
"Kita mau ke mana?" tanya Afifa kepada teman-temannya sedangkan Leon berada di samping.
"Kita nonton, yuk!"
"Nonton? Nonton apa?" beo Afifa yang belum paham.
"Apa aja, kita liat nanti apa yang ada film hari ini tayang. Habis itu, kita main di time zone sekalian foto-foto," jelas Kanaya menatap ke arah Afifa.
"Oke!" celetuk Wendi juga Megi secara bersamaan.
Sedangkan Afifa melihat ke arah Leon sebentar untuk meminta pendapat, "Kak, boleh?" tanya Afifa menatapnya.
"Ngapain nanya ke gue?" tanyanya dengan ketus.
"Ya, 'kan Kakak yang minta izin tadi ke Mama artinya semua harus atas izin dari Kakak sekarang. Boleh atau enggak?"
Dengan wajah yang malas akhirnya Leon memberi izin, dirinya juga ikut mau tak mau sebab karena dialah Afifa bisa ada di mall saat ini.
Saat sedang antre tiket, ada seorang laki-laki di depan Afifa menatap ke arah dirinya tanpa henti dan beberapa kali menggodanya.
"Mau nonton apa Dek?"
"Belum tau," jawab Afifa dengan menampilkan kerisihan.
"Sama siapa di sini? Boleh Abang temenin?" tawarnya menaik-turunkan alisnya.
Afifa memilih diam dan membuang pandangan, tak mau menjawab agar tidak dikira merespons godaannya itu.
"Sombong banget, sih? Jangan sombong-sombong, ntar Abang makin cinta, lho."
"Dek," panggilnya kembali.
"Hey, Dek."
Saat tangannya ingin menyentuh Afifa, tangan Leon lebih dulu menghadang sedangkan Afifa sudah ketakutan. Takut jika ia disentuh oleh laki-laki di depannya sekarang.
Bugh!
Bugh!
"Aaaaa."
"Kak, udah Kak!"
"Dia bukan ******, Anj*ng! Lu kira di apaan, ha?" maki Leon dan terus memukul laki-laki itu hingga membuat orang-orang ketakutan.
__ADS_1
Satpam yang berjaga juga turun tangan untuk melerai mereka berdua, Wendi menarik Leon agar menjauh.
"Awas lu, ya!" tekan laki-laki tadi pergi dengan wajah yang sudah penuh dengan bogeman.
Leon merapikan pakaiannya, "Gue gak takut sama lu Anj*ng!" maki Leon menantang laki-laki tadi.
"Udah, Kak udah," harap Afifa yang ketakutan. Sudut bibir Leon berdarah akibat terkena bogeman dari laki-laki tadi.
Wendi membantu Leon untuk duduk di bangku tunggu bioskop lebih dulu, "Kakak tunggu di sini, ya, Mega mau beli obat dan minum dulu," titah Afifa yang ingin bangkit dan pergi ke lantai bawah.
"Enggak, lu jangan pergi! Bisa jadi dia ada di bawah!" kata Leon mencegah Afifa.
"Yaudah, kalau gitu biar gue aja yang belikan. Kalian tunggu di sini dulu, ya," ucap Kanaya. Mereka semua akhirnya mengangguk dan membiarkan Kanaya pergi.
"Gue sama Megi beli tiketnya aja, ya, kalian gak usah ikut. Nanti gue pilih yang kita deketan, kok," timpal Wendi.
"Gak usah jadi deh nontonnya, Mega mau pulang aja," tolak Afifa yang sudah takut sebab Leon.
"Lu batalin nonton karena gue? Aelah, lu kira gue selemah itu apa? Udah, jadi sana nontonnya," ujar Kak Leon menatap ke arah Afifa yang sudah menatap sendu laki-laki di depannya kini.
"Kak itu sakit, lho. Mending kita berobat habis itu pulang Kakak istrahat aja, gak usah nonton."
"Dih, lebay banget lu. Uhuk! Gue ini laki-laki, gak perlu kayak gitu deh." Leon memegangi perutnya dan menyandarkan tubuh ke tembok.
"Yaudah, kami antre lagi deh, ya, Kak. Lu ditemenin sama Mega aja, ya."
