ini, 'kan geng gue."


"Enak aja! Gada-gada, lu tuh cowok jangan kek cewek!"


Mereka bertiga hanya tertawa melihat Wendi yang dimarahi oleh Leon.


"Kita main air, yuk!" ajak Kanaya.


"Gak-gak, aku gak mau ikut, ih," tolak Afifa langsung menggelengkan kepala.


"Mana enak kalau ke pantai gak main air," ujar Kanaya langsung menatap Megi, "Meg!" Kode Kanaya kepada Megi.


"Aaaa ... aku gak mau!" pekik Afifa kala dipaksa oleh Megi dan Kanaya.


"Yeee!" seru mereka serempak kala membuat Afifa sampai basah.


Mereka akhirnya bermain air bersama dengan saling kejar-kejaran serta siram air satu dengan yang lainnya.


"Woy, kalian kok gak ngajak gue? Tungguin!" omel Wendi bangkit dari tempat duduk dan ikut bergabung dengan mereka.


Leon hanya menatap mereka dari pinggir pantai, bibirnya terangkat kala melihat Afifa yang tertawa juga senyum bahagia.

__ADS_1


Diambilnya handphone yang ada di saku dan membuka kamera, difotonya kembali Afifa tanpa diketahui oleh wanita itu.


"Oh, iya. Aku mau nanya, dong. Dulu aku pingsan di sebelah mana, sih, duduknya?" tanya Afifa sambil mengusap wajah.


"Tuh, lu pingsan di situ," tunjuk Kanaya sambil merangkul bahu Afifa.


Afifa menyipitkan mata dan melihat ke arah pantai itu, 'Ternyata, aku sama Mega sama-sama di pantai waktu itu? Mangkanya kita bisa berpindah, ya?' batin Afufa menatap.


"Untung aja tadi lu gak duduk di situ, kalau duduk di situ bisa berabe."


"Kenapa?" tanya Afifa menatap ke arah Megi.


"Ya, ditakutkan lu malah pingsan lagi."


"Apaan, sih? Ada-ada aja kamu tuh," kata Afifa menggelengkan kepala dan tersenyum sambil kembali menatap tempat itu.


"Oh, iya, ujian akhir sekolah kapan, sih?"


"Katanya sih 6 bulan lagi."


"Wah ... 6 bulan lagi kita akan berpisah, dong?"


"Kata siapa kita akan pisah? Berbeda kampus bukan berarti akan pisah, 'kan?" timpal Wendi.


"Bener, sih, tapi kita akan sibuk banget pasti sama kuliah kuta dan gak ada waktu buat kumpul," ujar Kanaya menatap satu per satu wajah temannya.


"Lu mau kuliah di mana Mega?" tanya Megi membuat Mega menatap ke arahnya.


Ia menaikkan bahu acuh, "Gak tau aku, yaudah, yuk! Kita pulang aja, udah mau malam juga soalnya.


Intinya, di mana pun kita kuliah nanti harus saling support satu sama lain dan jangan pernah musuhan.


Minimal bertemu sebulan sekali gak ada salahnya, 'kan? Pasti bisa kalau emang rindu, sih. Karena, ketika kita rindu dan menjadikan orang yang kita rindui itu sebagai prioritas.


Mau gimana pun sibuknya kita, padatnya jadwal kita. Akan mencari cara agar bisa bertemu dengan mereka minimal 5 menit," ungkap Afifa membuat mereka semua mengangguk.


"Bener, sih!"


"Yaudah, kita pulang, ya!"


Mereka akhirnya beranjak dari air dan naik ke daratan di mana ada Leon yang masih saja duduk sambil sibuk dengan handphone-nya.


"Kak," panggil Afifa.


"Iya?" tanya Leon sambil mendongak.

__ADS_1


"Udah, pulang, yuk!" ajak Afifa dengan bibir yang sudah pucet.


"Tunggu bentar, ya. Baju kalian sebentar lagi datang, gak mungkin kalian pulang basah-basah gini," ungkap Leon sambil berdiri.


"Ih, sosweet banget sih Kak Leon?"


"Iya, nih, perhatian banget sama kita semua."


"Gue baik karena gak mau mobil gue basah dan kotor karena kalian, bukan perhatian apalagi sosweet segala!" terang Leon pergi lebih dulu meninggalkan mereka.


"Dih, dasar! Gak ada manis-manisnya kalo ngomong," cetus Kanaya.


"Lu kira omongan dia minuman? Yang ada manis-manisnya, gitu?" debat Wendi.


"Udah-udah, syukur dia mau ngasih kita baju baru hahaha," kata Megi menengahi mereka.


Sedangkan Afifa hanya diam dan menatap ke arah Leon pergi tadi yang punggungnya saja sudah tak terlihat.


'Kadang, aku sampe terpukau sama Kak Leon. Tapi, kadang aku sampe marah dan gak habis pikir sama dia. Sebenarnya dia itu gimana sih orangnya?


Aku ingin mengenal dia lebih dalam. Namun, semesta tak pernah memberi izin aku untuk melakukan itu.


Seharusnya, aku tak jatuh hati ke seseorang yang tak tahu hatinya untuk siapa,' batin Afifa mengalihkan pandangannya.


Leon ikut ke depan kamar mandi perempuan, sebenernya Afifa sudah melarang ia sebab ada Megi juga Kanaya di dalam kamar mandi.


Namun, dirinya menolak dan kekeh ingin ikut sampai depan kamar mandi perempuan saja.


"Nanti, lu kenapa-kenapa lagi. Gue khawatir sama lu, ini udah kedua kali lu itu di celakai di kamar mandi!"


"Ciee ... ada yang khawatir, nih," ejek Kanaya yang sudah cengar-cengir dengan Megi.


Afifa langsung menatap tajam ke arah mereka agar bisa diam, "Tapi, Kak gak perlu ikut juga. Kakak mau nanti dituduh sebagai pengintip?" gertak Afifa.


"Biarin, biar gue tanya sama mereka secantik apa sih wajahnya sampai pede banget kalo gue mau ngintip dia," balas Leon yang malah santai saja.


"Udah kali woy, biarin aja Mega. Udah kedinginan, nih, gue. Ntar, gak dikasih Kak Leon lagi bajunya sama kita pada cuma gara-gara gak dikasih ikut doang," gerutu Wendi yang sudah memeluk dirinya sendiri dengan bibir bergetar.


"Yaudah, deh! Iya, Kakak ikut ayo!" pasrah Afifa mau tak mau.


"Nah, gitu dong!" seru Leon menang. Afifa hanya mendumel melihat sikap laki-laki tersebut.


Mereka akhirnya berjalan bersama ke arah kamar mandi wanita yang tersedia di pantai.


Dibuka Megi papar bag yang diberikan Leon padanya tadi, di situ sudah ada pakaian untuk mereka bertiga.

__ADS_1


"Anj*i, Kak Leon the real sultan banget gila! Ini baju dan ********** mahal-mahal banget astaga!


Kalau ada yang muda kaya raya? Buat apa nyari sugar dady, ya?" tanya Megi full senyum mneyenggol lengan Afifa.


__ADS_2