"Kak, jangan tutup matanya dong. Aku takut soalnya," bisik Afifa membuat perlahan mata Leon membuka dan wanita itu kembali menjauh.
Leon menatap ke arah Afifa dengan wajah datarnya dan menegapkan badan, "Lu kayak bukan Mega yang gue kenal, deh. Sejak kapan lu peduli banget sama gue? Biasanya kalo lu liat gue berkelahi sama orang lain, lu gak peduli tuh."
Afifa yang merasa terpojok menatap ke arah lain, "Ya, itu, 'kan Kakak berkelahi bukan buat lindungi aku. Kali ini beda, Kakak lindungi aku bukan buat gak jelas berkelahinya," jawab Afifa asal yang padahal dirinya tak tahu Leon berkelahi untuk apa.
"Oh, ya?" tanya Leon menaikkan sebelah alisnya.
"Apaan, sih?" protes Afifa kesal dan memanyunkan bibirnya.
Leon hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala, tangannya masih memegangi perut yang dirasa sedikit sakit.
"Kenapa Kak? Sakit, ya?"
"Enggak."
"Lah, kalau enggak kenapa di pegangi?"
"Mangkanya itu, di pegang karena ngerasa heran. Biasanya juga akan sakit rasanya, ini kok enggak. Apa jangan-jangan karena nolongin lu, ya?"
__ADS_1
"Apaan, sih? Gak nyambung banget! Kenapa jadi karena aku, coba?" gelagap Afifa yang salting akibat ulah Leon.
Leon mendekat ke arah Afifa, "Gak perlu salting gitu, malu diliatin orang pipi lu sampe merah begitu," bisiknya tepat di telinga Afifa dan menjauhkan dirinya kembali.
Terasa darah Afifa langsung mengalir dengan cepatnya akibat ulah Leon yang membuat dirinya menjadi aneh seketika.
"Apaan, sih!"
Tawa Leon pecah melihat wajah Afifa yang berubah menjadi malu seperti itu akibat godaannya.
Tak lama, Kanaya datang dengan membawakan P3K juga air mineral untuk Leon.
"Maaf, ya, lama. Soalnya rame banget antri di kasir," jelas Kanaya menyerahkan P3K-nya ke Afifa.
"Iya, gak papa, kok. Makasih, ya."
"Oke, gue beli makan buat dibawa pas nonton dulu, ya."
Afifa mengangguk dan tersenyum sembari melihat punggung Kanaya yang menjauh, dirinya langsung membuka P3K mencari kapas serta obat merah.
"Saran gue, kalo lu mau aman dari orang-orang yang kek tadi. Jangan mudah senyum dan menjawab pertanyaan gak bermutu kayak tadi," usul Leon membuat Afifa menatap ke arahnya.
Afifa mengangguk, "Iya, Kak. Makasih buat sarannya."
Tangan Afifa terangkat berniat ingin mengompres bekas lukanya tadi, "Kak, izin, ya. Aku mau obati bibirnya itu."
Leon hanya mengangguk, "Tahan dikit, ya, Kak," sambung Afifa dan memberikan obatnya ke bibir Leon.
Leon menatap ke arah Afifa yang fokus mengobati lukanya, wanita itu tampak begitu sangat cantik kala fokus.
"Kenapa Kak?" tanya Afifa saat mengetahui bahwa Leon menatap ke arahnya.
"Ha? E-enggak, gak papa," gelagap Leon menatap ke arah lain.
Tanpa Leon sadari, Afifa tersenyum melihat perlakuan laki-laki di depannya.
'Jangan sampai jatuh cinta Afifa, aku gak boleh jatuh cinta sama Kak Leon. Tau, 'kan gimana kalau Abah sampai tau?
Tapi, kita, 'kan gak tau ke depannya gimana? Bisa jadi, Kak Leon akan menjadi laki-laki baik. Eh, apaan sih Afifa? Kamu mikir apaan?' batin Afifa menggelengkan kepala.
"Heh, lu kenapa?" tanya Leon yang langsung membuyarkan lamunan Afifa.
"Eh, gak papa kok Kak," jawab Afifa cepat, "sakit, gak?"
"Enggak."
__ADS_1
Afifa kembali mengobati lukanya dengan hati-hati sambil menunggu; Wendi, Megi dan Kanaya melakukan tugas mereka masing-masing.